Penulis : Johana Halim, SE, dibuat sebagai PAPER SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Seperti yang sudah diketahui bahwa pada umumnya tenaga kerja selalu berusaha dengan keras dalam melaksanakan aktivitas kerjanya. Tetapi usaha kerasnya tersebut akan diperoleh balas jasa yang memuaskan kepada tenaga kerja tersebut. Namun jika balas jasa yang diberikan tidak memuaskan maka para tenaga kerja tidak akan berusaha dengan keras dalam melaksanakan aktivitasnya.
Di setiap perusahaan, baik pada skala kecil, menengah dan besar imbalan balas jasa kepada karyawan selalu merupakan hal fundamental bagi karyawan perusahaan bersangkutan. Dan di jaman serba modern ini ilmu pengetahuan, teknologi, organisasi, transportasi terus berkembang ditambah lagi dengan pemikiran kritis terhadap keadilan sosial dalam hubungan antarmanusia maka isu kompensasi makin menjadi kompleks. Karena itu dalam pengendalian manajemen, harus diterapkan sistem imbalan yang fair atau sesuai untuk karyawan atas kerja kerasnya.
Dalam praktik, banyak sistem kompensasi yang tidak dihubungkan dengan prilaku manusia agar mengarah pada tujuan organisasi atau memberikan balas jasa yang bertentangan dengan pelilaku untuk pencapaian tujuan. Manajemen dan dewan komisaris harus merancang rancana kompensasi insentif bagi para tenaga kerja sehingga dapat menghindari kesalahan dalam pemberian insentif dan bonus.
Manajemen organisasi biasanya menghadapi masalah dalam memotivasi manusia yang bekerja dalam organisasi agar mereka mengarah pada pencapaian tujuan stakeholders atau keuntungan maksimal. Manajemen organisasi mau mencapai tujuan stakeholders, jika tujuan pribadinya juga tercapai. Salah satu tujuan manusia bekerja dalam organisasi adalah untuk memperoleh kompensasi atau balas jasa. Balas jasa adalah gaji dan tunjangan yang diberikan pada para karyawan, yaitu mencakup gaji pokok dan tunjangan langsung maupun tidak langsung misalnya bonus, bagian laba, pensiun, asuransi jiwa, kendaraan, perumahan, pengobatan, makanan-minuman. Balas jasa merupakan intensif untuk mencapai tujuan pribadi para karyawan. Jika dihubungkan masalah kompensasi ini dengan sistem pengendalian manajemen, kompensasi memberikan pengaruh besar dalam menjalankan suatu usaha atau organisasi. Karena setiap individu berpacu melaksanakan prestasi yang terbaik untuk organisasi demi mendapat pembalasan jasa yang setimpal. Oleh karena itu pengendalian manajemen secara berkesinambungan berhubungan dengan masalah kompensasi. Termasuk makin tinggi tingkat tanggung jawab, tugas dan pengawasan maka makin tinggi pula tingkat kompensasi yang didapat. Setiap individu termotivasi jika menerima laporan umpan balik mengenai kinerja, sehingga tujuan perusahaan atau organisasi tercapai dan mencapai keselarasan tujuan.
PERUMUSAN MASALAH
Berdasasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : HUBUNGAN SISTEM KOMPENSASI KARYAWAN DENGAN EFEKTIVITAS PENGENDALIAN MANAJEMEN PERUSAHAAN
KAJIAN TEORI
Kompensasi bagi manajemen terdiri dari gaji, bonus, dan fasilitas yang diberikan kepada manajemen sebagai imbalan terhadap waktu, tenaga, dan fikiran yang dicurahkannya kepada perusahaan. kompensasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu kompensasi resmi (kompensasi yang diberikan perusahaan) dan kompensasi tidak resmi (kompensasi yang diterima dari rekan kerja, misalnya pengakuan tentang prestasinya). Kompensasi yang diatur dapat diatur secara taktis dapat membantu timbulnya keselarasan tujuan antara manajemen dengan pemilik. Selain itu kompensasi yang menarik juga berperan dalam usaha merekrut tenaga yang berprestasi, karena tenaga yang berprestasi menginginkan kompensasi yang tinggi. Peranan kompensasi yang lain adalah untuk mempertahankan tenaga yang berprestasi.
Disamping gaji, manajemen diberi bonus karena beberapa alasan, pertama, bonus dapat meningkatkan kinerja manajemen. Kedua, bonus merupakan sarana untuk menjaga agar manajer yang baik tidak pindah ke perusahaan lain. Terakhir adalah manajemen dapat mengatur dan menentukan kompensasinya sendiri.
Fasilitas bagi manajemen dapat berupa rumah, mobil, kantor, makan siang, hotel, pesawat terbang, dll. Fasilitas tersebut membuat hidup manajemen menjadi lebih nyaman dan kadang-kadang menajemen tidak harus membayar pajak penghasilan. Dilihat dari segi pajak, fasilitas mobil tersebut dipakai dalam menjalankan kegiatan perusahaan. sudah tentu, undang-undang pajak tidak akan mengetahui bila mobil tersebut di gunakan untuk keperluan pribadi begitu juga dengan fasilitas lainnya dengan catatan perusahaan tidak keberatan dengan hal tersebut.
Dasar penetapan kompensasi. Hal yang melandasi dasar penetapan kompensasi bagi karyawan adalah isu-isu sebagai berikut : (Edy Sukarno, 2002:246)
Jumlah kompensasi yang diperlukan untuk memelihara dan memperbaiki standar hidup pekerja
Tingkat kompensasi karyawan perusahaan dibandingkan kompensasi karyawan lain dengan derajat dan ketrampilan sama
Kapasitas perusahaan dalam memberikan kompensasi
Kompensasi Relatif
Dalam pengendalian manajemen harus di hayati bahwa, jika mobilitas karyawan bebas sepenuhnya, maka pembayaran upah relatif yang proposional dipicu oleh persaingan untuk mendapatkan pekerjaan. Bila karyawan tidak terdidik disuatu perusahaan menerima, katakanlah Rp.10.000,- perhari dan karyawan di perusahaan lain di wilayah industri yang sama memperoleh Rp.8.000,- perhari untuk pekerjaan dan kondisi pekerjaan serupa, maka pekerja dengan kompensasi yang lebih rendah akan pindah ke perusahaan yang memberikan kompensasi lebih tinggi, atau menuntut kenaikan kompensasi.
Katak Loncat (Leap Frogging)
Dalam kondisi pertumbuhan ekonomi yang tinggi, terjadi peluang kerja penuh, jika serikat pekerjanya kuat, upaya persamaan kompensasi dapat menciptakan proses yang dinamakan katak loncat. Implikasi katak loncat yakni kompensasi naik terus dan bisa jadi lajunya cukup tinggi. Andaikata kenaikan kompensasi ditutup oleh peningkatan produktivitas, laba, dan efesiensi biaya, maka tidak ada masalah bagi perusahaan. Namun, jika sebaliknya tidak tertutup, maka bisa berdampak kurang kondusif bagi perusahaan. Situasi ini akan memicu hubungan kompensasi “spiral harga” dan harga saling berkompetisi ke tingkat yang lebih tinggi.
Kompensasi insentif
Sistem tingkat upah potong sederhana dapat digunakan pada karyawan perorangan maupun yang bekerja sama dalam suatu pekerjaan. Kompensasi yang dibayarkan kepada pekerja merupakan rasio langsung dengan pekerjaan yang dilakukan.
Tingkat upah – potong differensial
Sistem ini terdiri dari dua tingkat upah potong. Yakni tingkat yang lebih tinggi dibayarkan kepada pekerja yang mencapai standar output tertentu, dan tingkat upah yang lebih rendah dibayarkan kepada pekerja yang tidak dapat mencapai standar tertentu. Misal standar keluaran 48 unit perhari dengan upah Rp150,- per unit dan tingkat Rp120,- per unit bagi yang tidak bisa mencapainya. Pekerja yang mampu membuat 48 unit akan menerima Rp.7.200,- sedang yang gagal menghasilkan, katakanlah hanya 34 unit akan menerima Rp.4.080,- konsisi demikian pasti akan memotivasi pekerja untuk menghindari upah yang lebih rendah.
Insentif dapat digolongkan menjadi dua yaitu :
Insentif positif, secara umum disebut balas jasa, yaitu hasil-hasil yang mengakibatkan pengingakatan kepuasan pemenuhan kebutuhan individu karyawan
Insentif negatif, atau disebut hukuman yaitu hasil-hasil yang mengakibatkan penurunan kepuasan pemenuhan kebutuhan individu karyawan.
Bentuk insentif ada dua yaitu :
Insentif keuangan
Insentif non keuangan
Cara pemberian insentif ada dua yaitu (Ru Supriyono, 2000:162) :
Insentif formal, yaitu insentif yang ditentukan berdasarkan tujuan, wewenang, tanggung jawab, standar, metode, dan frekuensi pengukuran kinerja tertentu secara formal
Insentif informal, adalah pengakuan kinerja oleh kelompoknya.
Kriteria yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan insentif formal adalah sebagai berikut:
ukuran-ukuran kinerja harus selaras dengan tujuan – tujuan stakeholders organisasi
para manajer harus dievaluasi kinerjanya berdasar variabel-variabel yang secara signifikan dapat dikendalikannya
ukuran-ukuran kinerja harus obyektif
ukuran – ukuran atau standar kinerja harus menantang namun memungkinkan untuk dicapai
insentif sebaiknya bersaing dengan yang ditawarkan oleh organisasi yang sebanding
sistem insentif hendaknya sederhana dan mudah diadministrasikan.
Sistem kompensasi memerlukan alat pengukur kinerja, alat pengukur kinerja yang baik mempunyai sifat (Ru Supriyono, 2000:163) :
keadilan
kesederhanaan
keterterimaan
ketercapaian
keefisienan, keefektifan dan keekonomisan
Alat –alat pengukur kinerja tersebut ditentukan oleh tujuan yang akan dicapai sehingga pengukur kinerja bisnis dapat disusun ke dalam empat perspektif, yaitu (Ru Supriyono, 2000:164) :
Perspektif keuangan
Tujuan
Ukuran kinerja
Bertahan hidup
Kesuksesan
Kemakmuran
Arus kas
Pertumbuhan penjualan dan laba per divisi
Peningkatan pangsa pasar dan kembalian modal
Perspektif konsumen
Produk baru
Pasokan yang responsif
Pemasok utama
Kemitraan dengan konsumen
Persentase penjualan produk baru
Persentase penjualan produk yang dimiliki
Penyerahan yang tepat waktu sesuai keinginan konsumen
Pangsa penjualan pada konsumen penting
Urutan penjualan pada para konsumen
Jumlah kerja sama dalam usaha perekayasaan produk
Perspektif bisnis internal
Kapabilitas teknologi
Keunggulan pemanufakturan
Produktivitas desain
Pengenalan produk baru
Tingkat teknologi pemanufakturan maju yang digunakan perusahaan dibandingkan para pesaingnya
Mutu, produk, biaya perunit, waktu daur, hasil
Efisiensi perekayasaan, efisiensi overhead, eliminasi aktivitas tidak bernilai tambah
Jadwal pengenalan sesungguhnya dibandingkan yang direncanakan.
Perspektif inovasi
Kepemimpinan teknologi
Daur pemanufakturan
Fokus produk
Waktu ke pasar
Waktu untuk mengembangkan teknologi generasi maju berikutnya
Waktu pengenalan, proses, sampai kematangan
Persentase penjualan produk tertentu yang relatif besar dibandingkan total penjualan semua produk
Waktu untuk pengenalan produk baru ke pasar di bandingkan para pesaingnya
Bonus Premi dan Bonus Tugas
Sistem insentif untuk mencegah pekerja bekerja dengan akselerasi berlebihan, dinamakan bonus premium dan tugas. Sistem ini menurunkan insentif sesudah keluaran melebihi denominator tertentu, sistem bonus mempunyai tiga karakteristik berikut:
Waktu standar ditentukan atas dasar produksi setara harian. Dibeberapa sistem, tugas tersebut relatif mudah dan bisa dikerjakan oleh sebahagian besar karyawan, sedang pada sistem lainnya tugas itu lebih berat dan hanya bisa dicapai oleh beberapa pekerja/karyawan
Bonus dibayarkan pada pekerja yang menyelesaikan tugas berdasar patokan waktu atau lebih singkat dari patokan tersebut. Selain bonus, pekerja juga menerima upah untuk waktu yang digunakan selama menyelesaikan tugas. Bonus dapat berwujud sejumlah uang, atau persentase dari tarif upah per jam dikalikan waktu yang dihemat, yakni selisih antara waktu yang dimanfaatkan aktual dan patokan waktu yang ditetapkan
Pekerja yang tidak dapat menyelesaikan tugas dalam waktu standar, dibayar dengan upah perjam. Karena itu pekerja tidak pinalti sebagai akibat tidak dapat mencapai standar. Nilai dan kegunaan dari sistem bonus tergantung pada kewajaran patokan dan upah yang dapat dicapai oleh pekerja dengan kemampuan setara tanpa harus bekerja terlalu cepat dan melelahkan.
