Kamis, 24 Desember 2009 | 17:35 WIB BANYUMAS, KOMPAS.com - Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi akan segera menutup program studi yang tidak terakreditasi. Mahasiswa dan dosen pada program studi yang ditutup akan disalurkan ke program studi yang lain. Penutupan tersebut, menurut Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Fasli Jalal, akan segera dilaksanakan. Pada periode 2012-2013, seluruh program studi yang tidak terakreditasi sudah harus ditutup. "Hal ini sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah nomor 19, tahun 2005, tentang standar nasional pendidikan," katanya usai menghadiri Seminar Kewirausahaan di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Kamis (24/12/2009).
Sejak dikeluarkannya PP tersebut, Fasli mengatakan, pemerintah sudah memberikan tenggang waktu sampai tujuh tahun bagi setiap perguruan tinggi untuk berusaha mendapatkan akreditasi pada setiap program studi. Hingga akhir 2009 ini, ternyata baru separuh dari 15.000 program studi di seluruh perguruan tinggi di Indonesia yang terakreditasi. "Sampai sekarang masih ada 7.500 program studi yang belum terakreditasi," ucapnya. Sebagian besar program studi yang belum terakreditasi itu ada di perguruan tinggi swasta. Hanya sebagian kecil program studi di perguruan tinggi negeri yang belum terakreditasi, kurang dari lima persen. Umumnya, yang belum terakreditasi pada PTN itu adalah program studi baru. Dalam proses evaluasi program studi ini, lebih lanjut Fasli mengatakan, seluruh program studi yang belum terakreditasi akan diseleksi. Program studi yang sama sekali tidak berkualitas, akan ditutup. Namun bagi program studi yang masih memiliki potensi cukup baik, dan hanya belum memenuhi standar minimal akreditasi, maka akan dicarikan pengampunya. Pengampu tersebut adalah program studi pada PTS/PTN yang akreditasinya A. Pengampu tersebut juga yang akan mengeluarkan ijazah. Setelah diberikan pembinaan satu sampai dua tahun, program studi yang berada di bawah pengampu dapat mengajukan re-akreditasi kembali. "Kalau dapat akreditasi, program studi tersebut bisa mandiri. Tetapi kalau tidak, harus ditutup," jelas Fasli. Dalam rangka memberikan kesempatan re-akreditasi bagi setiap program studi, Fasli mengatakan, pemerintah telah menyediakan dana cukup besar untuk mendanai akreditasi bagi 3.500 program studi pada tahun 2010. "Sisanya yang belum terakreditasi akan di lanjutkan pada tahun 2011," terangnya. MDN Editor: made http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/12/24/1735103/Program.Studi.Tidak.Terakreditasi.Segera.Ditutup..
Program Studi Tidak Terakreditasi Segera Ditutup
Hanya Lima PTN yang Raih Akreditasi A
Hanya Lima PTN yang Raih Akreditasi A Submitted by admin on Thu, 12/04/2008 - 16:24 Tanpa Akreditasi, Tidak Boleh Luluskan Mahasiswa Kamis, 4 Desember 2008 | 00:57 WIB Bandung, Kompas - Kesiapan perguruan tinggi untuk membangun sistem penjaminan mutunya dinilai masih sangat minim. Dari 55 perguruan tinggi yang mengikuti akreditasi institusi tahap I, hanya lima di antaranya yang telah meraih nilai sangat baik atau A. Kelima perguruan tinggi itu adalah Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Menurut Sekretaris Eksekutif Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Adil Basuki Ahza, Rabu (3/12), di Bandung, tidak ada kaitan perolehan nilai A ini dengan reputasi internasional yang kebetulan dimiliki kelima perguruan tinggi negeri (PTN) ini. ”Tidak berkaitan dengan status kelas dunia. Tapi, secara faktual, kita tidak bisa membohongi diri kalau kelima perguruan tinggi ini punya kualitas lebih,” ungkap Basuki Ahza.
Ia melihat, ketidaksanggupan perguruan tinggi lain meraih nilai A lebih karena faktor ketidaksiapan diri. Serta, belum membangun sistem penjaminan mutu yang memadai. Belum berani dinilai Tahun 2008 ini, bahkan masih banyak perguruan tinggi yang belum berani dinilai. Dari kuota 50 perguruan tinggi yang dinilai, hanya 30 di antaranya yang terisi. Dan, hanya 25 yang lolos untuk dilakukan site visit (visitasi asesor). Visitasi dilakukan Desember ini. Untuk itu, Badan Akreditasi Nasional (BAN PT) berancang- ancang menghentikan sementara proses akreditasi ini di tahun depan. Padahal, ia mengatakan, setiap program studi maupun perguruan tinggi negeri wajib untuk mengikuti akreditasi. ”Mereka (perguruan tinggi) lupa bahwa perguruan tinggi bisa kena pidana jika tidak segera memiliki akreditasi. Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, jika perguruan tinggi tidak terakreditasi, maka perguruan tinggi tersebut tidak boleh meluluskan mahasiswa,” ujarnya. Menurutnya, ketentuan ini akan efektif berlaku selambat- lambatnya tahun 2012 mendatang. Di dalam Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Penyelenggaraan Pendidikan, ucapnya, bahkan disebutkan, hanya perguruan tinggi berakreditasi minimal B yang bisa meluluskan mahasiswa. ”Lulusan bisa menuntut penyelenggara program studi, dekan, atau rektor apabila klaim tentang akreditasi tidak betul dan mereka tidak bisa lulus,” kata Basuki Ahza. Meski demikian, perguruan tinggi diperbolehkan mengajukan ulang penilaian setelah dua tahun pengajuan pertama, asalkan ada jaminan perbaikan. Dalam kesempatan yang sama, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Prof Sunaryo Kartadinata mengakui, hasil akreditasi institusi sangatlah bergantung faktor kesiapan tiap perguruan tinggi. Namun, ia melihat, akreditasi institusi ini tidak lebih penting daripada akreditasi yang ada di tiap-tiap program studi. Sebab, ujung tombak akademik justru ada di program studi. UPI saat ini memperoleh akreditasi B meski kampus ini sekarang memiliki aset gedung mewah bernilai sekitar Rp 500 miliar. (jon)
CREATING A TEAM
Dibuat dan disadur oleh : MM53
Suatu tim dibentuk dengan menspesifikasi suatu tujuan dan juga dengan cara merancang suatu keanggotaan yang mempunyai atau berkeinginan untuk mengembangkan kapabilitas yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut. Kapabilitas yang relevan sangat dibutuhkan untuk melakukan tugas tim dan juga untuk membuat anggota dapat bekerja sama secara efektif.
