Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

It's not Selling anymore, It's Commercialization!

ANDA tahu, siapa yang paling sulit diajari soal pemasaran? Bukan orang keuangan atau orang operasional, namun justru orang sales. Lho, mengapa bisa begitu? Ini karena banyak orang sales yang menganggap dirinyalah yang paling mengetahui soal pasar sehingga merasa tidak membutuhkan belajar soal pemasaran. Apalagi kalau dia sudah sukses. Buat apa memikirkan soal segmentasi, positioning, brand, dan sebagainya. Toh selama ini yang dilakukannya telah terbukti berhasil, begitu yang ada di pikiran orang sales itu. Orang sales yang punya pandangan seperti tadi biasanya tidak akan bisa mempertahankan kesuksesannya dalam jangka waktu lama.

Lanskap berubah dengan sangat cepat sehingga praktik-praktik yang telah membawanya ke puncak kesuksesan tidak akan lagi bisa diterapkan alias jadi usang. Bahkan ada gurauan bahwa salesman yang masih enggan belajar soal pemasaran sebenarnya hanya mengandalkan apa yang disebut sebagai “FGD Marketing” alias “fun, golf, and dinner marketing”. Padahal, dengan memahami pemasaran, salesman bisa bekerja lebih efektif dan efisien sehingga mempunyai peluang lebih besar untuk mencetak angka penjualan tertinggi. Bagi saya sendiri, Selling yang merupakan elemen ketiga Taktik Pemasaran ini—setelah Diferensiasi dan Marketing-Mix—sebenarnya bukan hanya berkaitan dengan aktivitas penjualan. Bukan juga mengacu kepada personal selling semata. Yang saya maksud dengan selling adalah taktik untuk menciptakan relasi jangka panjang dengan pelanggan melalui produk perusahaan. Inilah taktik untuk mengintegrasikan perusahaan, pelanggan, dan relasi yang terjadi. Setelah mengembangkan strategi pemasaran dan menciptakan marketing-mix, perusahaan harus mampu untuk memperoleh pendapatan finansial melalui selling. Dengan demikian, inilah yang disebut sebagai Capture Tactic dari perusahaan. Secara garis besar, ada tiga tingkat utama dari selling ini, yaitu feature selling, benefit selling, dan solution selling. Karena pilihan produk sudah membanjiri pasar, perusahaan harus menawarkan solusi kepada pelanggan, bukan hanya fitur dan manfaat. Penawaran solusi ini pada akhirnya akan mempererat relasi antara perusahaan dan pelanggan. Maka, pelanggan harus dibuat sadar akan produk kita dan mendorong mereka untuk menjadi pendukung kita. Dengan menjalankan prinsip-prinsip Diferensiasi, Marketing-Mix, dan Selling, pada akhirnya kita akan mampu untuk memenangkan market share. Itulah sekilas tentang masalah selling di era Legacy Marketing. Namun, dalam era New Wave Marketing, istilah yang lebih tepat bukan lagi selling, namun Commercialization. Mengapa demikian? Kalau selling, proses yang terjadi berkesan satu arah, dari perusahaan ke pelanggan. Perusahaan punya produk, ditawarkan kepada pelanggan, pelanggan membelinya, dan setelah itu selesai. Tidak ada relasi lebih lanjut antara perusahaan dan pelanggan. Sementara Commercialization bersifat dua arah, terjadi proses pertukaran value antara perusahaan dan pelanggan. Dan tidak seperti dalam selling, Commercialization tidak dilakukan secara “langsung”. Artinya, pelanggan tidak begitu saja disodori produk. Perusahaan harus berupaya melakukan engagement dengan pelanggan sebagai pihak yang setara. Misalnya saja dalam proses Co-Creation yang sudah pernah saya bahas sebelumnya. Selain itu, maaf sebelumnya bagi orang-orang sales, kata ”sales” itu persepsinya sudah kurang terlalu bagus saat ini. Orang sales sendiri tidak sedikit yang menyadari hal ini. Karena itu, banyak jabatan di bidang penjualan yang menggunakan istilah pemasaran karena kata ”sales” dianggap kurang bergengsi. Contohnya banyak, misalnya menamakan salesman dengan marketing executive atau bahkan marketing consultant, padahal pekerjaannya hanya menjual. Karena itu, agar lebih tertata rapi, istilah selling itu harus diganti dengan Commercialization. Sales Executive atau Sales Manager nantinya juga harus diganti namanya menjadi Commercial Executive atau Commercial Manager. Tidak lagi menggunakan istilah Marketing Executive atau Marketing Consultant. Kalau begini kan sama-sama enak. Kata marketing alias pemasaran bisa dipersepsikan sesuai dengan makna asalnya, orang sales juga tidak perlu lagi menggunakan kata marketing dalam jabatannya karena soal gengsi semata. Namun tentu setelah istilahnya diganti jadi Commercialization, jangan sampai praktik-praktik yang dulu mengakibatkan munculnya persepsi kurang baik pada kata sales terulang kembali. Dalam era New Wave Marketing, Commercialization harus dilakukan atas dasar kesadaran bahwa relasi jangka panjang yang dibangun akan sama-sama menguntungkan kedua belah pihak, yaitu perusahaan dan pelanggan. -- Ringkasan tulisan ini bisa dibaca di Harian Kompas