Karakteristik rencana kompensasi insentif
Paket kompensasi total seorang manajer berisi tiga komponen sebagai berikut : (Robert N Anthony, 2003:136)
gaji
tunjangan
kompensasi insentif
kompensasi para manajer dalam perusahaan besar cenderung lebih tinggi daripada kompensasi dalam perusahaan – perusahaan kecil dan kompensasi dalam suatu perusahaan cenderung bersaing dengan perusahaan lain yang berada dalam industri yang sama, namun sulit menyamaratakan kompensasi manajemen secara umum.
Ketiga komponen kompensasi tersebut sifatnya saling tergantung, namun kompensasi insentif banyak berhubungan dengan fungsi (proses) pengendalian manajemen. Studi yang dilakukan terhadap pembayaran dan bonus yang diterima oleh 14.000 manajer di USA periode 1981 sampai 1985 sebanyak 70.284 observasi dari 219 organisasi menunjukkan bahwa, rata-rata besarnya bonus adalah 20% dari gaji pokok. Namun terdapat perbedaan yang besar antara perusahaan yang satu dengan lainnya, meskipun masih dalam satu industri. Perbedaan proporsi pembayaran bonus lebih besar daripada perbedaan proporsi gaji pokok. Ada tendensi bahwa perusahaan yang mempunyai kinerja keuangan yang lebih baik memberikan bonus dalam rasio yang lebih besar.
Menurut Robert N Anthony didalam buku sistem pengendalian manajemen terjemahan FX Kurniawan T bahwa rencana kompensasi insentif dapat dibagi menjadi dua yaitu:
Rencana insentif jangka pendek adalah rencana insentif yang didasarkan atas pencapaian kinerja dalam tahun tertentu
Rencana insentif jangka panjang adalah rencana insentif yang berdasarkan atas pencapaian kinerja jangka panjang. Biasanya berhubungan dengan harga saham biasa perusahaan.
Rencana insentif jangka pendek
Sistem ini mencakup :
Kelompok bonus secara total adalah sistem bonus yang ditentukan oleh para pemegang saham berdasar rumus tertentu untuk menentukan jumlah bonus yang dibayarkan dalam tahun tertentu. Rumus tersebut biasanya dihubungkan dengan :
Profitabilitas perusahaan secara menyeluruh untuk tahun tertentu atau jangka waktu yang lebih pendek daripada satu tahun
Besarnya kompensasi untuk para eksekutif yang dibayarkan oleh para pesaing perusahaan, sistem ini terdiri dari beberapa metode untuk menentukan besarnya bonus :
(1) bonus berdasarkan persentase tertentu dari laba
(2) bonus berdasarkan persentase tertentu dari laba setelah dikurangi return atas modal
(3) bonus berdasarkan persentase tertentu dari kenaikan laba tahun tertentu dibandingkan laba tahun sebelumnya
(4) bonus ditentukan dari perbandingan relatif profitabilitas perusahaan dengan industrinya
Carryovers
Sistem carryovers adalah sistem bonus yang memungkinkan komite bonus yang dibentuk oleh dewan komisaris untuk memindahkan sebagian bonus yang sudah ditentukan berdasar rumus tertentu ke tahun-tahun lainnya yang bonusnya lebih rendah dengan tujuan besarnya bonus setiap tahun relatif merata.
Keunggulan carryovers
lebih fleksibel
dapat mengurangi jarak perbedaan pembayaran bonus setiap tahun
Penangguhan pembayaran
Atau deferred payment adalah cara penentuan bonus dihitung setiap tahun namun pembayarannya pada para penerima disebarkan ke beberapa tahun.
Kelemahannya itu :
Bonus yang diterima tidak sesuai dengan kinerja tahun yang bersangkutan sehingga berdampak kecil pada motivasi
Jika seorang manajer keluar dari perusahaan tersebut, mungkin tidak diberi pembayaran bonus yang ditunda.
Rencana insentif jangka panjang
Digunakan untuk mencapai kinerja profitabilitas jangka panjang. Rencana insentif jangka panjang menunjukkan pertumbuhan nilai saham biasa. Insentif jangka panjang dapat didasarkan atas beberapa metode, pemilihan metode yang dipakai dipengaruhi oleh:
peraturan pajak penghasilan
perubahan perlakuan akuntansi
peraturan pasar modal
peraturan perseroan terbatas
Metode rencana insentif jangka panjang antara lain :
hak beli saham
Adalah hak yang diberikan kepada para manajer untuk membeli sejumlah saham pada atau setelah tanggal tertentu dimasa yang akan datang dengan harga yang disetujui pada saat hak tersebut diberikan. Biasanya harga ditentukan berdasarkan persentase tertentu dari harga pasar saham.
saham phantom
adalah saham sejumlah tertentu yang dibukukan oleh perusahaan untuk memberikan penghargaan (award) pada para manajer, dan saham tersebut hanya dibukukan saja tidak langsung diberikan kepada para manajer. Pada akhir jangka tertentu penghargaan ini dapat dibagikan pada para manajer dalam bentuk
kas
saham
kas dan saham
hak apresiasi saham
adalah salah satu bentuk penghargaan diberikan kepada para manajer berupa hak untuk menerima pembayaran kas berdasar kenaikan nilai saham dari saat pemberian penghargaan sampai dengan tanggal tertentu di masa yang akan datang. Insentif berdasarkan metode saham phantom dan hak apresiasi saham mempunyai persamaan sebagai berikut :
bonus yang diberikan dapat berbentuk kas
besarnya bonus dihitung dari selisih harga saham perusahaan
lebih menguntungkan para manajer penerima bonus karena tidak berisiko, bila dibandingkan dengan metode hak beli saham yang mempunyai risiko tinggi.
saham kinerja
Adalah sejumlah saham tertentu yang diberikan kepada para manajer sebagai penghargaan karena mereka dapat mencapai tujuan jangka panjang tertentu. Biasanya dinyatakan dalam persentase pertumbuhan laba per lembar saham selama jangka panjang tertentu. Dari semua metode, metode ini paling menguntungkan para manajer karena :
Faktor yang mempengaruhi bonus saham kinerja lebih dapat dikendalikan oleh para manajer daripada dalam metode-metode lainnya tersebut
Penghargaan berupa saham kinerja tidak tergantung pada kenaikan harga saham, meskipun kenaikan laba per saham dapat pula mempengaruhi kenaikan harga saham
Namun metode ini mempunyai kelemahan karena :
(a) bonus didasarkan pada pengukuran kinerja berdasar akuntansi sehingga kelemahan akuntansi sebagai alat pengukur kinerja melekat pada metode ini
(b) dalam kondisi-kondisi tertentu misalnya inflasi, keberhasilan para manajer dalam meningkatkan laba per lembar saham mungkin tidak memberikan sumbangan pada nilai ekonomi perusahaan.
unit-unit kinerja
adalah rencana pemberian bonus pada para manajer berupa pembayaran bonus kas atas pencapaian target-target jangka panjang tertentu. Metode ini merupakan kombinasi aspek-aspek metode hak apresiasi saham dan saham kinerja, metode ini bermanfaat bagi perusahaan yang sahamnya tidak dijual atau hanya sedikit yang dijual ke publik.
Teori agensi
Adalah teori yang berusaha untuk menjelaskan faktor-faktor utama yang harus dipertimbangkan dalam pendesainan kontrak-kontrak insentif untuk memotivasi para individu mencapai keselarasan tujuan. (RA Supriyono, 2000:184)
Teori agensi meliputi :
konsep teori agensi
Hubungan agensi adalah hubungan yang timbul antara satu pihak, disebut prinsipal, yang menyewa pihak lain, disebut agen, untuk melaksanakan sejumlah jasa, dan oleh karena itu, prinsipal juga mendelegasikan wewenang pembuatan keputusan pada agen. Salah satu elemen penting teori agensi adalah perbedaan preferensi atau tujuan antara prinsipal dan agen. Perbedaan preferensi dapat dikurangi melalui kontrak-kontrak insentif.
perbedaan tujuan prinsipal dan agen
teori agensi mengangap bahwa semua tindakan individu di dasarkan atas kepentingannya sendiri, oleh karena itu, timbul perbedaan antara tujuan prinsipal dan agen yaitu :
(1) agen dianggap menerima kepuasan tidak hanya dari kompensasi keuangan, namun juga dari kepuasan lain yang diperolehnya dari hubungan agensi. Dilain pihak, prinsipal dianggap hanya tertarik pada kembalian (return) keuangan yang tumbuh dari investasinya dalam perusahaan. kepuasan lain yang diinginkan agen dapat berbentuk
(a) waktu senggang
(b) kondisi kerja yang lebih baik
(c) menjadi anggota klub organisasi yang ekslusif
(d) fleksibilitas jam kerja
Bagi prinsipal, waktu senggang agen dianggap :
(e) berlawanan dengan usaha untuk meingkatkan nilai perusahaan; waktu senggang tidak menambah nilai
(f) preferensi agen terhadap waktu senggang terhadap usaha merupakan keengganan kerja (work adversion)
(g) agen yang tidak memberi usaha berarti pengelakan (shirking) tanggung jawab
(2) prinsipal
prinsipal dan agen mempunyai perbedaan dalam preferensi risiko. Prinsipal netral resiko, agen segan resiko. Prinsipal perusahaan biasanya terdiri dari banyak pemilik, mereka dapat mengurangi risikonya dengan mendiversifikasikan kekayaannya dan menjadi pemilik saham pada berbagai perusahaan. oleh karena itu, para pemilik tertarik pada nilai yang diharapkan atas investasinya sehingga relatif netral resiko. Dilain pihak, kekayaan utama agen biasanya tertumpu pada kemampuan pribadi yang dimilikinya. Agen sulit mendiversifikasikan kekayaan atau kemampuannya sehingga mereka segan risiko (risk averse)
tindakan agen yang tidak dapat diobservasi
konflik mengenai penghasilan lain-lain dapat dengan mudah diselesaikan jika prinsipal dapat memantau tindakan-tidakan agen. Perbedaan preferensi prinsipal dengan agen mengenai kompensasi dan penghasilan lain untuk agen dapat timbul jika prinsipal tidak dapat memantau dengan mudah tindakan-tindakan agen.
Asimetri informasi adalah situasi yang terbentuk karena prinsipal tidak memiliki informasi yang cukup mengenai kinerja agen sehingga prinsipal tidak pernah dapat menentukan kontribusi usaha-usaha agen terhadap hasil-hasil perusahaan yang sesungguhnya. Asimetri dapat timbul dalam beberapa bentuk :
(1) tanpa pemantauan, hanya agen yang mengetahui apakah ia bekerja dengan baik demi kepentingan prinsipal
(2) agen mungkin mengetahui lebih banyak mengenai perusahaan daripada prinsipalnya
(3) agen dalam melaksanakan tugasnya mungkin diarahkan oleh informasi pribadi.
Risiko moral (moral hazard) adalah kesengajaan agen untuk menyajikan informasi yang salah pada prinsipal. Risiko moral menimbulkan situasi yang mengakibatkan agen dikendalikan oleh motivasi untuk membuat kesalahan dalam menyajikan informasi pribadinya melalui sifat sistem pengendalian.
mekanisme pengendalian
Teori agensi menyatakan bahwa untuk menyelesaikan perbedaan tujuan dan asimetri informasi dapat digunakan dua cara pokok yaitu :
Pemantauan
Mekanisme pertama adalah pemantauan, prinsipal dapat mendesain sistem pengendalian yang dapat memantau tindakan-tindakan agen. Prinsipal mendesain sistem tersebut untuk membatasi tindakan-tindakan agen dalam meningkatkan kesejahterahannya dengan biaya yang harus ditanggung prinsipal. Sebagai contoh, sistem pemantauan yang dapat dilakukan prinsipal adalah meminta bantuan auditor
(1) prinsipal dapat menyewa akuntan publik guna melaksanakan pengauditan terhadap kewajaran laporan keuangan yang disajikan agen
(2) prinsipal dapat membentuk internal auditor untuk melaksanakan audit keuangan, kepatuhan dan kinerja agen. Audit kinerja bertujuan untuk menilai efisiensi, efektivitas, dan ekonomi agen dalam melaksanakan audit manajemen dan audit terhadap program perusahaan
(3) prinsipal dapat membentuk pengaudit internal yang berada dibawah tanggung jawabnya untuk melaksanakan audit keuangan, kepatuhan dan kinerja para manajer unit bisnis, audit kinerja terhadap para manajer unit bisnis dapat mencakup audit manajemen dan audit terhadap program unit bisnis.
Teori agensi berusaha untuk menjelaskan penyebab timbulnya hubungan agensi. Hubungan agensi berbeda memerlukan tingkat pemantauan yang berbeda. Sebagai contoh, efektivitas pemantauan meningkat jika tugas – tugas yang dilaksanakan oleh agen dapat ditentukan dengan baik dan informasi yang memberikan sinyal dapat digunakan untuk memantau dengan teliti. Namun, jika tugas-tugas tidak dapat ditentukan dengan baik atau tidak mudah dipantau, maka insentif pengontrakan menjadi lebih disarankan sebagai alat pengendalian.