Sebelum mulai bekerja, sebuah tim harus menetapkan beberapa pertanyaan. Pertama, kemana tujuan sebuah tim dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut where is the team headed and what must it do to get there? Hal ini berarti penetapan tujuan (goal) tim, memastikan bahwa seluruh anggota tim mempunyai tujuan yang sama, dan meidentifikasi tugas apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Kedua, siapa saja anggota sebuah tim (who are the team members) ? Ini berarti mengidentifikasi kemampuan dan pengalaman serta mendeterminasi apakah hal tersebut akan dapat membantu tim dalam mencapai tujuannya. Penyesuaian perlu dilakukan apabila kemampuan dan pengalaman anggota tim tidak mencukupi untuk mencapai tujuan tim. Ketiga, bagaimana tim akan melakukan pekerjaannya (how will the team do its work) ? Hal ini membutuhkan pengembangan dalam kebijakan-kebijakan mengenai bagaimana anggota tim bekerja sama untuk mencapai tujuan. Kebijakan ini berasal dari konsep saling ketergantungan dan kontras dengan saling ketergantungan antar anggota. Keempat, apa yang memperkuat prestasi/kinerja tim (what enhance the team’s performance) ? Hal ini memperlihatkan bagaimana faktor-faktor yang memfasilitasi tingginya kinerja ditetapkan dan di dukung, dan bagaimana factor yang mengurangi kinerja dihindari. WHERE IS THE TEAM HEADED? “Kemana tujuan sebuah tim” berarti “apakah yang menjadi tujuan (goal) tim”. Pertanyaan ini dimaksudkan untuk menetapkan visi dari tujuan yang ini diraih sebuah tim, hal ini pulalah yang mengikat sebuah tim dan membuat mereka tetap bersatu selama proses pencapaian tujuan. Namun hal ini kadang kala sering tidak dilakukan, artinya seringkali anggota tim merasa bahwa tujuan mereka sudah jelas dan sejalan sehingga mereka meneruskan tanpa berdiskusi. Walaupun tim telah diberikan definisi tujuan secara jelas, tetap terdapat kemungkinan ada anggota tim yang keliru. Tim yang diberikan tujuan yang tidak jelas, akan menyebabkan seluruh anggota keliru dan tidak menyadari tujuan tersebut. Hal ini akan menyebabkan ketidak efektifan dalam menjalankan tugas yang akan membuat tim menyimpang dari tujuan sebenarnya. Oleh karena itu setiap anggota tim harus mengerti dengan benar apa yang menjadi tujuan tim. Selain itu setiap anggota tim harus menyadari bahwa tujuan dapat diraih dalam tingkat kualitas yang berbeda-beda: rendah, rata-rata, atau tinggi. Tim harus menentukan tingkat mana yang harus mereka raih. Menentukan langkah yang terbaik untuk mencapai tujuan dapat menjadi suatu tantangan tersendiri, biarpun tim tersebut sudah diberikan tugas tertentu secara jelas. Kata “terbaik” pada konsep diatas dapat diartikan sebagai: paling efisien, paling memuaskan untuk seluruh anggota tim, keterampilan dan pengalaman anggota yang paling tepat, dan yang paling mungkin untuk meraih visi dari tim. WHO ARE THE TEAM’S MEMBERS? Membentuk suatu tim terdiri dari dua proses, yaitu pada saat anggota yang bersifat individu menjadi suatu unit pelaksana (yaitu tim), sedangkan proses kedua adalah pada saat tim tersebut mulai untuk mengejar suatu tujuan. Untuk dapat melaksanakan kedua proses tersebut, maka dibutuhkan dua tipe keterampilan/keahlian, yaitu: Keterampilan ini dibutuhkan untuk menjalankan tugas tertentu yang harus dilakukan dalam upaya mencapai tujuan. Contoh: keterampilan bermain musik yang harus dipunyai oleh pemusik. Keterampilan ini memungkinkan anggota untuk dapat saling berinteraksi dalam rangka memudahkan pengerjaan tugas dan kemajuan dalam meraih tujuan. Keterampilan sosial diharapkan dapat membuat anggota tim untuk berdiskusi untuk menentukan keterampilan apa yang harus mereka sumbangkan, bagaimana cara terbaik untuk mengkoordinasi kegiatan mereka, dan bagaimana cara terbaik untuk memecahkan masalah mengenai perbedaan pendapat.Bermacam-macam keterampilan sosial sangat dibutuhkan dalam menjalankan sebuah tim, termasuk didalamnya adalah keterampilan pengambilan keputusan, pemecahan masalah, negosiasi, tawar-menawar, perencanaan, dan komunikasi, serta keterampilan untuk menjalankan rapat yang produktif. Pengalaman bisa berguna maupun tidak berguna untuk tim baru tergantung dari apa yang telah dipelajari oleh anggota kelompok. Pengalaman positif yang dahulu pernah diperoleh dapat menjadikan individu mengerti seberapa efektif suatu tim bekerja. Akan tetapi pengalaman dapat pula memberikan akibat negative apabila pengalaman itu berisi ketidakpuasan atau bahkan mungkin kegagalan. Tidak semua pengalaman nersifat relevan, seberapa bergunanya pengalaman tergantung dari apa yang dipelajari orang tersebut dan seberapa baik pengalaman tersebut untuk digunakan dalam situasi yang baru atau berbeda. Langkah tim dalam mencapai tujuannya melibatkan pengerjaan tugas oleh setiap anggota yang menggerakkan tim menuju tujuannya. Kerjasama tim biasanya dapat dilihat dari tingkat saling ketergantungannya. Saling ketergantungan merupakan jantung dari kerjasama tim. Hal inilah yang menjadi tim dengan rasa ketergantungan menjadi lebih baik dibandingkan sekelompok orang dengan jumlah anggota yang sama namun bekerja secara individual. Akan tetapi rasa saling ketergantungan