Read More......

Sistem Bonus Picu Kebangkrutan dan Krisis Global

WASHINGTON, RABU - Para eksekutif korporasi keuangan global kini menjadi sasaran kritik. Ke depan, sejumlah negara mencanangkan pembenahan gaji, bonus, bahkan perilaku para eksekutif. Hal itu sudah ditegaskan Menteri Keuangan Amerika Serikat Henry Paulson, Selasa (14/10) di Washington. Isu serupa dibahas gencar di Uni Eropa, Australia, dan sejumlah negara lain. Krisis keuangan global yang terjadi sekarang dinilai berawal dari kecerobohan para eksekutif menjalankan bisnis.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon, Rabu (15/10) di New York, menegaskan agar perilaku eksekutif diatur. Hal ini mengemuka karena perilaku buruk para eksekutif telah memaksa pemerintahan sejumlah negara memberikan dana talangan kepada korporasi yang bertumbangan di tangan para eksekutif tersebut. Para eksekutif seperti berlomba-lomba memperkaya diri dengan membagikan bonus di antara sesama eksekutif. Hal itu berlangsung di tengah bolongnya keuangan perusahaan karena terjebak bisnis berisiko dalam jumlah triliun dollar AS. Risiko ini, antara lain, terlihat dari maraknya penerbitan obligasi oleh korporasi untuk dikucurkan sektor bisnis berisiko, seperti sektor perumahan AS. Makin tinggi omzet penjualan obligasi, makin tinggi bonus. Kapitalisme ekstrem Perilaku eksekutif seperti itu telah mengemuka dan memunculkan amarah para pemimpin. Di Canberra, Australia, Rabu, Perdana Menteri Australia Kevin Rudd menuduh Wall Street gagal total dalam hal corporate governance (pengelolaan korporasi). Wall Street adalah juga julukan bagi korporasi AS, kaliber internasional, yang menjadi episentrum krisis keuangan global. Rudd menuding sistem kapitalisme ekstrem di balik krisis keuangan global, yang menggoyang dunia dan melahirkan kepanikan luar biasa pasar uang. Kini, muncul fenomena di mana para investor tidak percaya lagi kepada penasihat investasi mereka. Juga terjadi sikap saling tidak percaya di antara sesama eksekutif perusahaan. Rudd mengatakan, kegagalan sektor keuangan terjadi karena standar yang aman dalam pengucuran pinjaman tidak diindahkan, manajemen risiko tidak diperhatikan. ”Faktanya, sistem pengelolaan perusahaan menopang keserakahan, tetapi mengabaikan integritas sistem keuangan. Kegagalan ini tidak saja terjadi pada perusahaan kecil, tetapi pada Wall Street, pilar sistem keuangan global,” katanya. Sistem bonus dan malus Dari Frankfurt, Jerman, muncul berita bahwa sistem penggajian para eksekutif telah menjadi salah satu pemicu krisis keuangan global. ”Para bos di industri keuangan seharusnya dihukum dengan pengurangan gaji jika mereka menyebabkan kehancuran perusahaan