Insentif
Besar kecilnya penghargaan yang diterima agen tergantung pada ukuran kinerjanya, agen dapat memperoleh insentif yang tinggi jika kinerjanya baik, dengan demikian agen berusaha untuk meningkatkan kinerjanya agar insentifnya tinggi dan sekaligus mencapai keselarasan tujuan dengan prinsipal.
Keselarasan tujuan adalah tujuan kinerja yang dapat memotivasi agen untuk bekerja dengan baik berdasar kemampuannya demi tercapainya tujuan prinsipal. Kontrak insentif memotivasi untuk bekerja demi kepentingan prinsipal.
Tidak ada pengaturan insentif yang dapat menjamin keselarasan tujuan dengan sempurna, hal ini disebabkan karena :
(1) perbedaan preferensi risiko antara prinsipal dan agen
(2) asimetri informasi
(3) biaya pemantauan
Meskipun sistem intensif yang efisien dapat mengurangi perbedaan kepentingan, namun masih tersisa perbedaan yang disebut rugi residual (residual loss). Rugi residual adalah perbedaan kepentingan prinsipal dan agen yang tidak dapat ditiadakan dengan menggunakan sistem insentif. Dengan demikian biaya agensi meliputi :
a. biaya kompensasi insentif
b. biaya pemantauan
c. rugi residual
Kompensasi
Biaya agensi mencakup kompensasi insentif. Salah satu kompensasi insentif untuk agen adalah bonus hak membeli saham. Pemberian bonus hak beli saham menimbulkan masalah-masalah sebagai berikut:
(1) Perbedaan preferensi risiko antara prinsipal dan agen
(2) Kurangnya hubungan sebab-akibat secara langsung antara usaha-usaha agen dan perubahan harga saham
Manajer unit bisnis dan insentif berdasar akuntansi
Sulit untuk menentukan kontribusi yang dibuat oleh manajer unit bisnis secara individual dalam meningkatkan harga saham perusahaan. kesulitan tersebut menyebabkan bonus untuk para manajer unit bisnis mungkin didasarkan pada laba bersih unit bisnis. Namun kontrak insentif berdasarkan laba bersih untuk manajer unit bisnis masih mempunyai kelemahan-kelemahan :
(1) masih menimbulkan biaya agensi sebagaimana dalam rencana kepemilikan saham oleh agen
(2) agen mungkin sengaja membesar-besarkan laba melalui manipulasi akuntansi yang sebenarnya tidak menambah nilai perusahaan
(3) meskipun kontrak berdasarkan laba bersih unit bisnis mungkin mengakibatkan biaya agensi yang rendah daripada berdasarkan gaji tetap, namun biaya agensi tidak menjadi nol.
ANALISIS
Sebuah sistem kompensasi dikatakan efektif apabila dalam menghadapi suatu masalah, Keputusan manajemen sama dengan keputusan pemilik perusahaan. dalam hal demikian, kepentingan manajemen dan pemilik adalah sama.
Agar efektif, sistem kompensasi harus dikaitkan dengan variabel-variabel yang menjadi minat pemilik perusahaan, misalnya laba, pangsa pasar, aliran uang masuk, penemuan produk baru, keunggulan disain, dan sebagainya. Agar sistem kompensasi adil bagi manajemen, ada yang berpendapat bahwa variabel – variabel tersebut harus merupakan variabel yang dapat dikendalikan oleh manajemen. Akan tetapi ada juga yang berpendapat bahwa variabel yang tidak dapat dikendalikan oleh manajemenpun dapat dimasukkan ke dalam sistem kompensasi . konsep keadilan akan terusik tetapi manajemen akan menjadi tertarik dengan variabel tersebut. Akan tetapi, jika variabel tersebut jauh di luar jangkauan kemampuan manajemen, mungkin sekali sistem kompensasi akan membuat manajemen putus asa.
Hasil riset terhadap insentif menunjukan bahwa (Ru Supriyono, 2000:163) :
para individu cenderung lebih termotivasi oleh insentif positif daripada insentif negatif sehingga sistem pengendalian manajemen sebaiknya berorientasi pada insentif positif
insentif pribadi sifatnya situasional. Intensif moneter merupakan salah satu alat untuk memuaskan kebutuhan tertentu, namun pada level kepuasan tertentu insentif nonmoneter lebih penting
jika manajemen puncak memandang sistem pengendalian manajemen, maka para manajer pengoperasian juga memandangnya penting. Jika manajemen puncak kurang memperhatikan sistem pengendalian manajemen, para manajer pengoperasian juga kurang memperhatikannya.
para individu sangat termotivasi jika menerima laporan umpan balik mengenai kinerjanya. Tanpa umpan balik, orang mungkin tidak merasakan telah mencapai tujuan atau memerlukan tindakan koreksi untuk mencapai tujuan tersebut.
efektivitas insentif menurun dengan cepat jika jarak waktu antara tindakan dan pemberian insentif terlalu lama. Para level rendah organisasi , frekuensi umpan – balik dan tindakan mungkin dalam hitungan jam: sedangkan untuk manajemen atas mungkin dalam ukuran bulan
motivasi lemah jika seseorang berpendapat bahwa insentif terlalu mudah dicapai. Motivasi kuat jika tujuan memungkinkan dapat dicapai melalui usaha keras dan jika pencapaian tujuan tersebut sangat penting untuk memenuhi kebutuhan pribadinya.
Insentif sangat memotivasi jika para manajer berpartisipasi secara aktif beserta para atasannya dalam menyusun anggaran, standar, atau tujuan. Dengan partisipasi tersebut mungkin manajer berpendapat bahwa anggaran, standar, atau tujuan tersebut adil sehingga menimbulkan komitmennya.
Sistem kompensasi yang efektif mendorong para manajer untuk membuat keputusan-keputusan yang relevan dengan keselarasan tujuan para stakeholders (termasuk juga tujuan para manajer). Tujuan sistem kompensasi adalah keselarasan tujuan, tetapi tidak mungkin mencapai keselarasan tujuan tersebut secara sempurna. Dalam praktik yang dituju bukanlah keselarasan sempurna tetapi keselarasan relatif.
Agar sistem kompensasi efektif, harus memenuhi tujuh kriteria dibawah ini:
Mencukupi (memenuhi ketentuan minimum pemerintah, serikat kerja dna peringkat manajemen)
Adil ( setiap orang diberi kompensasi selaras dengan jumlah usaha yang dicurahkan , kemampuan ,pelatihan, dan sebagainya
Imbang ( jumlah gaji, tunjangan, dan lainnyaimbang)
Efektif dari segi biaya (gaji harus sepadan dengan kemampuan perusahaan )
Memenuhi kebutuhan orang
Memotivasi orang untuk bekerja dengan efektif dan meningkatkan produktivitas
Dapat dimengerti oleh tenaga kerja.
Michael West dalam buku Srikandi Waluyo yang menggambarkan efektivitas tim sebagai berikut :
Refleksivitas Tugas
Tinggi
Tipe D : dengan efisiensi yang kaku
Efektivitas tugas tinggi
Kesehatan mental buruk atau rata – rata
Keberlangsungan pendek
Tipe A : Tim yang berfungsi penuh
Efektivitas tugas tinggi
Kesehatan mental baik
Keberlangsungan lama
Tipe C : Tim yang mengalami disfungsi
Efektivitas tugas rendah
Kesehatan mental buruk
Keberlangsungan sangat rendah
Tipe B : Tim yang menyenangkan
Efektivitas tugas rendah
Kesehatan mental rata-rata
Keberlangsungan pendek
Refleksivitas Tugas
Rendah
Jadi penting bahwa efektivitas tugas berpengaruh terhadap keefektivitas manajemen dalam membuat tim kerja menjadi lebih baik dan berpengaruh pada sifat karakteristik dan kepentingan individu masing-masing.
Dalam buku creative time management oleh Dr Jan Yager menjelaskan bahwa pekerjaan dikatakan efektif jika didukung oleh teknologi untuk menghemat waktu dalam pengerjaan. Jadi penting, tidak hanya mengenai bagaimana uletnya sang pekerja dengan kompensasi yang diharapkan ternyata tidak bisa bekerja maksimal karena keterbatasan atas pengetahuan teknologi. Terbukti dengan teknologi dapat menghemat waktu pekerjaan seperti telepon, fax, komputer dan lainnya.
Dalam buku Ru Supriyono menjelaskan bahwa teori agensi telah diciptakan dalam tahun 1960an namun perkembangan tidak seperti JIT, TQC, DSS dan model – model lainnya, teori agensi tidak banyak mempengaruhi praktik proses pengendalian manajemen. Meskipun teori agensi banyak ditulis sebagai artikel dalam jurnal-jurnal akademis, namun jarang digunakan dalam praktik sebagai payoff (penggunaan teori agensi oleh manajer untuk membuat keputusan kompensasi yang lebih baik), bahkan banyak manajer yang tidak memahami teori agensi.
Para manajer yang tidak mempelajari teori agensi menyatakan berbagai macam pendapatnya mengenai model-model yang digunakan dalam teori agensi sebagai berikut :
Model – model tersebut tidak lebih daripada pernyataan fakta-fakta yang dinyatakan dalam simbol matematis
Elemen – elemen dalam model-model tersebut tidak dapat dikuantifikasi semuanya
Model tersebut terlalu menyerderhanakan hubungan nyata antara atasan dan bawahan
Model-model tersebut hanya terdiri dari beberapa elemen dan mengabaikan faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan tersebut.
Contoh penanganan Sumber Daya Manusia TELKOM dalam memberikan efektivitas pengendalian manajemen.
Sumber daya manusia (SDM) yang handal dan kompeten merupakan tulang punggung TELKOM dalam menghadapi persaingan bisnis telekomunikasi. Prestasi perusahaan yang telah dicapai sangat ditunjang oleh kualitas dan profesionalisme SDM, yang merupakan hasil dari program pengembangan SDM selama tahun 2004. Peningkatan prestasi tersebut antara lain dapat ditunjukkan dengan adanya peningkatan produktivitas, sehingga rasio produktivitas menjadi 340 sst per karyawan atau naik 24% dibandingkan tahun 2003. Sementara itu, jumlah pendapatan operasional TELKOM per karyawan telah meningkat 31% dibandingkan tahun lalu menjadi Rp 1,2 miliar per karyawan. Sampai dengan 31 Desember 2004, TELKOM memiliki karyawan sebanyak 29.375 orang. Sejalan dengan visi, misi dan proses reposisi bisnis untuk memantapkan posisi baru TELKOM sebagai Full Service and Network Provider (FSNP), perseroan menerapkan upaya pengembangan SDM secara konsisten dan kontinyu. Tujuannya adalah agar perusahaan memiliki jumlah SDM berkualitas yang efisien, sehingga dapat mendukung bisnis Perusahaan di bidang InfoCom. Program pengembangan SDM selama tahun 2004 antara lain difokuskan untuk mendukung terbentuknya organisasi yang berorientasi pada pelanggan (customer centric organization) yang akan dijalankan pada tahun 2005. Persiapan tersebut telah dijalankan sejak tahun 2002, antara lain dengan memperkenalkan dan mengembangkan sistem Competence Based Human Resources Management (CBHRM). Dalam sistem ini, kompetensi karyawan menjadi elemen utama yang diintegrasikan ke dalam seluruh proses pengembangan SDM secara sinergis.
Dalam rangka penerapan CBHRM, telah dikembangkan berbagai sistem untuk menerapkan aplikasi CBHRM, antara lain mencakup sistem perencanaan, sistem pengukuran kinerja serta mengubah pengelolaan SDM yaitu melakukan migrasi kompetensi ke area-area bisnis baru TELKOM yang berkaitan dengan phone, mobile dan multimedia (PMM). Pengembangan SDM dilakukan dengan meningkatkan jenjang pendidikan karyawan. Dalam tahun 2004 TELKOM telah menugaskan 40 orang karyawan untuk mengikuti pendidikan S2 di bidang akuntansi, manajemen SDM dan manajemen telekomunikasi di Universitas Gajah Mada, Universitas Indonesia dan Universitas HAN Belanda. Sebanyak 36 orang di antaranya telah menyelesaikan program tersebut. Selain itu, pada tahun 2004, 3 orang karyawan telah menyelesaikan pendidikan S3 di Amerika Serikat dalam bidang teknologi dan bisnis telekomunikasi.
Perusahaan juga memberikan kesempatan kepada karyawan yang melanjutkan pendidikan atas inisiatif sendiri untuk diakui sesuai dengan tingkat pendidikan terakhir di bidang yang dibutuhkan oleh Perusahaan melalui proses seleksi. Hingga tahun 2004, tercatat sebanyak 4.181 karyawan telah melaksanakan pendidikan S1, S2 dan S3 atas inisiatif sendiri. Di samping itu, pengembangan SDM dapat juga dilakukan melalui mutasi secara nasional antar divisi dan promosi jabatan. Program Pengembangan Eksekutif (EDP) pada tahun 2004 antara lain Strategic and Functional Leadership Training, Executive Coaching, Business Knowledge Sharing, External Executive Education.
Untuk pengembangan Non Eksekutif antara lain pelatihan beasiswa dari pemerintah Jepang (JICA) Program Telecommunication Network Planing and Designing, dari Pemerintah Swedia Program Information Technology Management, Chartered Financial Analyst (CFA), pelatihan Human Resources Management di Australia, pelatihan Penjenjangan Branch Manager Champion, pelatihan Project Management dan pelatihan Account Representative.