yang efisien bisa jadi sangat sulit untuk diperoleh dan dijaga. Terdapat tiga ilustrasi skenario mengenai dampak dari rasa saling ketergantungan: Sebuah tim dengan anggota lima orang diharapkan untuk menyelesaikan laporan tentang lima produk dari lima perusahaan yang sedang bersaing. Pada skenario ini, semua anggota tim berkumpul dan memutuskan bahwa setiap anggota masing-masing menganalisa satu perusahaan dan produknya. Dalam skenario ini ada dua anggota yang bekerja lebih lama dari anggota lainnya, sedangkan satu orang kesulitan dalam mencari informasi. Setelah semua selesai, laporan-laporan tersebut dijadikan satu. Hasilnya adalah (dengan skala 0 – 10, 0 berarti gagal dan 10 berarti sukses) nilai 10 untuk menyelesaikan laporan 5 untuk kualitas, dan 4 untuk lama waktu pengerjaan. Sama seperti pada skenario 1, masing-masing anggota diminta menganalisa satu perusahaan. Bedanya, dalam tim ini dipilih satu ketua yang kemudian merumuskan dua panduan dalam bekerja. Pertama, adalah kerjasama antar setiap anggota melalui berbagai cara yang memungkinkan, sehingga tercapai kualitas yang tinggi dalam waktu yang singkat. Kedua, bagi anggota yang mempunyai keterampilan dan pengalaman untuk menggunakan kemampuannya untuk membantu anggota yang lain. Hasil yang didapat adalah 10 untuk menyelesaikan laporan, 8 untuk kualitas, dan 9 untuk waktu pengerjaan. Hampir sama seperti skenario 2, yaitu masing-masing anggota membuat laporan tentang satu perusahaan dan juga dipilih satu ketua tim. Akan tetapi pada scenario ini, banyak hal-hal yang merugikan kerjasama tim. Pertama, adanya anggota yang kurang puas karena tidak terpilih menjadi ketua, padahal dia merasa lebih berpengalaman, hal ini menyebabkan dia enggan untuk berbagi dengan anggota lainnya. Selain itu salah satu anggota lebih condong membantu tim lain, karena dia merasa bahwa di tim tersebut lebih penting untuk peningkatan karirnya. Berdasarkan kondisi tersebut, maka terjadi penurunan kinerja dan meningkatkan frustasi di dalam tim. Hasil yang dicapai tim ini adalah 10 untuk menyelesaikan tugas, 3 untuk kualitas laporan, dan 2 untuk waktu penyelesaian. yaitu adalah tujuan tersembunyi yang dipunyai oleh anggota tim untuk dirinya sendiri, yang bukan merupakan tujuan utama dari tim tersebut. Hal ini dapat menimbulkan dampak negatif bagi performa tim. Terdapat dua cara untuk mengembangkan dan menjaga rasa saling keterkaitan: Hal ini mengacu kepada bagaimana tugas tim atau akitivas yang berhubungan dengan tugas diatur guna meningkatkan rasa saling ketergantungan. Ketergantungan secara struktural dapat dibagi dua: ketergantungan diantara anggota tim dapat dibangkitan melalui beberapa strategi yang melibatkan bagaimana tim menjalankan tugasnya: Perlengkapan dapat menciptakan saling ketergantungan. Sebagai contoh, dalam suatu permainan yang terdiri dari dua orang, satu orang bertugas untuk mengendalikan kemudi, sedangkan yang lainnya bertugas mengendalikan rem. Hal ini tentunya harus ada saling ketergantungan agar dapat berjalan dengan baik. Menetapkan tanggung jawab ke seluruh anggota tim untuk meraih tujuan tim. Hal ini merupakan tanggung jawab bersama. Sebagai contoh, pelatih atletik memberikan hukuman kepada seluruh anggota tim apabila ada sebagian dari mereka yang tidak mencapai standar latihan yang diberikan. Strategi ketiga melibatkan peraturan yang dapat meningkatkan rasa saling ketergantungan. Sebagai contoh, peraturan dapat menetapkan tentang perlunya untuk membagi sumber daya, saling membantu antar sesama, bergantian giliran, memilih jawaban terbaik yang dihasilkan tim. Aturan mengenai bagaimana sumber daya yang berbeda akan digunakan oleh anggota tim dalam rangka mengembangkan rasa saling ketergantungan. Apabila masing-masing anggota tim hanya mempunyai satu keterampilan untuk mengerjakan tugas, maka saling ketergantungan/kerjasama adalah esensi untuk menyelesaikan tugas tersebut. Anggota tim harus membantu satu sama lain. menyangkut masalah mengenai apakah hasil akhir merupakan kerja tim secara keseluruhan atau kerja tim secara individual. Hasil akhir dapat dijadikan sarana untuk meningkatkan saling ketergantungan. Apabila pengukuran hasil akhir mereflesikan performa tim sebagai satu kesatuan, dibandingkan performa secara individu, maka rasa saling ketergantungan menjadi meningkat. Selain itu penugasan disertai dengan imbalan untuk tim secara keseluruhan juga akan meningkatkan rasa saling ketergantungan. Contohnya adalah pemberian bonus untuk seluruh anggota tim, peningkatan gaji untuk seluruh anggota tim. Namun untuk dapat mencapai hal tersebut, maka saling ketergantungan harus dapat diciptakan terlebih dahulu. Karena itu sebaiknya tim menetapkan beberapa aturan berikut: Setiap anggota tim saling membantu dengan cara memberikan kritik, baik secara verbal maupun tertulis. Selain itu, tim harus mengenali perbedaan keterampilan dari setiap anggotanya, tim juga harus menetapkan bahwa keterampilan masing-masing anggota harus bisa membantu anggota lainnya yang membutuhkan. Masing-masing anggota tim harus pula berkonsultasi dengan karyawan lain di divisi mereka, lalu hasil konsultasi tersebut