karena menjalankan bisnis yang diwarnai dengan risiko berlebihan,” demikian proposal yang diajukan Center for Financial Studies (CFS), yang memaparkan hasil studi di markas mereka di Frankfurt. CFS didukung 120 lembaga global, seperti bank, perusahaan asuransi, sektor industri, dan lembaga pemerintahan. Presiden CFS Otmar Issing adalah mantan ekonom senior di Bank Sentral Eropa. CFS menyimpulkan, sistem pemberian bonus yang berlaku selama ini membuat para eksekutif malah dirangsang menjalankan bisnis berisiko tinggi. Namun, di sisi lain, jika keputusan mereka soal bisnis telah menyebabkan munculnya risiko, demikian CFS, para eksekutif itu tidak mendapatkan hukuman. ”Adalah penting untuk mengubah sistem bonus dengan menghidupkan sistem bonus/malus. Hal ini akan bisa merangsang eksekutif menghindari bisnis berisiko tinggi,” demikian isi proposal CFS yang disiapkan Guenter Franke dan Jan Pieter Krahnen dalam tulisan berjudul ”Sekuritisasi Masa Depan”. Sistem bonus/malus merujuk pada kelayakan pemberian bonus jika kinerja keuangan perusahaan baik dan pemberian hukuman (berupa pengurangan gaji) jika para eksekutif berbuat salah. Malus berarti buruh, bonus berarti baik dalam bahasa Latin. Dengan sistem sekarang yang tanpa hukuman, para eksekutif akan mendapatkan bonus jika berhasil menjual produk investasi kepada nasabah, investor perseorangan, dan kelembagaan, seperti dana pensiun. Lepas dari buruknya kualitas produk investasi yang mereka tawarkan, para eksekutif akan mendapatkan bonus yang makin besar jika penjualan produk investasi itu meningkat. Reformasi IMF Krahnen mengatakan, kini bonus sebaiknya hanya bisa diberikan jika kinerja keuangan perusahaan relatif baik. ”Kami kira ke depan penting untuk memperlihatkan kepada para investor soal keberadaan insentif dan disinsentif. Ini perlu untuk menjaga perilaku para eksekutif. Hingga sekarang, perhatian ke arah itu tidak ada,” kata Krahnen, yang juga profesor keuangan dari Universitas Frankfurt. Di Brussels, Belgia, Rabu, PM Inggris Gordon Brown juga menegaskan agar Dana Moneter Internasional (IMF) ditata ulang. Ini penting agar IMF makin berperan kuat dalam penataan sektor keuangan global. ”Ini penting agar ke depan krisis serupa tidak lagi terulang. IMF harus diubah sehingga keberadaannya pas dengan kondisi terkini dunia modern,” kata Brown setelah bertemu dengan Presiden Uni Eropa Jose Manuel Barroso. Brown mengatakan, posisi dan keberadaan IMF tak lagi memadai dengan persoalan sekarang. Ia juga menyerukan pentingnya penyusunan sebuah sistem, yang bisa memberikan sinyal akan munculnya bahaya dalam perekonomian global. (REUTERS/AP/AFP/MON) MON Sumber : Kompas Cetak