KOMPOSISI KARYAWAN BERDASARKAN
TINGKAT PENDIDIKAN
Pendidikan 2003 2004
SD-SMA 16.425 15.116
D1-D3 9.300 9.090
S1-S3 5.095 5.169
Jumlah 30.820 29.375
Berkaitan dengan rencana Perusahaan untuk memperkuat kompetensi karyawan di bidang InfoCom, maka program pelatihan (training) difokuskan pada program alih kompetensi karyawan ke bidang teknologi telekomunikasi, bisnis dan teknologi informasi. Selain pelatihan internal Perseroan juga mengadakan kerjasama dengan institusi lain di dalam negeri (seperti UI, ITB, STAN, UGM, dan Prasetya Mulya) maupun luar negeri (Eropa, Amerika Serikat dan Australia), terutama untuk bidang-bidang teknologi telekomunikasi baru maupun bisnis telekomunikasi. Program pembinaan karyawan di bidang spiritual dilaksanakan bekerja sama dengan Pondok Pesantren Daarut Tauhid. Selain itu, diadakan pula ceramah rutin mingguan serta ceramah-ceramah dalam rangka peringatan acara hari-hari besar keagamaan. Di samping kebijakan pensiun normal, sejak beberapa tahun yang lalu TELKOM juga menawarkan program pensiun dini (PENDI) secara sukarela. Program ini dimaksudkan agar Perusahaan memiliki jumlah karyawan yang optimal. Pada 2004, karyawan yang mengikuti program pensiun dini sebanyak 780 orang dengan biaya sebesar Rp 243 miliar. Selain itu, perseroan telah pula mengeluarkan kebijakan percepatan mulainya masa persiapan pensiun dari 1 tahun menjadi 2 tahun. Sejalan dengan meningkatnya produktivitas karyawan dan kinerja Perusahaan, TELKOM telah meningkatkan kesejahteraan karyawan dalam bentuk kenaikan gaji dan tunjangan, tunjangan cuti, insentif dan tunjangan lainnya.
Perusahaan juga memberikan penghargaan kepada karyawan yang berprestasi seperti the best healthiest family, the best staffs, the best innovator, pengelola jaringan akses terbaik dan the best performance TIC 007. Di samping pendidikan dan pelatihan, pengembangan SDM juga dilakukan melalui pengembangan Knowledge Management yang merupakan sarana agar setiap karyawan dapat menyampaikan berbagai informasi berupa tulisan, ide dan gagasan, yang dapat diakses oleh seluruh karyawan TELKOM. Bagi karyawan yang dinilai telah menghasilkan inovasi akan diberikan penghargaan berupa brevet oleh Perusahaan. Sementara itu, dalam rangka peningkatan produktivitas kerja, Perusahaan juga telah mengimplementasikan “Paperless Office Internal Telkom” (POINT), sehingga semua kegiatan surat menyurat dilakukan melalui on line system. Untuk pengembangan SDM selanjutnya di masa yang akan datang, TELKOM akan terus berupaya mendapatkan komposisi SDM yang lebih efisien dan profesional melalui program right sizing, perbaikan kompetensi dan tingkat pendidikan, perbaikan struktur usia karyawan serta pengembangan merit system.
Seperti dalam kasus pada PT Telkom, pengendalian manajemen akan efektif apabila terjadi keselarasan tujuan, keselarasan tujuan tersebut dibentuk dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia pada PT Telkom dengan memberikan kompensasi fasilitas pendidikan yang tinggi dan sesuai dengan kemampuannya. Dan kompensasi diberikan sesuai dengan prestasi mereka masing-masing. Sehingga tercapai target – target yang telah di tetapkan oleh manajemen.
Kepuasan juga merupakan kompensasi, dalam PT Telkom penghargaan juga diberikan sebagai kepuasan dari manajemen kepada karyawan atau individu yang berhasil sehingga karyawan dan individu siap berpacu dengan cara wajar untuk menyesuaikan keselarasan tujuan tersebut. Begitu juga sebalik karyawan dan individu puas atas penghargaan yang diberikan sehingga karyawan dan indovidu merasa diperhatikan. Seiring dengan perkembangan pemberian fasilitas tersebut tujuan perusahaan mencapai laba pun berjalan sebagaimana mestinya. Berkat kegiatan ekstra dan koordinasi yang baik antara prinsipal dan agen. Bisa dikatakan PT Telkom berhasil dalam efektivitas pengendalian manajemen mengingat begitu banyak divisi dapat di handle dengan baik oleh manajemen pusat, koordinasi yang akurat dan kerjasama tim yang baik membuat keselarasan tujuan dapat tercapai.
KESIMPULAN
Berdasarkan teori dan kasus diatas dapat diambil kesimpulan bahwa sebuah perusahaan atau organisasi wajib menerapkan kompensasi yang adil. Dimana kompensasi tersebut dapat memicu karyawan atau tenaga kerja melaksanakan tugasnya dan menghasilkan laba yang ditargetkan.
Agar sistem kompensasi efektif, harus memenuhi tujuh kriteria dibawah ini:
1. Mencukupi (memenuhi ketentuan minimum pemerintah, serikat kerja dna peringkat manajemen)
2. Adil ( setiap orang diberi kompensasi selaras dengan jumlah usaha yang dicurahkan , kemampuan ,pelatihan, dan sebagainya
3. Imbang ( jumlah gaji, tunjangan, dan lainnyaimbang)
4. Efektif dari segi biaya (gaji harus sepadan dengan kemampuan perusahaan )
5. Memenuhi kebutuhan orang
6. Memotivasi orang untuk bekerja dengan efektif dan meningkatkan produktivitas
7. Dapat dimengerti oleh tenaga kerja.
Kompensasi dengan sistem yang baik dan adil memberikan kontribusi besar dalam perkembangan perusahaan karena dengan kompensasi yang adil membuat para manager mengejar target untuk mengembangkan perusahaan atau organisasi. Sehingga pengendalian managemen ikut berpengaruh dalam masalah kompensasi ini dengan mengejar prestasi yang mereka harapkan sehingga memicu ketatnya persaingan. Para individu cenderung lebih termotivasi oleh insentif positif daripada insentif negatif sehingga sistem pengendalian manajemen akan berjalan dan berhubungan jika kompensasi berorientasi pada insentif positif.
Hubungan kompensasi yang adil dengan pengendalian manajemen yaitu keselarasan tujuan. Yaitu kompensasi yang adil mempunyai pengaruh terhadap mekanisme pengendalian melalui pemantauan dan insentif. Prinsipal dapat mendesain sistem pengendalian yang dapat memantau tindakan-tindakan agen agar tindakan – tindakan agen untuk meningkatkan kesejahterahan tidak menimbulkan biaya yang harus ditanggung prinsipal. Prinsipal dalam penentuan kompensasi agen harus berusaha agar kontrak-kontrak insentif agen pantas dengan kinerjanya sehingga tercapai keselarasan tujuan prinsipal dan agen.
HUBUNGAN SISTEM KOMPENSASI KARYAWAN DENGAN EFEKTIVITAS PENGENDALIAN MANAJEMEN PERUSAHAAN
MEMBANGUN KEBIASAAN BERBELANJA YANG SEHAT
Dikutip dari Danareksa.com Banyak dari kita bingung mencari cara bagaimana agar gaji cukup untuk satu bulan karena sering kali gaji tersebut habis sebelum waktunya. Sebenarnya anda bisa menabung dari gaji anda tidak perduli berapapun penghasilan anda, dengan cara membangun kebiasaan yang sehat dalam menggunakan uang dan berani mencoba cara-cara kreatif yang bisa membuat uang anda berkembang dan juga membuat hidup anda lebih baik. Namun, perubahan suatu kebisaan memang selalu membutuhkan penyesuaian dipihak lain. Begitu juga dengan kebiasaan berbelanja, menghabiskan uang pasti jauh lebih menyenangkan daripada harus menyimpannya .
Ketahuilah , Anda tidak harus menderita karena mencoba mengelola uang dengan baik dan mulai menata hidup Anda. Yang harus anda lakukan adalah bagaimana menggunakan uang dengan pintar serta menjadi seorang pembelanja yang hati-hati. Tujuannya adalah agar Anda mendapatkan hasil yang maksimal dari tiap rupiah yang anda hasilkan dan tidak mengeluarkan sepeserpun ketika tidak diharuskan untuk itu. Kita ambil saja contoh lain selain perubahan kebiasaan berbelanja yang juga menjadi masalah kebanyakan orang, misalnya kebiasaan merokok. Anda tahu bahwa merokok merusak kesehatan, menyebabkan gangguan kehamilan, impotensi, jantung dan sebagainya. Anda ingin berhenti merokok sama sekali, tetapi tiap hari selalu saja yang terjadi sebaliknya . Berbagai godaan saat pelaksanaannya membuat kemauan yang sudah kuat harus menyerah dengan olok-olok teman yang bertaruh Anda pasti tidak akan berhasil. Belum lagi yang mulut yang terasa asam, konsentrasi yang tergangggu, kepala pusing karena ternyata berhenti merokok juga membutuhkan penyesuaian kondisi fisik yang lain. Well…. Memang sulit sekali jika Anda harus berhenti merokok sekaligus, tetapi jika satu hari Anda biasa menghabiskan satu bungkus isi 12 batang, kenapa tidak dicoba untuk mengurangi satu batang rokok saja terlebih dahulu. Bedanya tidak terasa bukan ? Jika anda memaksa berhenti sekaligus, Anda pasti akan tersiksa Bagaimana caranya supaya bisa menggunakan uang dengan cermat dan menjadi pembelanja yang hati-hati ? Berikut ini adalah tips-tips belanja pintar yang sederhana dan bisa membantu Anda membangun kebiasaan berbelanja yang sehat, antara lain : 1. Kurangi membeli barang-barang yang nilainya menurun Belanjakanlah uang Anda pada barang-barang yang nilainya bertambah. Kebanyakan orang berbelanja pada barang-barang yang nilainya habis begitu digunakan seperti, makanan, pakaian , atau nilainya menurun seperti barang elektronik dan barang-barang konsumsi lainnya. Selama anda sudah bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan maka berbelanja adalah hal yang wajar dilakukan dan buka sekedar lapar mata saja 2. Little stuff means a lot Seringkali kita tidak merasa keluar uang banyak untuk beli rokok, beli cemilan atau sekedar ngopi-ngopi. Wajar saja jika kita lupa karena jumlahnya kecil saja dan sudah menjadi kebiasaan. Bahayanya adalah karena menjadi kebiasaan sehari-hari maka kita lupa bahwa jumlah yang kecil tadi jika kita kalkulasi dalam setahun jumlahnya jadi besar juga. Tentunya jumlahnya akan jadi lebih berlipat ganda jika diinvestasikan. 3. Jaga total cicilan hutang dibawah 30% dari gaji Kebiasaan orang pada umumnya adalah menggunakan hampir 90% dari penghasilannya perbulan untuk membiayai kebutuhan belanja rumah tangga. Apa yang terjadi jika Anda mempunyai cicilan hutang rumah, mobil atau kartu kredit yang menghabiskan 50% dari penghasilan ? Kemana Anda harus memenuhi kebutuhan belanja rumah tangga. Bisa-bisa Anda mencari pinjaman sana-sini untuk mencover kebutuhan rumah tangga. Karena itu jika anda harus berhutang , jagalah agar total cicilan hutang per bulan jumlahnya tidak lebih dari dari 30% dari penghasilan anda, sehingga sisanya sebesar 70% bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. 4. Kartu kredit bukan uang lebih Kartu kredit seringkali membuat kita lebih kaya daripada yang sebenarnya. Limit kartu kredit membuat kita serasa mempunyai uang tunai lebih. Padahal limit kartu kredit yang diberikan tidak gratis. Begitu kita pakai maka kita harus mengembalikannya , dan jika Anda tidak sanggup membayar lunas maka Anda akan dikenakan bunga. Karean itu untuk belanja sehari-hari bayarlah dengan uang tunai atau dari kartu ATM atau kartu debit Anda. Simpanlah kartu kredit Anda untuk keadaan darurat, sebagai sumber dana cepat kala keadaan gawat namun uang tunai tidak tersedia. 5. Miliki dana cadangan Kadang-kadang walaupun orang sudah mempunyai anggaran belanja, tetap saja kebobolan. Hal ini biasanya karena ada pengeluaran tidak rutin atau tak terduga yang tidak terdapat dalam anggaran. Misalnya ada saudara pinjam uang, memberikan hadiah ulang tahun, sumbangan pernikahan, dan lain-lain. Biasanya untuk membayar pengeluran tak terduga ini kita terpaksa mengambil simpanan dari tabungan atau deposito atau memakai kartu kredit. Jika hal ini terjadi terus menerus akibatnya tujuan investasi Anda bisa tidak tercapai karena dananya selalu terpakai. Karena itu bentuklah dana cadangan minimal sebesar 2 atau 3 kali pengeluaran keluarga Anda per bulan untuk membayar pengeluaran mendadak yang tidak rutin ini. Jika penghasilan Anda tidak rutin atau belum stabil maka bentuklah dana cadangan lebih besar lagi . Sebelum Anda berinvestasi untuk tujuan keuangan apapun, pastikanlah Anda sudah membentuk dana cadangan ini terlebih dahulu.