dibagikan pula ke seluruh anggota tim dalam diskusi tim. Desain dan laporan, yang merupakan karya dari tim, harus diakui dan dipresentasikan sebagai produk dari tim. Apabila bonus diberikan sebagai kompensasi dari hasil kerja, maka harus diberikan kepada tim sebagai satu kesatuan bukan hanya kepada anggota yang berprestasi saja, apabila hal ini dilakukan maka rasa saling ketergantungan akan semakin meningkat. Behavioral Interdependence Hal ini berfokus kepada seberapa banyak rasa saling ketergantungan secara aktual terjadi. Terdapat pula indikasi bahwa perilaku untuk saling ketergantungan (behavioral interdependence) bisa jadi tidak berhubungan dengan bagaimana tugas ataupun hasil performa yang telah disusun sebelumnya. Karena walaupun tugas dan hasil yang ingin dicapai disusun sedemikian rupa guna meningkatkan rasa saling ketergantungan, respon masing-masing individu bisa bermacam-macam dalam menerapkan hal tersebut. Sebagai contoh, meskipun rencana tugas telah dirancang untuk memperoleh rasa saling ketergantungan secara optimal, satu atau dua anggota mungkin saja menolak dan bertindak secara individu. Sebagai konsekuensinya, menaksir seberapa besar tingkat ketergantungan dan tingkat individualisme sangat penting dilakukan. Keterlibatan anggota adalah penting untuk setiap prestasi kelompok, terutama ketika para anggota kelompok bebas. Satu anggota dalam kelompok bila tidak dilibatkan dapat mengganggu segala proses orientasi tujuan kelompok. Tidak adanya keterlibatan anggota kelompok tidak hanya kehilangan untuk kelompok, yang melibatkan anggota kontribusi untuk meraih tujuan kelompok, itu juga menghasilkan kemarahan di dalam kelompok yang lain, sering kali menghasilkan sesuatu penurunan yang menyeluruh didalam usaha. Kepuasan atau ketidakpuasan dapat diperoleh dari satu atau kombinasi dari sumber: Adanya harapan dari masing-masing anggota kelompok untuk bergabung dalam satu kelompok. Anggota mendapat pengalaman yang puas dan / atau tidak puas . kepuasan dapat dating dari penggunaan suatu keahlian untuk memajukan kelompok kearah tujuan, dari pembelajaran keahlian baru, atau dari meningkatkan apa yang telah ada. pertimbangan adaah pengalaman anggota’ megetahui dan mengenalikontribusi lainnya untuk prestasi kelompok. sumber utama dari kepuasan, ketika tujuan kelompok adalah mencapai pada atau diatas tingkat keinginan dari kualitas. Perbedaan anggota karakteristik kelompok. Anggota akan memilih karena secara implicit atau eksplisit mereka berbeda. Mereka mempunyai keahlian yang berbeda, perbedaan pendapat, perbedaan kepribadian, dan perbedaan latar belakang. Dimana perbedaan adalah sumber dari kekuatan, itu juga menantang. Perbedaan dalam tafsiran dari tujuan kelompok harus menjadi identifikasi dan tunggal, membagi secara bersama perspective pengembangan. Perbedaan aktivitas relevan untuk mencapai tujuan kelompok harus diidentifikasi dan dikoordinasikan pada kebiasaan dimana fasilitas tujuan prestasi. ilustrasi, point kunci siapa yang sering memilih dan merancang yang memiliki asumsi aturan kepemimpinan, beberapa dari mereka pitfall untuk menghindari dalam menujukan masalah perilaku poses. Pertama adalah untuk kelompok untuk menujukan kesalahan. Kedua untuk anggota kelompok bertanya untuk berubah pada peningkatan performa kelompok dan mencapai tujuan lebih dari pada menyakiti personal. Ketiga adalah untuk kelompok lainnya untuk focus pada peningkatan performance dan mencapai tujuan lebih dari pada menyatakan setiap kegagalan orang lain. Akhirnya, yang sangat penting untuk memberi selamat kepada anggota kelompok siapa yan mengatakan untuk berubah, kapan berubah, yang mana dapat melambat dalam datang, dan benar-benar terjadi. Komunikasi anggota adalah pada hati dari prestari kelompok yang efektif. Komunikasi yang efektif memungkinkan kelompok untuk mengalamatkan masalah yang menjadi penghalang untuk koordinasi aktivitas anggota. Ini artinya dimana anggota perusahaan mendukung pada semua kekuatan lainnya. Ini bagaimana konflik dan keuntungan adalah dialamatkan pada kalkuan yang positif. Ini bagaimana memberikan pengakuan untuk kelompok lainnya.Hubungan anggota adalah karakteristik dengan komunikasi. Jika interaksi adalah task-orinted, discussion akan menjadi kira-kira memerlukan aktivitas untuk mencapai tujuan kelompok dan bagaimana anggota akan kelakuan aktivitas lainnya. Dengan kata lain, proses perencanaan tim. Jika angota kelompok tidak berorientasi pada tugasnya, mereka mungkin mendiskusikan dari setiap variasi topic. Pada kasus lainnya, pengamatan pada hubungan komunikasi. Struktur komunikasi diantara anggota kelompok sangat diharapkan. Variasi dalam frequensi pengiriman dan penerimaan pesan tidak merugikan pada performa kelompok sepanjang perbedaan dalam jumlah pembicaraan yang tidak begitu baik. Ketika perbedaan datang sangat baik, ini ketika beberapa anggota kelompok berbicara dan membicarakan pada seringnya dan berbicara lainnya dan dengan jarangnya pada pembicaraan yang ekstrim tidak semua, performa kelompok seperti menjadi negative dibuat-buat. Ukuran kelompok dapat mempunyai pengeruh pada performance kelompok salah satunya secara langsung