Read More......

Sri Mulyani, Finance Minister of the Year 2008

JAKARTA, KAMIS - Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati, kembali terpilih sebagai Finance Minister of the Year tahun 2008 untuk kawasan Asia oleh harian Emerging Markets. Setiap tahun Emerging Markets, harian internasional keuangan, ekonomi, dan investasi, memilih Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral terbaik dari berbagai kawasan, yakni Amerika Latin, Timur Tengah, Afrika, Eropa Timur dan Asia. Tahun 2007 lalu, Menteri Keuangan RI telah pula memperoleh penghargaan serupa dari harian ini. Menurut Emerging Markets,

Menteri Keuangan RI terpilih kembali berdasarkan tiga alasan yakni pencapaiannya dalam mendorong kinerja ekonomi Indonesia hingga mencapai di atas 6 persen tahun ini meskipun terdapat tekanan inflasi, keberhasilannya dalam melakukan reorganisasi di lingkungan kementerian keuangan dan meletakkan dasar bagi reformasi birokrasi yang terfokus dan terkendali, dan sebagai figur utama dalam merealisasikan reputasi Indonesia sebagai outstanding borrower of the year untuk kawasan Asia. Mengendalikan inflasi tanpa mengganggu pertumbuhan ekonomi merupakan tantangan terbesar yang dihadapi oleh para pembuat keputusan ekonomi, dan hal ini dialami pula oleh Indonesia. "Dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya yang menyandarkan pada ekspor, kami memiliki suatu kebijakan strategis yakni mengoptimalkan perekonomian Indonesia dengan pemanfaatan sumber daya domestik," demikian menurut Menteri Sri Mulyani. Disamping itu, sinergi kebijakan antara Departemen Keuangan dan Bank Indonesia melalui upaya memperketat kebijakan moneter dengan tetap menjaga perputaran roda ekonomi berhasil dilakukan. Hal ini terkait dengan penunjukan Sri Mulyani sebagai Pelaksana Harian Menteri Koordinator Bidang (Menko) Perekonomian dan penempatan Boediono, yang sebelumnya menjabat Menko Perekonomian dan juga pernah menjadi Menkeu, sebagai Gubernur BI. "Gubernur Boediono, dan kami memiliki kesamaan pemahaman bahasa dan kepercayaan," kata Menteri Sri Mulyani. Prestasi lain yang dicatat adalah keberhasilan Pemerintah Indonesia menaikkan harga minyak melalui DPR Bulan Mei lalu tanpa menimbulkan gejolak yang berarti. Emerging Markets menilainya sebagai pencapaian kompromi politis yang mengagumkan. Selain Menteri Keuangan RI, penghargaan juga diberikan kepada Gubernur Bank Sentral China untuk kawasan Asia, sedangkan untuk kawasan lain award diberikan kepada Menkeu Chile dan Gubernur Bank Sentral Brazil untuk Amerika Latin, Menkeu Yordania dan Gubernur Bank Sentral Kuwait untuk Timur Tengah, Menkeu Afrika Selatan dan Gubernur Bank Sentral Bostwana untuk Afrika, serta Menkeu Ceko dan Gubernur Bank Sentral Slovakia untuk Eropa Timur. Acara Awards Reception diselenggarakan disela-sela Sidang Tahunan IMF-Bank Dunia di Washington DC tanggal 10 Oktober 2008, dan dihadiri oleh 200 tokoh keuangan, perbankan, dan pelaku bisnis. Mengingat Menteri Sri Mulyani berhalangan untuk menghadiri rangkaian kegiatan Sidang Tahunan di Washington, penerimaan award diwakili oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Utang, Rahmat Waluyanto, yang memimpin delegasi Depkeu dalam Sidang Tahunan tersebut. EDJ Sumber : Ant

Read More......

Bikin Penasaran, Kiat Sukses Berbisnis

JAKARTA - Mulailah dengan rasa penasaran, niscaya Anda selangkah lebih dekat menuju "singgasana" kesuksesan. Begitulah kira-kira provokasi yang diajarkan oleh markerter sekaligus penulis buku "Biang Penasaran" Kafi Kurnia. Menurutnya, penasaran adalah biang dari segala kehidupan. Artinya tanpa ada penasaran, kehidupan ini seakan-akan berhenti seketika. "The Greatest virtue of man perhaps is curiosity," ucap Kafi saat menularkan virus penasarannya di seminar nasional jurus marketing, yang digelar oleh Radio Trijaya, Jakarta 17 Juli, kemarin. Penasaran memang adalah kata-kata sihir yang maha sakti. Itu diakui Kafi setelah ia melihat sendiri bukti-buktinya dalam dunia bisnis yang sudah 20 tahun digelutinya. Tidak hanya dia yang tersadar akan kedahsyatan virus "penasaran". Tetapi juga para pemasar dan ahli komunikasi juga sering mengandalkan penasaran sebagai umpan yang gurih untuk memancing perhatian publik. Dia mencontohkan, bagaimana pada 1980-an celana jeans Calvin Klein (CK)� laris manis bak kacang goreng. Bahkan, konon, konsumen rela antre berjam-jam didepan sebuah department store hanya demi mendapatkan sepotong celana jeans CK keluaran terbaru.