Siapa Takut Menjadi Penulis Buku Bestseller?
Oleh: Victor Asih
Pada pertengahan bulan Maret 2008, saya berkesempatan menjadi pembicara sebuah acara talkshow, dengan tema “Kalau Masih Bisa Berwirausaha, Ngapain Harus Kerja?” yang diselenggarakan di UNPAD, salah satu universitas negeri di Bandung. Selesai acara talkshow, saya dihampiri oleh seorang editor sebuah majalah dan diminta untuk menulis sebuah artikel dengan tema dream untuk dimuat di majalah tersebut.
Wow, itulah pertama kalinya ada yang meminta saya untuk menulis sebuah artikel. Saya saat itu merasa tertantang untuk membuat sebuah artikel karena saya belum pernah sama sekali menulis artikel.
Beberapa hari kemudian, saya berusaha mencari berbagai informasi tentang bagaimana cara menulis artikel melalui internet. Sampai akhirnya saya menemukan website pembelajar.com dan membaca artikel-artikel tentang cara menulis dari Edy Zaqeus, salah seorang penulis buku bestseller. Jadilah saya “korban” dari ide-ide provokatif dalam tulisan itu. Saya terinspirasi dan merasa semakin tertantang untuk dapat menulis.
Akhirnya, saya memutuskan untuk berani membuat sebuah impian baru dalam daftar impian saya, yaitu impian menjadi penulis buku bestseller. Saat saya berani membuat impian ini, saya sama sekali belum berpengalaman ataupun memiliki kemampuan menulis artikel atau buku. Tetapi saya ingat sebuah pepatah, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit.” Ini adalah langkah ajaib pertama yang saya lakukan, yaitu berani memiliki impian.
Walaupun saya memiliki keterbatasan waktu karena kesibukan pekerjaan saya sehari-hari yang sangat padat, belum lagi kendala lainnya, seperti tidak adanya pengalaman menulis sama sekali, tetapi saya tetap berani bermimpi. Impian saya adalah menjadi penulis buku bestseller dan buku itu akan diluncurkan (launching) pada waktu istimewa yang hanya akan muncul setiap 1000 tahun sekali, yaitu pada tanggal 08-08-08.
Saya mengetahui bahwa sebenarnya banyak orang di sekitar saya dalam hatinya meragukan jika saya dapat mencapai impian menjadi penulis buku, apalagi buku bestseller. Namun demikian, saya tidak peduli dengan keyakinan mereka karena berani membuat impian adalah hak saya, dan juga hak Anda! Se”gila” apa pun impian itu merupakan hal terpenting bagi saya untuk berani mewujudkannya karena saya ingin selalu menjadi pemenang, seperti beberapa super hero idola saya semasa kecil (The Flash, Wonder Woman, The Green Lantern).
Akhirnya, di bulan April 2008 saya mulai mewujudkan impian menjadi penulis buku bestseller. Aksi ini diawali dengan saya mulai belajar menuliskan kalimat-kalimat pertama untuk buku saya. Learning by doing, saya belajar menulis kata demi kata untuk sebuah buku bestseller.
Satu setengah bulan kemudian, naskah hasil tulisan saya hampir rampung sesuai target saya yaitu 188 halaman. Saatnya berburu endorser dan mencari penerbit yang mau menerbitkan buku saya.
Bagaimana cara mencari endorser? Saat itu saya belum tahu bagaimana caranya. Learning by doing, saya belajar mencari endorser dengan langsung melakukannya sendiri. “Not doing is not Learning”, prinsip saya. Dalam waktu singkat 8 endorsement (komentar) untuk naskah buku tersebut dari 8 endorser yang terkenal di berbagai kalangan profesi terkumpul. Ada yang dari kalangan birokrat, akademisi, penulis bestseller, profesional, pengusaha, rohaniwan, dan juga motivator.
Bagaimana cara mencari penerbit? Pada saat itu saya juga belum tahu bagaimana caranya mencari penerbit. Apalagi penerbit yang sanggup meluncurkan buku saya hanya dalam tempo sekitar satu setengah bulan saja, mengingat waktu peluncuran buku yang saya inginkan adalah pada tanggal 08-08-08. “Impossible!”, kata beberapa teman saya yang telah menjadi penulis. Mereka berkata bahwa membutuhkan waktu berbulan-bulan sejak naskah diterima penerbit sampai pada peluncurannya. Bahkan ada yang menunggu lebih dari satu tahun baru diterbitkan. Lha, naskah saya dilihat penerbit juga belum.
Hanya empat bulan setelah saya berani bermimpi menjadi penulis buku bestseller, tepat pada tanggal Delapan Agustus 2008 (08-08-08) jam 8.08 malam naskah yang telah saya tulis diluncurkan dalam bentuk sebuah buku Unik serba 8 di Toko Buku Gramedia Paris Van Java Bandung oleh Penerbit Andi dari Yogyakarta.
Acara peluncuran buku begitu menarik minat banyak orang untuk hadir, sehingga 88 kursi yang disediakan oleh panitia tidak dapat menampung seluruh hadirin. Sebagian hadirin terpaksa sambil berdiri mengikuti acara peluncuran buku unik yang dicetak perdana limited edition sebanyak 8.888 eksemplar ini. Luar biasa!
Terbitnya buku perdana ini, yang saya tulis sendiri, adalah hal yang luar biasa bagi saya pribadi. Bukan hanya karena waktu penulisannya yang singkat (88 jam) yang diselesaikan dalam waktu satu setengah bulan, ditengah berbagai kesibukan kerja saya yang dikejar “deadline”. Atau karena proses penerbitannya yang spesial “dicap perangko kilat khusus” oleh sebuah penerbit ternama (salah satu dari tiga penerbit besar yang menyatakan kesanggupannya untuk meluncurkan buku saya tersebut dalam waktu satu setengah bulan).
Tetapi, karena empat bulan sebelum buku ini diterbitkan, tidak pernah terlintas sedikit pun dalam pikiran saya untuk menjadi seorang penulis buku, apalagi penulis buku bestseller. Bagi saya seperti melompat dari “bumi” ke “langit”. Tak pernah terlintas sedikit pun bahwa pada akhirnya setelah buku itu diluncurkan, saya akan mendapatkan puluhan undangan sebagai pembicara talkshow untuk membedah buku tulisan saya. Undangan datang dari berbagai kota dari berbagai universitas terkenal, komunitas, radio, bahkan televisi.
Setelah acara bedah buku selesai, banyak pihak pengundang yang menyatakan bahwa ingin mengundang saya kembali sebagai pembicara motivator dan inspirator di acara seminar atau pelatihan, memberikan kuliah umum atau studium general atau orasi ilmiah di acara-acara universitas, sampai menjadi pembicara talkshow secara rutin di radio-radio.
Hal ini secara tidak langsung mendukung terwujudnya impian saya berikutnya (Langkah Ajaib ke yaitu menjadi seorang pembicara Motivitor (Motivasi dan Inspirasi bersama Victor) dan menyebarkan “virus” semangat entrepreneurship (kewirausahaan) melalui Sekolah Gratis Kewirausahaan bernama USB.
Inilah bukti KEKUATAN dari sebuah IMPIAN! Jadi, jangan ragu melakukan Langkah Ajaib pertama dari 8 Langkah Ajaib Menuju ke Langit, yaitu Beranilah bermimpi dan Kalahkan semua “Monster” penghalang impian anda. Anda akan terbawa “terbang ke langit” di mana impian anda yang tergantung “setinggi langit” dapat teraih. Everything is possible!
Dikompilasi sebagian dari buku “8 Langkah Ajaib Menuju ke Langit” karya Penulis, sesi “Behind The Writing of This Book” [Victor Asih, Founder Sekolah Bisnis Gratis USB, Mentor, Entrepreneur, Inspirator, Motivator, Software Engineer & Information Technology Consultant, Kolumnis, Penulis Buku Unik Bestseller “8 Langkah Ajaib Menuju ke Langit”] Penulis bisa dihubungi melalui email victorasih@yahoo.co.id atau website www.usbschool.com atau blog usbschool.blogspot.com
Rahasia Pensiun Muda, Kaya Raya, Dan Bahagia
Pensiun muda, kaya raya, dan bahagia adalah idaman setiap orang. Siapa yang mau kerja sampai tua tapi tetap miskin dan menderita? Ada orang yang setelah menetapkan goal mereka dapat mencapai goal itu dengan cukup mudah. Ada yang perlu kerja sedikit lebih keras… dan akhirnya berhasil. Namun ada juga yang telah bekerja sangat keras tetap belum bisa berhasil.
Sebenarnya apakah sulit untuk bisa pensiun muda, kaya raya, dan bahagia? Ah, nggak. Justru sangat mudah.
Jika memang sangat mudah mengapa banyak orang tidak bisa mencapainya? Nah, inilah alasannya saya menulis artikel ini.
Jawaban singkatnya sederhana sekali. Ini semua bergantung pada definisi sukses yang mereka tetapkan untuk diri mereka.
Lho, maksudnya?
Begini ya. Banyak orang tidak menetapkan secara sadar arti sukses bagi diri mereka. Umumnya orang, termasuk saya juga dulunya, mengadopsi sukses berdasarkan definisi atau kriteria orang lain. Itulah sebabnya bila kita bertanya kepada orang, “Apa yang ingin anda capai dalam hidup?”, mereka akan menjawab, “Sukses”. Kalau kita kejar lagi, “Sukses seperti apa?”, maka umumnya mereka akan menjawab, “Mencapai kebebasan waktu dan uang” atau “Pensiun dini”. Yang paling keren adalah jawaban, “Muda kaya raya, tua foya-foya, mati masuk surga”.
Dulu saya juga ingin sukses seperti di atas. Namun sekarang saya mengerti. Sukses bukanlah seperti yang didefinisikan kebanyakan orang. Kita harus menetapkan sendiri definisi sukses. Saya mendefinisikan sukses sebagai perjalan diri berdasar peta sukses yang kita rencanakan sendiri dengan kesadaran kita saat itu.
Di sini ada dua komponen penting. Pertama, sukses adalah perjalanan yang dilakukan berdasarkan peta sukses. Kedua, peta sukses ini kita rencanakan sendiri dengan kesadaran kita saat itu.
Peta sukses ini adalah impian-impian yang ingin kita capai dalam hidup. Impian harus memenuhi dua syarat utama yaitu harus bersifat personal dan bermakna. Dan yang lebih penting lagi adalah kita menetapkan impian dengan menggunakan kesadaran kita pada saat itu.
Hal ini berarti seiring dengan berkembang dan meningkatnya kesadaran diri maka kita perlu melakukan update impian-impian kita. Ada yang perlu kita tambah dan ada yang perlu kita hapus dari daftar.
Mengapa sampai perlu dihapus dan ditambah? Karena seringkali apa yang dulu kita anggap penting ternyata sekarang sudah tidak penting lagi. Apa yang dulu kita anggap personal dan bermakna ternyata sekarang sudah tidak bermakna lagi karena level kesadaran kita telah berkembang. Sebaliknya apa yang dulu tidak terpikirkan oleh kita, eh… sekarang malah sangat penting untuk kita capai.
Impian harus ditetapkan dengan mengacu pada nilai-nilai hidup (value) tertinggi kita. Tidak asal ditetapkan seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Saat impian sejalan dengan value maka impian ini berisi muatan emosi positif yang tinggi. Emosi positif ini selanjutnya akan menjadi pendorong, motivator, dan sekaligus provokator sehingga kita akan selalu semangat melakukan kerja atau upaya untuk mencapainya. Pencerahan lain yang saya dapatkan adalah kita perlu hati-hati menetapkan makna kata “pensiun”. Mengapa? Karena ada begitu banyak orang sulit mencapai kebebasan waktu dan uang yang mereka impikan karena mereka dihambat oleh kata “pensiun”.
Lho, kok bisa begitu?
Begini ya. Manusia berpikir dengan menggunakan dua pikiran yaitu pikiran sadar dan bawah sadar. Pensiun diartikan sebagai sesuatu yang indah, kebebasan uang dan waktu, ini kan baru kita dapatkan setelah kita dewasa. Apalagi setelah membaca bukunya Robert Kiyosaki Cashflow Quadrant.
Pensiun menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) artinya: 1) tidak bekerja lagi karena masa tugasnya telah selesai, dan 2) uang tunjangan yang diterima tiap-tiap bulan oleh karyawan sesudah ia berhenti bekerja atau oleh istri (suami) dan anak-anaknya yang belum dewasa kalau ia meninggal dunia. Definisi pensiun di atas nggak terlalu bagus, kan?
Nah, bagaimana dengan makna “pensiun” menurut orang di sekitar kita? Berbeda dengan definisi KBBI di atas, dari hasil programming saat kita masih kecil umumnya kata “pensiun” mempunyai arti “berhenti bekerja”, “uang pas-pasan”, “nganggur karena sudah nggak ada kerjaan”, “tidak punya kekuasaan”, “tidak dihargai orang”, “tua dan lemah”, atau “melewati hari-hari yang membosankan”. Hal ini ditambah lagi ada banyak contoh orang yang pensiun dari jabatan tertentu eh.. dua tahun kemudian meninggal.