atau tidak langsung kepada beberapa proses yang meliputi tingkat partisipasi anggota, kesulitan dari mencapai consensus, dan tantangan pada kepemimpinan. Dengan luas pembicaraan , sebagai ukuran kenaikan–kenaikan kelompok, sumber daya yang ada untuk kelompok. Meningkatnya sumber daya dapat bermaksud pada besarnya keahlian kelompok, ilmu pengetahuan, dan dari pengalaman untuk digambarkan. Lingkungan kelompok selalu berpengaruh. Satu kelompok melaksanakan dalam lingkungan, secara umum besarnya organisasi , kadang memiliki investasi yang baik pada kelompok menuju kebarhasilan tujuan. Lingkungan dapat mempengeruhi performance kelompok. Banyak factor dalam lingkungan kelompok dapat fasilitas atau menghalangi performance kelompok. Ini sering khusus untuk keterangan tertentu kelompok. Ada 4 cara dalam memilih lingkungan kelompok dapat mempengaruhi performance dalam kekhususan pada tujuan kelompok dan tingkat kualitas pengharapan; pada penyediaan sumber daya, meliputi personil untuk mengejar tuuan; pada tingkat dukungan untuk mengarahkan proses tujuan kelompok; dan pada evaluasi dan penghargaan untuk produk yang menghasilkan dari tujuan kelompok menuju keberhasilan. Pengaruh nya membutuhkan untuk menjadi pertimbangan sebagai kelompok menciptakan dan memproses tujuan, sejak masing-masing dapat secara signifikan mempunyai pengaruh yang kuat pada performance kelompok.
Corporate Social Responsibility dan kasus yang berkaitan
Corporate Social Responsibility dan kasus yang berkaitan
Dosen : DR Titus Tjandra Disadur : MM 53 PELAJARAN YANG DIPEROLEH Materi yang kita peroleh selama mata kuliah seminar bisnis dosen tamu pak Titus, yaitu terdapat poin-poin penting antara lain adalah CSR,
Moral dan kasus – kasus yang membuka mata kita betapa sebuah aturan dan kerjasama yang tidak lazim dapat merugikan negara yang dapat berdampak langsung kepada rakyat kecil. Pertama pembahasan menegani CSR, terdapat tiga syarat yang harus dilakukan agar tanggung jawab social dapat dipenuhi oleh setiap perusahaan, yaitu: 1. a. Sadar dan mengetahui mana hal yang baik dan yang buruk. b. Sikap rasional manusia dewasa. 2. Kebebasan tanpa paksaan/tanggung jawab moral. 3. Kemauan dan bersedia untuk melakukan. Adapaun poin-poin yang berkaitan dengan tanggung jawab social perusahaan yaitu: 1. Kepentingan masyarakat luas; dengan cara mengurangi ketimpangan social dan menegakkan keadilan social. 2. Perkembangan bisnis modern => keterlibatan social disamping keperluan ekonomi => penekanan terhadap citra. 3. Aturan hukum dalam masyarakat => menghindari kekacauan yang timbul di masyarakat. 4. Memperhatikan hak dan kepentingan stakeholders. Seperti yang kita ketahui bahwa saat ini tanggung jawab sosial perusahaan Indonesia masih sangat rendah, yang tentunya akan membawa Indonesia dalam keterpurukan, hal tersebut dipengaruhi oleh berubahnya gaya hidup atau sikap dari masyarakat Indonesia, yang semula gotong royong dan musyawarah mulai bergeser dan memudar jiwa kebersamaan tersebut akibat dari pengaruh dan kesenjangan yang tidak seimbang di masyarakat, 3 sikap yang muncul di masyarakat modern Indonesia adalah : 1. Egoistik. 2. Materialistik. 3. Individualistik. Dijelaskan oleh Pak Titus, bahwa ketiga gaya hidup atau sikap diatas akan menimbulkan sikap hedonistik (keserakahan), yang menyebabkan masyarakat menjadi mudah tidak puas, maruk dan mementingkan dirinya sendiri tanpa mau memikirkan tanggung jawab sosial dan kepentingan bersama, hal ini juga berlaku pada banyak perusahaan belakangan ini, akibat dari ketatnya persaingan tidak sehat. Salah satu yang tidak lazim dalam mengambil keuntungan tidak wajar dengan merampok negara adalah kasus BCA yang berhubungan dengan kasus BLBI. Oleh karena itu, tanggung jawab sosial sangat penting, agar tidak terjadi kehancuran dalam segala aspek, termasuk dunia bisnis. Menurut survey NACE (National Association of Colleges and Employers) USA, sekarang ini dalam dunia usaha yang dibutuhkan bukan lagi IQ yang tinggi, namun kemampuan untuk berkomunikasi dan kejujuran atau integritas. Keseimbangan diantara kedua hal tersebut diperlukan. Karena tanpa IQ perusahaan tidak akan berjalan dengan baik, tetapi tanpa EQ perusahaan akan mencapai kebobrokan dan kecurangan yang tidak disadari oleh kita selama ini. Berikut kita akan mencerikan kasus yang dibahas dalam seminar bisnis. MATERI PEMBAHASAN CSR, kita sudah sering mendengar hal tersebut, namun tidak ada yang mengerti makna sesungguhnya dari CSR tersebut, rata-rata hanya mengangap CSR tersebut adalah perbaikan lingkungan, tetapi tidak sekedar itu saja, CSR adalah menyangkut segala aspek baik lingkungan, sosial, hubungan setiap individu, penghematan dan banyak lagi. Oleh karena itu mari kita jabarkan yang dimaksud dengan CSR. Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggungjawab sosial perusahaan merupakan sebuah konsep yang mendukung perusahaan untuk menyadari adanya keterikatan dalam lingkungan sosial dengan mempertanggungjawabkan akibat dari aktivitas perusahaan kepada customers, employees, shareholders, communities and the environment dalam segala aspek. CSR (Tanggung Jawab Sosial) adalah mengenai:
1. Bagaimana mengelola bisnis yang memberikan dampak positif terhadap masyarakat.
2. Bagaimana memenuhi kebutuhan dan harapan pemegang saham dan pemangku kepentingan
3. Pengelolaan resiko dan reputasi
4. Investasi terhadap sumber daya dimana perusahaan akan bergantung
Beberapa alasan yang mendukung adanya program CSR di dalam perusahaan , yaitu :
1. Adanya pengaruh globalisasi dan internasionalisasi yaitu adanya tekanan dari negara lain, terutama mitra dagang yang menetapkan kondisi yang harus diikuti perusaahaan local, maka bila tidak produk eksport nya akan ditolak.
2. Jenis usahanya terutama perusahaan yang bergerak dalam usaha eksplorasi alam (SDA) melakukan CSR lebih disebabkan tekanan lembaga swadaya masyarakat (LSM) sehingga perusahaan melakukan penyeimbangan sebagai dampak pencemaran lingkungan dengan melakukan reklamasi alam , reboisasi, pengelolaan limbah. Hal tersebut hanya sebagai topeng untuk melegalkan dan mengamankan operasional perusahaan agar tidak dikritik masyarakat.
3. CSR dilakukan dalam bentuk pemberian fasilitas kepada pekerja atau para guru bukan atas kesadaran perusahaan melainkan adanya ancaman mogok atau unjuk rasa.
4. CSR dilakukan perusahaan sebatas pemberian sumbangan, hibah, bantuan untuk bencana alam yang sifatnya momentum yang dianggap mampum menbentuk citra dan reputasi di masyarakat.
Saat ini, dalam kehidupan dalam dunia kerja, sosial dan lainnya kejujuran dan keadilan menjadi faktor yang sulit diperoleh, semua akibat dari keserakahan manusia terhadap apa yang ingin diperolehnya. Oleh karena itu pendidikan dan pemahaman mengenai pengetahuan dan nilai filosofi harus seimbang. Sehingga setiap individu memeliki moral yang baik dan tidak menghalalkan segala cara yang tidak lazim untuk memperoleh apa yang diinginkannya.
Pro dan kontra dari CSR yang diterangkan oleh pak Titus dalam seminar bisnisnya. Yang Pro terhadap perkembangan CSR yaitu karena : 1. Kebutuhan dan harapan masyarakat yang berubah yaitu Kualitas dan harga 2. Terbatasnya sumber daya alam maka harus tetap dipelihara. 3. Lingkungan sosial yang baik memerangi pengangguran, sehingga mengurangi kriminalitas. 4. Perimbangan tanggung jawab dan kekuasaan. 5. Karyawan sebagai aset perusahaan. 6. Keuntungan jangka panjang. Yang kontra terhadap CSR karena : 1. Mengejar laba yang sebesar-besarnya. 2. Bila tidak fokus akan membingungkan. 3. Biaya sosial begitu besar. 4. Kurangnya tenaga terampil.
Antara pro dan kontra, menurut kita dalam konteks CSR, kita bisa mengambil makna bahwa sesuatu yang positif membutuhkan pengorbanan, dari segi biaya, tenaga dan waktu. Perlu diketahui juga saat di dunia kerja membutuhkan tenaga kerja yang jujur dan pandai berkomunikasi, karena jika tidak hanya akan menimbulkan permasalahan dalam perusahaan tersebut. Berikut adalah kriteria harapan dari tekanan dunia usaha kepada pekerja yaitu : No. HARAPAN SKOR 1. Kemampuan berkomunikasi 4,69 2. Kejujuran/Integritas 4,59 3. Kemampuan bekerja sama 4,54 4. Kemampuan interpersonal 4,50 5. Etos kerja yang baik 4,46 6. Memiliki motivasi & inisiatif 4,42 7. Mampu beradaptasi 4,41 8. Kemampuan Analitikal 4,36 9. Kemampuan komputer 4,21 10. Kemampuan berorganisasi 4,05 11. Berorientasi pada detail 4,00 12. Kemampuan memimpin 3,97 13. Percaya diri 3,95 14. Berkepribadian ramah 3,85 15. Sopan / beretika 3,82 16. Bijaksana 3,75 17. IPK > 3,0 3,68 18. Kreatif 3,59 19. Humoris 3,25 20. Jiwa entrepreneurship 3,23 Hasil survei NACE (National Association of colleges and employers) USA. Skor dengan skala 1-5 ( 5 tertinggi). Kemampuan berkomunikasi menjamin, setiap usaha team menghasilkan performa dan relasi yang lebih baik. Oleh karena itu kemampuan berkomunikasi menempati posisi tertinggi pada harapan dunia kerja. Top 5 yang di harapkan dari perusahaan yaitu : 1. Kemampuan berkomunikasi 4,69 2. Kejujuran/Integritas 4,59 3. Kemampuan bekerja sama 4,54 4. Kemampuan interpersonal 4,50 5. Etos kerja yang baik 4,46 Jika dihubungkan dengan kinerja perusahaan tentu saja akan baik, namun belum tentu maksimal jika tidak didukung faktor lain yaitu poin 6 sampai 20, kesemua hal tersebut harus saling mendukung dalam dunia kerja dan usaha. BLBI Apakah itu BLBI, jika kita bertanya mengenai hal tersebut tentu yang ada dalam benak kita adalah bantuan dalam hal keuangan untuk menyelamatkan perusahaan. Dalam team kami, melihat BLBI itu suatu pemborosan yang tidak terselesaikan. Mari kita telusuri awal mulanya terjadi BLBI. Pertama hal yang terjadi pada saat itu adalah peraturan perundangan yang baru yaitu pakto 88 yaitu paket oktober 88, dimana peraturan tersebut memberikan kemudahan kepada setiap individu untuk membangun bank dengan hanya bermodal 10 milyar, maka pada saat tersebut terjadi pendirian bank sebanyak 200 bank. Kesalahan mulai terjadi dimana pendirian bank adalah para pemilik usaha yang mempunyai hutang di bank nya sendiri