Itu karena kejelian CK memakai Aktris Brooke Shield yang saat itu baru 15 tahun sebagai model iklan produknya. Pemilihan Shield, bukan tanpa maksud. Saat itu, mantan istri petenis flamboyan Andre Agassi itu adalah biang penasaran. Karena sebelumnya, Shield menjadi pemeran utama dalam film "The Blue Lagoon". Dimana ia tampil full naked alias telanjang. Momentum penasaran itu yang ingin terus dijaga CK dengan memotret Shield yang memakai celana jeans super ketat dan dipanggul seorang pria. Bagi para pengusaha kecil, "penasaran" juga seringkali menjadi cara termurah untuk mempromosikan produk atau jasa yang mereka jual. Tidak perlu strategi yang rumit. Cukup sedikit imajinasi dan kreatifitas untuk membuat orang penasaran. Kadang cara-cara mereka sukar dijelaskan secara akademis. Adakalanya mereka juga menabrak aturan dan pakem yang lazim. Tidak jarang, cara-cara mereka cukup gila, nyeleneh, ngawur, tetapi sesungguhnya kalau kita pikir-pikir terkadang justru sangat sederhana dan masuk akal. Di Ubud, Bali, juga ada warung kecil yang menjual nasi campur ala Bali. Warung ini dikenal dengan Warung Ibu Oka. Setiap hari warung ini buka sekitar pukul 11.00 WITA. Tapi, biasanya jam 30 menit sebelumnya, konsumen telah banyak berdatangan. Uniknya mereka dengan sabar menunggu hingga warung buka. Lalu antara pukul 14.30 WITA hingga jam 15.00 WITA, warung ibu Oka biasanya sudah ludes dan kemudian tutup. Anehnya, ia tidak pernah tergoda untuk membuka lebih pagi atau paling tidak menutup warungnya lebih sore atau bahkan membuka cabang. Padahal jualannya laris luar biasa. Sikap ibu Oka, yang membatasi kegiatan bisnisnya ini boleh dibilang merupakan sebuah manajemen pemasaran yang unik. Buktinya setiap hari, selalu saja ada konsumen yang datang, tetapi tidak kebagian, sehingga menjadi penasaran. Kebanyakan konsumen yang tidak kebagian itu akan datang lebih pagi lagi agar kebagian. Untuk menambah keyakinan Anda agar memiliki rasa penasaran yang tidak terbatas. Kafi kemudian mengutip kalimat Carl Sagan dan Ann Druyan dalam buku mereka yang berjudul "Shadows of Forgotten Ancestors: A Search for Who We Are". "Rasa penasaran adalah motivasi yang ampuh untuk memacu manusia untuk melakukan sebuah eksplorasi dan berusaha menemukan sesuatu. Proses penemuan ini, merupakan bagian dari naluri kita untuk tetap bertahan," pungkasnya.� (rhs)- Mochammad Wahyudi - Okezone

Read More......

Gempa Sektor Finansial

Gempa Sektor Finansial

RAMALAN banyak pihak bahwa krisis kredit perumahan di Amerika Serikat (subprime mortgage) masih berdampak panjang ternyata benar. Meski sementara pihak sudah memperkirakan bahwa krisis tersebut akan mengguncang perekonomian dunia, yang terjadi akhir-akhir ini tetap saja mengejutkan. Krisis tersebut telah banyak memakan korban para pelaku sektor finansial di belahan dunia Barat tanpa kecuali. Perusahaan finansial sekelas Citibank pun harus bekerja keras menyelamatkan diri untuk keluar dari krisis, bahkan sampai mengundang investor baru dari luar negeri. Berita kerugian dan penurunan laba secara signifikan terus menghiasi berita ekonomi dan bisnis dunia. Yang mengejutkan, berita buruk tersebut diumumkan oleh lembaga keuangan yang selama ini dianggap sangat sakti dalam percaturan ekonomi dunia.