Jadi, tanpa kita sadari ada muatan emosi negatif yang cukup tinggi yang melekat pada kata “pensiun”. Emosi negatif ini bekerja di level pikiran bawah sadar dan tanpa kita sadari justru menjadi mental block yang menghambat upaya kita.
Langkah awal untuk pensiun adalah melakukan definisi ulang makna kata “pensiun”. Dan pastikan makna ini benar-benar masuk dan tertanam dengan kuat di pikiran bawah sadar kita.
Anda mungkin tidak percaya dengan apa yang saya jelaskan di atas, bahwa apa yang kita pikirkan secara sadar belum tentu sejalan dengan pikiran bawah sadar. Bila sampai terjadi konflik antara pikiran sadar dan bawah sadar maka yang selalu menang adalah pikiran bawah sadar.
Ini saya beri contoh nyata. Seorang kawan, sebut saja Budi, adalah anak muda yang sangat aktif dan percaya diri. Budi punya impian besar. Ia ingin jadi orang sukses. Budi menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Ia serius mengembangkan dirinya dengan membaca sangat banyak buku pengembangan diri, bisnis, keuangan, ekonomi, dan mengikuti berbagai seminar di dalam dan luar negeri. Budi telah mengikuti pelatihan semua pembicara top Indonesia. Di luar negeri Budi, antara lain, mengikuti pelatihan Anthony Robbins dan Robert Kiyosaki.
Setelah dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh Budi akhirnya memilih fast track menjadi orang kaya dengan menjadi pengusaha properti. Budi sadar sesadar-sadarnya bahwa, seperti ilmu yang ia dapatkan dari berbagai pelatihan yang ia ikuti, untuk bisa sukses finansial tidak perlu modal besar. “You don’ need a lot of money to make a lot of money”, ini mantra yang selalu ia sampaikan pada saya, “ Yang penting sikap, keyakinan diri, dan antusiasme”. Namun setelah mencoba sekian lama Budi masih tetap belum bisa berhasil. So, what’s wrong? Some thong wring… eh.. salah… some thing wrong.
Apa yang menjadi penghambat Budi?
Pikiran sadar Budi yakin bahwa tidak perlu uang banyak untuk sukes secara finansial. Namun pikiran bawah sadarnya berkata sebaliknya. Budi belum bisa sukses karena, menurut pikiran bawah sadarnya, tidak punya modal banyak. Hal ini semakin diperparah lagi dengan satu program pikiran yang ia dapatkan dari ayahnya yaitu kalau berbisnis tidak boleh mengambil untung banyak karena pelanggan bisa lari ke orang lain.
Saat keluar dari kondisi relaksasi pikiran dan diajak berdiskusi mengenai mental blocknya Budi sempat bingung. Ia berkata, “Ini benar-benar nggak masuk akal. Saya sudah yakin seyakin-yakinnya kalau mau sukses nggak perlu modal besar, eh… pikiran bawah sadar saya berkata sebaliknya. Makanya susah sekali untuk sukses. Rupanya saya disabotase pikiran saya sendiri. Padahal saya yakin sekali lho dengan apa yang diajarkan Kiyosaki.”
Nah, pembaca, anda jelas sekarang?
Kembali ke definisi kata “pensiun”, saya mendefinisikan pensiun bukan dari ukuran kebebasan waktu dan uang yang saya capai. Saya mendefinisikan pensiun sebagai melakukan sesuatu dengan pikiran tenang dan hati yang damai.
Nah, untuk bisa mencapai pikiran yang tenang dan hati yang damai, saat melakukan suatu kegiatan,pekerjaan, atau bisnis, maka saya perlu menetapkan syarat-syarat yang spesifik. Istilah teknisnya “rule” atau aturan.
Saya menetapkan syarat antara lain: 1) saya suka melakukan pekerjaan itu, 2) semakin saya melakukannya maka semakin diri saya bertumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik, 3) apa yang saya lakukan mempengaruhi hidup orang banyak secara positif, 4) saya menentukan harganya, 5) saya bisa melakukannya di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja, 6) tidak perlu banyak karyawan, 7) gudangnya ada di otak dan komputer saya, saya bersedia tidak dibayar melakukan apa yang saya lakukan, 9) sejalan dengan tujuan hidup saya, 10) bisa diwariskan atau diteruskan oleh anak.
Jika anda baca dengan saksama maka syarat yang saya tetapkan di atas sebenarnya menjelaskan satu hal yaitu passion. Namun juga jangan salah mengerti ya. Jika hanya berbekal passion saja tidak cukup untuk sukses. Passion harus didukung oleh strategi yang jitu dan terarah.
Ada klien saya yang hanya mengandalkan passion saja, walaupun saya tahu ia orang yang sangat kompeten di bidangnya, ternyata harus mengalami kegagalan beruntun di dalam bisnisnya. Waktu saya tanya, “Strategi apa yang akan anda gunakan dalam memasarkan produk anda?”, jawabnya enteng, “Nggak usah pake strategi macam-macam. Pokoknya saya senang melakukan apa yang saya lakukan. Hasilnya pasti akan bagus. Nanti akan sukses dengan sendirinya”.
Apa yang terjadi? Benar di awal bisnisnya pesanan sangat banyak. Namun karena tidak didukung dengan perencanaan yang matang, klien ini harus kalang kabut untuk memenuhi pesanan produknya. Akibatnya, quality control terabaikan. Dan ending-nya, bisnisnya bubar karena banyak klien kecewa dan menolak melanjutkan kerjasama.
Defisi lain yang perlu kita tetapkan dengan sangat hati-hati adalah makna kata “kaya”. Apa ukurannya sehingga seseorang disebut sebagai orang kaya?
Masyarakat umumnya mengukur dari jumlah rupiah yang dimiliki seseorang. Semakin banyak rupiahnya maka semakin kaya orang itu. Apakah benar seperti ini?
Jawaban ini benar, untuk ukuran kebanyakan orang. Namun untuk diri kita sendiri, kita perlu menetapkan definisi yang personal. Kaya sebenarnya tidak ada hubungannya dengan jumlah rupiah. Kaya sebenarnya lebih ditentukan oleh perasaan cukup.
Apa maksudnya?
Begini, ada banyak orang yang sangat kaya (uangnya banyak sekali) namun sebenarnya ia hidup dalam kemiskinan. Juga ada sangat banyak orang yang miskin (uangnya sedikit sekali) namun mereka sangat kaya.
Seorang kawan dengan sangat bijak pernah berkata, “Orang kaya itu adalah orang miskin yang kebetulan uangnya banyak. Sedangkan orang miskin itu adalah orang kaya yang kebetulan uangnya sedikit.”
Lho, kok dibolak-balik?
Kaya atau miskin ini lebih ditentukan oleh perasaan cukup. Saat kita merasa cukup, kita puas dengan apa yang kita miliki, maka pada saat itu kita telah menjadi orang kaya. Kita bisa kaya tanpa harus punya uang sangat banyak. Sebaliknya, walaupun kita punya isi seluruh dunia, namun bila kita masih tetap saja merasa kurang maka sebenarnya kita adalah orang miskin. Bahkan John D. Rockefeller JR., berkata, “Orang termiskin yang aku ketahui adalah orang yang tidak mempunyai apa-apa kecuali uang”.
Kaya raya ukurannya semata-mata hanyalah suatu perasaan. Dan karena parameternya adalah perasaan maka hal ini sangatlah subjektif. Setiap orang punya takaran sendiri. Kita tidak boleh menggunakan takaran orang lain untuk mengukur diri kita. Demikian pula sebaliknya kita tidak boleh menggunakan takaran kita untuk mengukur orang lain.
Nah, sekarang bagaimana menjadi bahagia?
Jika kita melakukan pekerjaan atau bisnis dengan hati gembira, karena sesuai dengan nilai-nilai dan tujuan hidup kita, dan menjadi kaya berdasarkan perasaan cukup yang kita tetapkan sendiri, dengan penuh kesadaran, maka hasil akhirnya kita pasti bahagia.
Saya pernah ditanya seorang peserta seminar, “Pak Adi, kalau memang Bapak sedemikian hebat, mengerti otak-atik pikiran, bisa membantu seseorang berubah dan sukses, mengapa Bapak tidak mendirikan banyak perusahaan dan menjadi milyuner? Atau mengapa Bapak tidak mencoba menjadi presiden RI?”.
Menjawab pertanyaan peserta ini saya menjelaskan dua hal. Pertama, saya tidak pernah mengklaim diri saya sebagai orang hebat. Saya hanyalah seorang pembelajar di Universitas Kehidupan yang kebetulan mengambil spesialisasi jurusan teknologi pikiran. Saya belajar dan praktik lebih dulu dari peserta itu. Jika kita sama-sama belajar, bisa jadi peserta itu jauh lebih pintar dari saya.
Kedua, saya tidak akan mau mendirikan perusahaan besar ataupun jadi presiden RI. Sebenarnya sekarang pun saya adalah seorang presiden, Presiden Direktur di perusahaan Kehidupan saya sendiri. Alasan lainnya saya telah menentukan tujuan hidup saya, yang didasarkan pada nilai-nilai hidup saya. Saya punya parameter yang sangat subjektif yang digunakan untuk mengukur keberhasilan hidup saya. Salah satunya adalah ketenangan pikiran dan kedamaian hati.
Nah pembaca, nggak susah kan untuk bisa pensiun muda, kaya raya, dan bahagia? Kalau mati masuk surga, wah ini urusannya sama Tuhan. Saya nggak berani komentar.
Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pakar pendidikan dan mind technology,pembicara publik, dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis dua belas best seller “Born to be a Genius”, “Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success”, “Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan?”, “Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication”, “Becoming a Money Magnet”, “Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian”, dan “Hypnotherapy: The Art of Subconscious Restructuring”, “Cara Genius Menguasai Tabel Perkalian”, “Kesalahan Fatal Dalam Mengejar Impian 2, dan “Five Principles to Turn Your Dreams Into Reality”, dan The Secret of Mindset . Adi dapat dihubungi melalui email adi@adiwgunawan.com dan www.adiwgunawan.com , www.QLTI.com
Nasehat-nasehat Berwirausaha
Memulai usaha itu memang sungguh luar biasa sulit. Tidak hanya diperlukan modal, tetapi juga tekad, keterampilan, pengetahuan, naluri dan ketekunan. Benarkah hanya itu? Tetapi apa saja yang menentukan keberhasilan kita dalam berwirausaha.
Syukurlah kita sangat banyak terbantu dengan banyaknya para pengusaha sukses yang dengan tulus membagikan kiat-kiat suksesnya untuk kita.
Saya menuliskan beberapa nasehat-nasehat mereka. Saya tidak akan menuliskan nama sumber nasehat dengan beberapa alasan Atau jika pembaca memiliki nasehat lain, silakan tambahkan di baris komentar.
Ketekunan
Seseorang pengusaha sukses di bidang medis dan pendidikan mengatakan bahwa yang terpenting dalam berwirausaha adalah “ketekunan.” Dia juga memberikan contoh banyaknya pengusaha sukses yang justru tidak sukses dalam pendidikannya. Justru orang-orang yang mempunyai nilai akademis yang tinggi biasanya malah tidak sukses dalam dunia usaha.
Berani Mengambil Resiko
Seseorang yang lain juga menonjolkan sifat-sifat keberanian dari seorang pengusaha. Seorang pengusaha harus berani mengambil resiko walau pun secara perhitungan matematis mungkin tampak tidak menguntungkan, tetapi justru seringkali malah menguntungkan. Bahkan keuntungannya tidak sedikit, tetapi banyak sekali.
Terampil & Tidak Putus Asa
Biasanya pengusaha sukses itu pernah mengalami beberapa/banyak kegagalan. Tetapi karena mereka tidak mengenal putus asa dan selalu bangkit, selain memperoleh pelajaran dari pengalaman, mereka jadi terampil dalam mengatasi banyak hal dalam berwirausaha.
Berdoa
Rupanya para pengusaha sukses juga rajin berdoa. Maklum saja karena selama berwirausaha mereka seringkali mempertaruhkan segalanya, termasuk hidupnya & keluarganya demi kegiatan berwirausahanya.
Seseorang konsultan usaha pernah memberikan ilustrasi tentang pentingnya doa bagi pengusaha.
Kalau saya memulai usaha sendiri, sudah pasti saya & keluarga akan berdoa dengan sangat khusuk & tekun untuk memohon agar usaha saya berhasil. Tetapi jika saya berwirausaha bersama banyak teman, maka yang turut berdoa akan lebih banyak lagi, tidak hanya saya dan keluarga saya, tetapi juga mereka dan keluarga mereka.
Berani Berubah
Seorang yang memulai usaha sendirinya harus berani menghadapi perubahan yang bakal mengubah seluruh hidupnya. Perubahan itu bisa positif mau pun negatif. Tetapi sebagai langkah awal, para pemula harus memiliki tekad yang kuat untuk mau berubah dan menghadapi segala tantangan yang bakal menghadangnya.