sehingga rasio dan neraca tidak sesuai, dimana fungsi bank sebagai alat untuk menyimpan dan meminjamkan dana untuk usaha di luar demi perkembangan usaha atau intermediasi malah digunakan untuk keperluan pribadi yang berhubungan dengan usahanya mencapai 95% dari dana yang ada. Hal tersebut sungguh merugikan rakyat kecil, dimana uangnya digunakan oleh penguasa-penguasa bank tersebut dengan resiko yang tidak jelas. Lalu pada tahun 1997 terjadilah krisis ekonomi, dimana merupakan dari dampak dari ekonomi di asia. Sehingga mata uang rupiah terpuruk terhadap mata uang asing. Akibatnya hutang-hutang luar negeri menjadi membengkak dan tak terkendali. Pada akhirnya akan nasabah yang menabung di bank menarik dananya secara besar-besaran di bank. Akibatnya bank-bank kecil yang pendiriannya tidak kokoh terjadi kekosongan kas dan menjadi bank tidak sehat. Sehingga nasabah tidak percaya lagi kepada bank. Karena banyak bank terjadi rush, pemerintah demi menyelamatkan bank-bank agar dimata international tidak semua bank hancur selama masa krisis moneter. Maka pemerintah mengeluarkan BLBI.
Seperti yang diterangkan oleh pak Titus, disini mulanya terjadi ketidakwajaran dalam bantuan dana tersebut seperti yang terjadi pada kasus BCA. Dalam kasus BCA pada awalnya dari pemberian bantuan kepada BCA sebesar 32 trilyun. Jumlah tersebut dibayarkan secara bertahap yaitu sebesar 8 trilyun, 13,28 trilyun, dan 10,71 trilyun. Dari jumlah ini yang telah dibayarkan oleh BCA adalah cicilan utang pokok sebesar 8 trilyun dan pembayaran bunga sebesar 8,3 trilyun yang tingkat bunganya ketika itu sangat besar yaitu 70 % per tahun. Pada waktu itu sebesar 8 trilyun yang mengurangi utangnya hanya hutang pokoknya saja. Pembayaran bunga, walaupun sebesar Rp. 8,3 trilyun dengan tingkat bunga yang 70 % setahun. Jadi sisa utang BCA kepada BLBI oleh pemerintah dianggap sebesar Rp. 23,99 trilyun. Jumlah ini dianggap setara dengan 92,8 % dari nilai saham-saham BCA. Maka kepemilikan BCA sebesar ini disita oleh pemerintah sebagai pelunasan utang BLBI. Ternyata didalam BCA, keluarga salim pemilik BCA sebelumnya memiliki utang kepada BCA sebesar 52,7 trilyun dan bukan utang BLBI. Dimana uang ini pada saat pemilik BCA masih memegang BCA menggunakan uang tersebut untuk pembangunan usahanya. Dikutip dari skema slide pak Titus, bahwa untuk melunasi sisanya hutang kepada BCA keluarga Salim tidak memiliki uang tunai. Maka dibayarlah dalam skema Pelunasan Kewajiban Pemegang Saham (PKPS) yang wujudnya Master Settlement and Acquisition Agreement (MSAA) dengan uang tunai sebesar Rp. 100 milyar dan 108 perusahaan. Yang menentukan bahwa penyelesaian atau settlement seperti ini bagus dan absah adalah pemerintah sendiri. Yang menentukan bahwa nilai 108 perusahaan memang sebesar Rp. 51,9 trilyun adalah pemerintah sendiri. Dalam penentuan ini, pemerintah menggunakan jasa Danareksa, Bahana dan Lehman Brothers. Kita membaca di media massa sangat terkemuka berbagai uraian dari para akhli Danareksa dan Bahana yang dianggap sangat-sangat pandai dan mesti betulnya. Lehman Brothers bahkan menyatakan secara tertulis bahwa nilainya 108 perusahaan tersebut terlampau kecil, dengan selisih angka sebesar Rp. 204 milyar. Jadi menurut Lehman Brothers, pembayaran utang oleh Salim sebesar Rp. 100 milyar tunai ditambah dengan 108 perusahaan nilainya Rp. 53,204 trilyun, atau kelebihan Rp. 204 milyar dibandingkan dengan utangnya. Namun pendapat Lehman Brothers tentang yang kelebihan Rp. 204 milyar ini tidak dianggap atau tidak digubris oleh pemerintah. Selisih penilaian dari 108 perusahaan yang semula Rp. 52,8 trilyun oleh Bahana, Danareksa dan Lehman Brothers kemudian dinilai oleh Price Waterhouse Coopers (PWC) dengan titik tolak penjualan “paksa” tidak lebih lambat dari tanggal tertentu. PWC tiba pada angka Rp. 20 trilyun saja. Titik tolak dan asumsi ini tertuang dalam Letter of Intent dengan IMF. Dalam prakteknya keseluruhan 108 perusahaan ternyata memang hanya laku dijual dengan nilai sekitar Rp. 20 trilyun saja.
kami melihat banyak sekali keganjilan dari harga beli dan jual yang berjarak cukup jauh, padahal tim audit dari perusahaan ternama bisa memiliki hasil audit yang sangat berbeda, kenapa hal tersebut tidak di selidiki oleh pemerintah saat ini, untuk menguak apa yang sebenarnya terjadi pada BCA dengan dana BLBI nya saat itu, dan lagi-lagi BCA bisa-bisanya dengan mudah berpindah tangan ke pemilik asing. Berarti sekenario ini sudah dirancang dari awalnya sampai titik akhir ke tangan orang yang telah direncanakan. Sekali masalah ini siapa lagi yang dirugikan jika bukan rakyat kecil. Keserahkahan manusia terhadap kepemilikan, dana, kekuasaan membutakan bahwa tindakan tersebut telah mencelakakan negara dan rakyat kecil, akibatnya bangsa Indonesia tidak akan pernah menjadi negara maju karena tidak adanya dana yang mendukung tindakan sosial yang lebih.