Seseorang konsultan memberikan tes bagi para pemula atau pengusaha kurang sukses yang ingin memulai usahanya atau yang ingin agar usahanya sukses. Tes yang dilakukan sangat sederhana dan dilakukan saat konsultan tersebut bertemu calon kliennya untuk pertama kali.
Biasanya para pemula atau pengusaha kurang sukses tersebut ingin segera mendapatkan konsultasi atau resep-resep mujarab yang instan demi kesuksesan atau kelanggengan usahanya. Tetapi sebelum melakukan konsultansi, sang konsultan menilainya dan memberikan test.
Suatu ketika sang konsultan menemui calon klien yang tampak bangga dengan kumisnya. Memang kumisnya sangat rapi dan bagus bentuknya. Dengan kumisnya itu, sang calon jadi tampak gagah & ganteng. Sesekali sang calon merapikan kumisnya dengan tangannya untuk memperbaiki bentuknya.
Sang konsultan memberikan tes baginya, yaitu dengan menyuruhnya untuk mencukur habis kumisnya. Tetapi kontan sang calon menolak dan akhirnya sang konsultan menolak menanganinya dan mengatakan bahwa dia tidak berani menerima dan menghadapi perubahan yang sebenarnya sangat penting dalam dunia usaha.
Pandai Mengelola
Seseorang pernah berkata: “Pengusaha yang sukses itu adalah pengusaha yang mampu mempekerjakan orang-orang yang cerdas di bidangnya.” Memang benar adanya. Kesuksesannya ditopang oleh para pekerjanya yang berkompeten di bidangnya. Nah, dengan demikian para pengusaha harus mampu memilih dan mempekerjakan orang-orang seperti ini.
Selain dapat mengelola sumberdaya manusia, para pengusaha juga harus pandai mengelola sumber daya yang lain, misalnya aset, keuangan, dll. Kemampuan mengelola ini justru seringkali tidak ditemui di orang-orang cerdas yang akhirnya menjadi karyawan dari si pengusaha.
Seger & Pinter
Ini ada sebuah nasehat dari seorang motivator usaha
Kalau badan Anda segar, jadilah militer. Kalau otak Anda pinter, jadilah profesor. Tapi kalau badan Anda seger dan otak Anda pinter, jadilah wirausahawan. Jadi dia menekankan pentingnya kesegaran tubuh dan kepintaran otak. Syukurlah jika kita bisa memiliki keduanya. Paling tidak modal sukses sudah ada pada kita.
Kemauan Terus Belajar
Seorang pengusaha sukses pernah berkata bahwa semua usahanya, baik yang gagal mau pun berhasil itu adalah tempat belajarnya. Dan dia mau untuk terus mempelajari setiap usahanya. Bahkan tidak hanya mempelajari apa yang telah dia peroleh dari pengalamannya atau dari teori atau buku, dia juga melakukan percobaan-percobaan dan bermanuver dalam usahanya
http://usaha.wordpress.com/2006/12/22/nasehat-nasehat-berwirausaha/.
ALTERNATIF USAHA UNTUK MAHASISWA
Dikutip dari tabloidnova.com
Beberapa minggu lalu, saat saya tampil menjadi pembicara di acara talkshow di di Yogyakarta, hadir beberapa mahasiswa dari perguruan tinggi yang ada di kota tersebut. Mereka banyak mengajukan pertanyaan yang menarik hati saya. Bagaimana mereka bisa menabung? Maklum, tidak semua mahasiswa menerima uang saku yang cukup. Entah karena orang tuanya kurang mampu atau pengeluaran si mahasiswa yang besar. Dari situ, muncul motivasi pada diri si mahasiswa, tidak ada jalan lain kecuali dengan mencari sumber penghasilan. Tak heran banyak mahasiswa yang termotivasi mencari penghasilan. Apa sih alternatif pekerjaan yang bisa dilakukan mahasiswa? Seperti yang sama-sama kita tahu, mahasiswa pasti punya banyak keterbatasan. Salah satu diantaranya adalah keterbatasan modal. Selain itu, mereka juga punya kewajiban utama yakni belajar. Jangan sampai, mereka asyik bekerja, kuliahnya malah keteteran. Nah lho, bagaimana tuh? Nah, berikut ini saya berikan sejumlah alternatif penghasilan tambahan yang bisa dijalankan oleh mahasiswa.
Menjual Barang
Menjual barang, terutama yang dilakukan secara perorangan, bisa dilakukan di waktu-waktu alias tak terikat waktu. Contohnya, menjual pakaian kepada teman-temannya. Kegiatan itu, tentu bisa dilakukan saat punya waktu luang dan tidak banyak waktu yang terbuang. Cukup dengan beberapa kali telepon atau menawarkan kepada teman-teman di kampus, menunjukkan barangnya, dan ketika ada yang suka dengan barangnya, transaksi pun terjadi. Selesai.
Banyak barang yang bisa dijual. Mulai dari busana dan aksesorisnya, barang-barang elektronik ringan seperti jam tangan, yang "berat" seperti radio tape, vcd player sampai dengan komputer. Prinsipnya, semua barang-barang yang bisa dipakai dan dikonsumsi, bisa diperjualbelikan.
Yang penting harus pandai mencari tempat membeli barang-barang tersebut dengan harga yang murah. Bagi yang modalnya pas-pasan, cukup membeli beberapa barang saja untuk sampel.
Menjual Keahlian
Mahasiswa pasti punya keahlian yang bisa dijual. Contohnya, mereka yang kuliah di bidang sastra bisa menawarkan jasa penterjemah. Bagai yang kuliah di bidang komputer, banyak pilihannya. Yang menekuni studi teknik informatika bisa menjual jasa pembuatan software sederhana kepada perusahaan-perusahaan. Mereka yang kuliah akuntansi bisa mengajar akuntansi privat kepada anak-anak SMA. Yang gemar menulis, juga bisa membuat cerpen dan kirimkan ke Tabloid NOVA. Yang kuliah di bidang sosial politik? Bisa mengirim artikel ke koran.
Yang jelas, alternatif menjual keahlian memiliki kelebihan, yakni tak perlu modal, kecuali keahlian. Cuma jeleknya, kadang-kadang tidak semua mahasiswa memiliki rasa PD (percaya diri) yang cukup ketika mereka harus menjual keahliannya. Seringkali mereka mungkin akan merasa malu, rendah diri, jengah, dan sebagainya.
Membuka Usaha
Bagi yang punya modal lebih, buka usaha bisa menjadi pilihan. Mulai dari toko kelontong, rental komputer atau tempat makan. Untuk menekuni usaha ini harus hati-hati, khususnya soal waktu. Maklum, usaha ini butuh waktu yang banyak. Terutama tahun-tahun pertama. Wah betapa repotnya jika memilih usaha ini. Harus kuliah dan menjalankan usaha yang butuh waktu dan tenaga yang banyak. Usaha ini pas dilakukan saat tugas-tugas kuliah tidak terlalu banyak.
Satu lagi yang harus diperhatikan adalah manajemen, baik ke dalam maupun ke luar yang baik. Manajemen ke dalam adalah bagaimana cara mengelola uang di usahanya, bagaimana cara dia untuk mengatur stok penjualan, dan sebagainya. Sedangkan manajemen ke luar adalah bagaimana cara dia memasarkan dan memperkenalkan usahanya kepada masyarakat luar.
Menjadi Karyawan
Pilihan lain adalah menjadi karyawan. Prinsipnya, sebagai karyawan akan menerima gaji tetap. Tapi banyak hal yang harus diperhatikan, seperti masalah waktu. Pasti tidak ingin, kan, kesibukan sebagai karyawan akan mengganggu kuliahnya? Jadi, bagi mereka yang kuliah hanya di pagi hari, mungkin bisa memilih untuk mencari pekerjaan sebagai karyawan yang hanya bertugas di siang hari. Atau, bagi mereka yang kuliah pagi dan siang, bisa bekerja sebagai karyawan pada usaha-usaha yang berjalan di malam hari, mislanya restoran atau wartel. Prinsipnya, bekerja sebagai karyawan tidak harus dilakukan 8 jam sehari dan tidak harus selalu dilakukan jam 9 sampai 5 sore. Yang namanya usaha kan banyak jenisnya. Bukan begitu?
Network Marketing
Alternatif yang juga bisa dijalankan oleh mahasiswa adalah dengan menjalankan usaha network marketing. Pada network marketing, si mahasiswa itu seperti sedang membuka toko, dan dia bisa mengajak banyak orang di sekililingnya untuk membuka toko juga seperti dia. Seperti layaknya toko, pada network marketing, si mahasiswa bisa mendapatkan penghasilan tambahan berupa keuntungan eceran dari penjualan barang. Selain itu juga bisa mengejar penghasilan lain berupa komisi jaringan. Nah, inilah yang biasanya "diincar".
Enaknya network marketing, si mahasiswa bisa menjalankan usaha ini pada waktu-waktu yang memang dia inginkan. Bukan berarti dia tidak akan sibuk. Dia mungkin akan sibuk, tetapi waktunya biasanya fleksibel. Sudah begitu, modal uang yang dibutuhkan biasanya jauh lebih sedikit.
Mudah-mudahan, dengan Anda menunjukkan artikel ini kepada anak Anda yang mahasiwa, mereka bisa termotivasi juga dalam mencari penghasilan tambahan. Siapa tahu kalau penghasilan tambahannya mencukupi kelak, mereka bisa menabung, dan malah tidak perlu lagi minta uang saku pada Anda. Syukur-syukur malah Anda yang diberi. Bukan begitu kadang-kadang yang kita inginkan?
Salam Safir Senduk Perencana Keuangan
MENGELOLA PENGHASILAN TAMBAHAN
Dikutip dari tabloidnova.com Tabloid NOVA No. 908/XVIII
Seberapa banyak diantara Anda yang pada saat ini memiliki penghasilan tambahan? Apakah Anda bisa mengelola penghasilan tambahan itu sehingga bisa membawa manfaat? Anda mungkin punya penghasilan tambahan sekarang. Tapi ingat, penghasilan tambahan itu tidak selalu bisa membuat hidup Anda bertambah baik, lho. Bisa malah sebaliknya.
Misalnya, penghasilan di keluarga Anda Rp 2 juta. Jumlah itu lalu habis untuk membayar segala macam pengeluaran di rumah tangga Anda. Kalau toh bisa menabung, hanya Rp 250 ribu per bulan. Lalu Anda memutuskan untuk mencari penghasilan tambahan.
Setelah cari sana cari sini, Anda memutuskan untuk mencari tambahan penghasilan dengan mengajar. Hasilnya, sih, lumayan. Sebulan bisa mengantongi Rp 500 ribu. Kadang malah bisa Rp 750 ribu per bulan. Pertanyaannya, apakah dengan uang tambahan tersebut, Anda jadi bisa menambah jumlah tabungan Anda yang tadinya hanya Rp 250 ribu menjadi Rp 750 ribu atau malah Rp 1 juta per bulan? Jawabannya, belum tentu. Dengan penghasilan tambahan Anda juga belum tentu bisa mencukupi keperluan-keperluan keluarga yang lainnya? Jadi bagaimana dong? Yuk, simak tips mengelola penghasilan tambahan di bawah ini. Memenuhi kebutuhan keluarga yang belum bisa terbayar dan untuk membayar pengeluaran pribadi. Sekarang, apa sih motivasi Anda sehingga mau capek-capek nyari penghasilan tambahan? Biasanya sih, yang pertama, karena Anda merasa bahwa penghasilan Anda yang sekarang mungkin enggak cukup untuk membayar pengeluaran keluarga.
Kedua, kalaupun pengeluaran keluarga Anda memang sudah bisa terpenuhi, barulah Anda bisa menggunakan penghasilan tersebut untuk membayar pengeluaran-pengeluaran pribadi Anda sendiri seperti untuk beli baju, sepatu, beli buku, atau apalah keperluan Anda. Yang penting kebutuhan rumah tangga sudah terpenuhi toh?
Setoran tabungan dan investasi Anda Kalau Anda punya penghasilan tambahan, jangan semuanya dipakai untuk membayar pengeluaran dong. Adanya penghasilan tambahan justru harus menjadi kesempatan buat Anda untuk menambah setoran tabungan rutin Anda setiap bulannya. Contohnya, dari penghasilan rutin yang Anda dapatkan setiap bulannya, Anda bisa menabung sebesar sekitar Rp 250 ribu per bulannya. Dengan adanya penghasilan tambahan sebesar sekitar Rp 500 ribu per bulan, cobalah untuk menambah setoran tabungan Anda sebesar, misalnya Rp 100 ribu per bulan.
Hindari mengalokasikan semua penghasilan tambahan untuk menaikkan pengeluarannya. Anda hidup bukan hanya untuk hari ini saja kan?
Sisakan untuk modal penghasilan tambahan yang lebih besar. Coba sisakan lagi penghasilan tambahan yang Anda dapat agar Anda bisa mendapatkan penghasilan tambahan yang lebih besar. Contohnya, Anda dapat "uang sampingan" Rp 750 ribu per bulan. Sebaiknya, gunakan saja Rp 500 ribu-nya untuk membayar pengeluaran-pengeluaran yang tidak bisa dipenuhi dari penghasilan utama Anda. Sisihkan Rp 100 ribu untuk menambah tabungan, sisanya Rp 150 ribu untuk menambah modal. Misalnya, kalau penghasilan tambahan itu didapat dari mengajar bahasa Inggris, Anda bisa membuat 2 pak Kartu Nama tambahan dari sisa yang Rp 150 ribu per bulan itu. Atau bikin brosur. Kalau penghasilan tambahan itu didapat dari berdagang baju, mungkin Rp 150 ribu per bulan itu bisa untuk menambah stok. Terserah Anda. Yang penting, modal usaha sampingan Anda bisa tambah besar.
Jadi bapak ibu, prinsipnya sederhana saja. Kalau Anda punya penghasilan tambahan, jangan hanya untuk membayar pengeluaran-pengeluaran Anda, tapi juga untuk menambah tabungan rutin Anda dan menambah modal usaha agar kian hari penghasilan tambahan Anda kian meningkat.Salam. Safir Senduk Perencana Keuangan
SAINGAN TIDAK HARUS JADI LAWAN
Dikutip dari Tabloid Otomotif
Oleh Eko Endarto RFA
Sudah dua minggu ini Alex, pemilik bengkel oli langganan saya uring-uringan. Hampir setiap pekerjaan bawahannya selalu salah. “Kenapa tuh majikan loe? Lagi perang sama orang rumah ya?” tanya saya pada seorang karyawannya. “Dia lagi kesel, soalnya 25 meter dari sini mau dibangun bengkel franchise dari salah satu perusahaan,” terang sang karyawan. Memang sih, di dekat situ lagi dibangun sebuah bengkel yang 90% selesai. Hanya perlu diingat, timbulnya saingan adalah konsekuensi keberhasilan usaha kita. Yang pada dasarnya justru memberi dampak positif.
Coba deh, renungkan hal-hal ini. Bertambahnya Konsumen. Anda mengira pernyataan ini mengada-ada. Mana mungkin konsumen bertambah, wong konsumen kita aja berkurang. Itu tidak benar. Kalau kita bicara jangka pendek memang mungkin karena sebagian konsumen ingin mencoba yang baru. Tapi kalau bicara kelangsungan bisnis Anda di masa datang, pesaing justru membuat konsumen bertambah asal diiringi mutu pelayanan.
Di daerah Tangerang terdapat sebuah mal baru yang di lantai atasnya dibangun sebuah sentra onderdil dan aksesori kendaraan. Pada awalnya di situ hanya ada 2 buah toko. Walaupun hanya dua, tempat itu tetap berjalan karena ada langganan toko tersebut.
Nah, Anda tahu apa yang sangat diinginkan para pemilik kios di sana? Mereka berharap agar kios dan toko lain di sekitar mereka segera buka. Kenapa demikian? Dengan ramainya toko dan kios, maka makin lengkap dan terkenal daerah itu sebagai tempat belanja onderdil dan aksesori.
Memiliki Pembanding dan Tolok Ukur, Ada kelebihan dengan adanya pesaing. Yaitu usaha Anda memiliki pembanding atau standar. Standar di sini tidak selalu berarti pesaing lebih baik. Tapi mungkin pula lebih buruk.
Apa sih kelebihan Anda punya pembanding? Yakni Anda akan tahu bahwa hasil atau pekerjaan Anda baik atau tidak. Sebab dengan adanya pesaing, akan terlihat apakah Anda lebih baik atau lebih buruk.
Kebetulan saya juga tinggal di Tangerang. Seperti pernah dibahas tabloid ini, di sana baru pertama kali SPBU asing dibangun. Ada yang menarik sejak dibangunnya stasiun itu. Yakni naiknya standar pelayanan beberapa SPBU besar yang lebih dulu ada. Meski tak sebaik yang diberikan stasiun pengisian BBM asing, sapaan karyawan dan ucapan terima kasih bukan hal baru lagi yang saya dengar dari mereka.
Memiliki Kesempatan untuk Maju, Jika Anda sedang bersiap didekati saingan, ini saatnya membuat satu langkah ke depan. Bila saingan Anda akan melakukan hal sama, maka saatnya meninggalkan mereka.Dahulu ada sebuah pusat pencucian mobil di daerah Kebon Jeruk satu-satunya yang dilengkapi pengangkat mobil hidraulis untuk mencuci kolong. Setelah hampir 2 tahun tanpa tandingan, tak jauh dari tempat itu dibangun usaha yang sama.
Anda tahu apa yang dilakukan pemiliknya? Ia berusaha memperbaiki pelayanan tanpa berpindah jenis usaha. Ia membuka jenis cuci baru yaitu cuci salju. Dengan begitu ia bisa selangkah lebih maju karena punya kelebihan dibanding pesaingnya. Sekaligus menaikkan harga yang dulu sangat susah. Karena hanya sendiri, sehingga ia dan konsumennya merasa puas dengan apa yang ada.
Lawan tapi Mesra, Punya saingan dekat usaha Anda? Kenapa enggak mengambil sisi positifnya? Ya, kalau Anda bersaing berarti Anda dan saingan selalu berusaha lebih baik. Dalam pelayanan memang kita harus bersaing. Tapi dalam hal kelengkapan dagangan, biasanya saling melengkapi.
Misal, Anda tidak menjual booster rem Kijang, siapa tahu saingan Anda memilikinya. Suruh saja konsumen Anda membeli ke mereka. Apakah Anda rugi? Hmm... Saya kira enggak tuh.
Memang konsumen tidak membeli pada Anda dan Anda tidak mendapat pemasukan. Tapi Anda bisa mengambil keuntungan dengan cara lain. Misal menjual jasa pemasangan booster rem tadi. Bukan hanya memberikan pelayanan, Anda juga telah mempopulerkan daerah usaha Anda.
Seperti dikatakan di awal, timbulnya saingan sejenis di daerah kita merupakan dampak kesuksesan dan keberhasilan yang kita capai. Yang namanya saingan pasti memiliki efek yaitu negatif atau positif.
Tapi sebagai otomania yang gentle kenapa harus takut dengan dampak negatifnya kalau kita bisa mengambil dampak positifnya. Ingat, pengusaha yang tangguh adalah pengusaha yang tidak lari dari persaingan tapi yang bisa menang atas persaingan.
Salam, Eko Endarto PerencanaKeuangan.com
It is the Technology, Stupid...!
MAAF pembaca, judul ini mungkin terlihat agak kasar untuk sebagian dari Anda. Tapi, kita memang sering tidak sadar bahwa horisontalisasi yang menyebabkan demokratisasi di segala bidang sebenarnya memang disebabkan oleh perkembangan teknologi. Mas Ninok Leksono dari Kompas mengingatkan saya sekali lagi tentang hal ini seusai acara ”Kompas Political Gathering” di Bentara Budaya Jakarta, Rabu malam kemarin. Acara ini merupakan acara khusus yang diselenggarakan oleh Kompas untuk menjalin silaturahmi dengan para pemimpin partai politik peserta Pemilu 2009.
Pak Jakob Oetama yang membuka acara tersebut menekankan bahwa dari satu pemilu ke pemilu berikutnya, demokratisasi Indonesia bertambah matang. Survey menunjukkan bahwa sebagian besar warga negara menyatakan puas atas pelaksanaan demokrasi di negeri ini. Setelah Pak Jacob, giliran Pak Daniel Dhakidae yang bicara. Pak Daniel yang merupakan pakar politik dan juga mantan Kepala Litbang Kompas mengatakan bahwa Pemilu 2009 ini merupakan momen terakhir untuk para pemimpin ”stok lama”. Sementara saya sendiri, yang diminta bicara tentang Political Marketing, dengan tegas berpendapat bahwa semua ini gara-gara teknologi Web 2.0 yang bersifat horisontal. Pendapat saya ini nyambung dengan pematangan demokrasinya Pak Jacob yang esensinya memang ada di horisontalisasi. Hal ini juga nyambung dengan ”peringatan” Pak Daniel bahwa pemimpin lama yang masih bersifat vertikal akan tidak punya tempat lagi. Mau bukti bagaimana hebatnya teknologi ini? Anda tentu tahu situs jejaring sosial Facebook, bukan? Walaupun terhitung ”anak bawang” dalam dunia Internet, situs ini sekarang termasuk salah satu situs paling populer di Internet. Per tanggal 26 Agustus kemarin, tercatat sudah ada 100 juta anggota situs ini! Ini berarti bahwa jumlah ”penduduk” Facebook jika dibandingkan dengan populasi penduduk negara-negara ”beneran” di dunia, ia akan berada di peringkat ke-12; persis di bawah Meksiko, dan di atas Filipina. ”Penduduk” Facebook juga puluhan kali lipat dari populasi Singapura yang hanya berjumlah 4,5 juta orang. Luar biasa, bukan?! Di berbagai penjuru dunia, orang memang keranjingan Facebook. Bukan hanya anggota baru yang terus bergabung, anggota lama di Facebook pun terus aktif mencari kawan. Saya sendiri contohnya. Dalam waktu dua bulan saja, saya sekarang sudah punya kawan sebanyak hampir 2000 orang. Tiap hari saya menerima permintaan dari sepuluh sampai dua puluh orang yang hampir semuanya malah tidak saya kenal. Lantas, mengapa Facebook bisa jadi sangat populer? Ini terjadi karena Facebook sangat user-friendly. Orang yang sebelumnya awam Internet pun akan bisa dengan mudah bergabung menjadi anggota. Setelah itu, ia juga akan bisa dengan mudah mencari kawan atau bergabung dengan suatu komunitas di Facebook tersebut. Di Facebook, tiap anggota memang bisa dengan mudah membentuk komunitasnya sendiri tanpa melihat status yang bersangkutan. Tidak peduli orang itu pekerjaannya apa, berasal dari negara mana atau agamanya apa misalnya. Semua orang diperlakukan sama rata, yang penting ia memiliki minat yang sama dalam komunitas tersebut. Inilah bentuk nyata dari kehebatan Web 2.0. Saat era Web 1.0, Internet masih bersifat satu arah, statis, dan eksklusif. Situs-situs yang ada di era ini masih bersifat informasi semata dan tidak interaktif. Selain itu, pengembangan situs seakan menjadi milik para jago programming komputer semata, sehingga sebagian besar orang hanya berperan sebagai pengguna pasif. Namun, teknologi Web 2.0 mengubah segalanya. Internet menjadi bersifat interaktif dan dinamis. Orang jadi bisa lebih mudah mengekspresikan dirinya, melakukan networking, membentuk komunitas, berkolaborasi, berpartisipasi dalam sebuah kegiatan, dan banyak lagi. Teknologi yang ada memungkinkan setiap orang jadi punya kesempatan yang sama, bukan hanya milik sekelompok orang tertentu. Sekali lagi, saya ambil contoh diri saya sendiri. Saya ini sebenarnya termasuk orang yang agak gaptek. Jangankan Internet, menggunakan komputer saja pun saya sangat jarang jika tidak mau dibilang hampir tidak pernah. Namun, belakangan, seperti juga sudah saya ceritakan di atas, saya malah keranjingan Facebook. Awalnya saya memang bergabung karena didaftarkan oleh staf saya di MarkPlus, Inc. Namun, lama-kelamaan saya kok merasa asyik sendiri, apalagi setelah saya mulai terbiasa menggunakan BlackBerry yang saya bawa kemana-mana. Ini menunjukkan bahwa Web 2.0 membuat proses horisontalisasi semakin cepat. Internet bukan hanya milik generasi muda, orang-orang yang sudah cukup berumur seperti saya pun sekarang jadi aktif di Internet. Jadi, disadari atau tidak, teknologi telah dan akan terus menjadi penggerak perubahan revolusioner pada seluruh aspek kehidupan. Karena itu, kalau Anda mau survive dan jadi Marketer yang sukses di era New Wave Marketing, jangan pernah sekali-kali mengabaikan teknologi! ---Ringkasan tulisan ini bisa dibaca di Harian Kompas--- Hermawan Kartajaya
No Pasta Hut for Pizza Hut
Singapore – Pizza Hut may have temporarily rebranded itself as Pasta Hut in the UK to convey a healthier image, but there are no plans for a similar move for the pizza chain in Singapore. Pizza Hut in the UK is introducing healthier options, such as pastas into its menus, and will temporarily rename 30 of its stores as Pasta Hut in a UK$18 million revamp.
Pizza Hut in the US introduced pastas in April, but kept its original name while according to overseas media, Pizza Hut restaurants in Australia are considering the name change to Pasta Hut. However, Pizza Hut Singapore has no immediate plans to make the brand change. “At this point we have no intention to pursue this for Singapore,” Juliana Lim, marketing director for Pizza Hut Singapore, said. In September Pizza Hut Singapore launched a pitch for its creative ad account after a “mutual” parting of ways with BBDO. Lim said the pitch presentation will be conducted over the next two days, with agencies JWT, Y&R, Bates141 and Grey involved. Lim said a decision is expected before the end of October. Companies featured: * Pizza Hut Singapore Pte Ltd By: John Davidson, Singapore