APPLIED TECHNICAL ANALYSIS on Magister Manajemen IBII (institut bisnis dan informatika indonesia)
EXECUTIVE SUMMARY The emergence of a global marketplace is placing pressure upon the educational establishment create programs that prepare people who are deaf to achieve social and economic equity in the changing marketplace. This group participates in an ongoing discussion on educational practices in which relevant to our unit subjects. However, this Project Inclusion, through the creation of a unique course, attempts to formalize this effort for the participating countries.
Traditional environmental theories and policy practices are based upon the assumption that natural ecosystems are balanced, integrated, stable and in equilibrium. Recently, several students and some lecturers have subjected this assumption to severe criticism. That criticism bears grave and far-reaching implications for environmental theories and policy. For example, wilderness management practices, the pressure of being a critics investor, the Global Economic Treaty and regulation. The essential task of this research project will be three fold: 1. To examine and clarify the meaning of the concepts and theories and thus determining just what is, and is not, entailed by these theories that use as a guidelines in our applied technical analysis. 2. To examine the methodology of both contending between the investor and the issuer the adequacy of the evidence and the strength of inference offered in support of their activities. 3. On the basis of (1) and (2) to articulate the implications (if any) and gain a better understanding about practices that are based upon the concepts and assumptions, where we are being prepared for and with that such a kind of situations. FUTURE UNIT SUBJECT AND LEARNING OBJECTIVE In relation with our subjects, which are Investment and Risk Analysis and Banking and Capital Markets, where for those subjects will be given in the second semester, herewith this proposal we like to applied a technical orientation in order to synchronize and gain a better understanding for the both of unit subject. In this proposal, we would like to proposed an extracurricular program where this program is inline with the unit subject and according to our expectation, this activity will improve and sharpen our skill especially which related to the applied business situation. CHAPTER OBJECTIVE We would like to perform this program (an applied analysis) of what, why and how the investment want to invest either in a whole just a small portion their source of capital in the capital markets by making analysis and judging the economic situation and conditions in Indonesia . The pressure and trade-off they have to make and choose, the under pressure situation in our Banking and Capital Markets activities. Therefore, we also want to gain a better understanding where with this applied technical extracurricular from both of the sides of investment activities either from the investor and the issuer through a sharing of experience, they wise opinion and they analysis which based on the situation where sometimes happened in case by case situation or the unpredictable case from our lecturers they self and also from the others. SUPPORT FROM IBII Our extracurricular program will be more relating to the unpredictable markets in Indonesia and one of the markets, which prevailed in all around the world, where it defined into two units subject of markets where one of them is the Capital Markets itself. Since the Capital Markets plays a major role in our activities and also in our proposed programs, we as the students of Post Graduate Management Program known that our university have that kind of facility where it usually used to create, simulate and act just like the trading activities in the real Capital Markets. Relating to that facility, herewith this proposal we would like to have your permission and also your kind cooperation with us in order to grant a complete and full access to our class to use the facility in order to synchronize our program and studies, so our objective will be completed. PRELIMINARY EVALUATION PLAN 1. Internal Staff reviews Each time the lead faculty meet (..........), they will review progress made in the preceding three months, check the list of tasks completed against a project master plan (to be developed as a first order of business by the students itself) and discuss the forward movement of the project. If data indicate that any modifications are in order, those modifications will be discussed and made. 2. Evaluator Review Review of the technical and curricular aspects of the project will be conducted by an external evaluator(s) drawn from the participating universities. The evaluator will insure that the highest standards are being maintained. The evaluator(s) will review all aspects of the curriculum design, the quality of the instructional technology used, the quality of the materials developed and selected for the project, and the dissemination plan. 3. Faculty Perceptions It is extremely important to sample the perceptions of the project faculty over the life of the project. Since knowledge and attitudes change over time, it is easy to forget or ignore the frustrations and problems that arise early in the development and implementation of a new project. However, such problems and frustrations must be identified and, whenever possible, remedied. If not, implementation efforts may be doomed to failure. The faculty will be interviewed each year by the evaluator(s) and recommendations for changes in the curriculum development and implementation process will be recommended. 4. Documentation and Review of Instructional Units "Units" of instruction will be reviewed (if NECESSARY, a random selection of representative materials will be drawn) to determine Appropriateness of content and Overall instructional quality. 5. Baseline Student Data Measuring student outcomes is one of the more difficult evaluation issues of this project. However, the project faculty will collect baseline information that will help them examine changes in student knowledge about the models used in participating countries and how these models might be changed to improve the circumstances of deaf pupils in their respective countries. Project faculty will identify appropriate baseline measures, document them and publish them for students as a first order of business in the first year of the project.
Foto komunitas magister manajemen IBII
komunitas magister manajemen ibii
Selamat datang dalam komunitas magister manajemen IBII 53
Read More......forum komunitas MM IBII 53
untuk dapat saling terhubung, para mahasiswa MM IBII angkatan 53 mengadakan forum untuk saling interaksi antar para mahasiswa Magister Manajemen Institut Bisnis dan Informatika Indonesia angkatan 53. forum tersebut adalah : www.ibii.co.cc please enjoy it... thank u... Moderator MM IBII 53
Read More......