Berita terakhir yang mengguncang sektor finansial Amerika Serikat adalah pengajuan kebangkrutan Lehman Brothers, salah satu perusahaan sekuritas terkemuka. Di masa jayanya, Lehman Brothers selalu dipandang sebagai salah satu penasihat dan konsultan keuangan dunia kelas wahid. Beberapa perusahaan besar di Indonesia pernah memakai jasa mereka untuk melakukan restrukturisasi keuangan. Kabar tersebut tentu merupakan kelanjutan dari berita-berita tidak sedap lain yang sudah keluar sebelumnya dan selalu mengguncang perekonomian dunia, terutama bursa saham. Berita kebangkrutan terjadi di saat tren penurunan harga minyak bumi. Mungkin kita semua akan bingung melihat fenomena harga minyak tersebut. Ketika harga minyak naik mendekati USD150, semua pihak resah dan akhirnya pemerintah harus menaikkan harga BBM bersubsidi yang kemudian diikuti laju inflasi. Ketika harga minyak turun, ternyata kita juga jauh dari rasa lega karena penurunan menyeret penurunan harga beberapa komoditas yang kebetulan menjadi andalan Indonesia seperti kelapa sawit, batu bara, dan bahan tambang lain. Melihat kondisi seperti itu, kesimpulan awalnya adalah perekonomian dunia dalam kondisi turbulensi yang sarat dengan volatilitas. Naik turunnya harga minyak, misalnya, terjadi secara drastis di mana suatu saat harga naik secara cepat seolah tanpa penghalang, namun ketika harga turun juga terjadi secara cepat. Dominannya unsur spekulasi dalam penentuan harga minyak dan komoditas lain merupakan penyebab utama volatilitas perekonomian dunia. Kuatnya unsur spekulasi juga terjadi di pasar uang dan pasar modal. Perilaku spekulasi seperti ini telah menjadi karakteristik dalam perdagangan saham dan komoditas di negara maju seperti Amerika Serikat. Hal itu bahkan telah menjadi simbol kesuksesan beberapa pelaku di bursa, apalagi ditunjang dengan media yang cenderung mengangkat kisah kesuksesan itu-yang terkadang kurang proporsional. Yang tidak diungkap media tentu saja beberapa kisah kegagalan spekulan lain yang jumlahnya mungkin lebih besar daripada yang berhasil. Terlepas dari itu, perilaku spekulasi ini tidak bisa dihilangkan begitu saja. Mungkin yang bisa dikontrol adalah spekulasi yang terlalu berlebihan. Kongres AS pernah mencoba untuk meredam spekulasi harga minyak bumi dan ketika proses tengah berlangsung, kebetulan harga sudah menunjukkan tendensi menurun. Gempa finansial yang melanda Indonesia melalui penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) secara drastis, pelemahan nilai rupiah, serta seretnya likuiditas perbankan tentu tidak bisa hanya dianggap sebagai imbas dari krisis keuangan di AS yang akan hilang begitu saja. Mungkin agak sulit dimengerti mengapa gempa tersebut terjadi di tengah solidnya fundamental makro perekonomian Indonesia seperti laju pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan bisa lebih dari 6 persen tahun ini. Pemerintah dan Bank Indonesia masih harus mewaspadai beberapa indikator makro lain seperti neraca perdagangan yang sempat defisit sebagai akibat menurunnya harga beberapa komoditas ekspor utama Indonesia. Selain itu, yang harus diwaspadai adalah perkembangan cadangan devisa yang mungkin terpakai untuk mempertahankan nilai rupiah, dan tentu laju inflasi yang ternyata tidak mudah dijinakkan oleh kenaikan tingkat bunga yang secara teratur dilakukan oleh BI. Satu hal yang sudah pasti, perekonomian Indonesia mudah mengalami overheating, sehingga inflasi terus melaju seiring peningkatan permintaan kredit. Upaya ekstrakeras perlu dilakukan pemerintah dan BI agar gejala overheating ini bisa cepat-cepat diredam tanpa harus mengorbankan laju pertumbuhan yang sebenarnya menjanjikan. Penurunan IHSG juga harus ditanggapi secara dingin dan dijauhkan dari rasa panik. Dengan fundamental perekonomian yang masih kuat serta fundamental perusahaan-perusahaan yang juga cukup baik, para pelaku diharapkan berpikir jangka panjang. Investor diharapkan tidak terburu-buru melakukan aksi jual, yang hanya akan melemahkan bursa saham Indonesia. Justru saat inilah saat yang tepat untuk mulai membeli saham-saham prospektif dengan harga murah. Adapun bagi perusahaan, inilah saatnya untuk membeli kembali saham-saham mereka. Pelemahan rupiah memang perlu dijaga BI agar tidak menciptakan krisis rupiah itu sendiri. Namun perlu dipertimbangkan juga dampak jangka pendek yang positif, seperti makin kompetitifnya harga komoditas serta menciptakan daya tarik tersendiri bagi investor asing untuk kembali ke bursa Indonesia. Krisis saat ini memberi pelajaran bagi kita bahwa perekonomian nasional harus dijaga secara ketat agar tidak menjadi korban spekulasi yang berlebihan, serta menjauhkan diri dari praktik-praktik bisnis yang tidak sehat meskipun menguntungkan. AS sudah berkali-kali menjadi korban junk bond yang ironisnya menjadi buruan para spekulan. Kali ini krisis subprime mortgage, yang bisa juga dikategorikan junk bond, telah memukul tidak hanya sektor finansial AS, melainkan juga dunia. Paham kapitalisme mungkin membawa manfaat sampai titik tertentu, tapi harus diwaspadai pada keadaan di mana perilaku penganutnya sudah melampaui batas dan cenderung menghalalkan segala cara demi keuntungan. Pelajarannya adalah, ketamakan beberapa pihak bisa menyengsarakan banyak sekali umat manusia di atas bumi ini. PROF BAMBANG BRODJONEGORO Guru Besar dan Dekan FEUI

Read More......

Investasi di Pasar Modal: Pilih Langsung atau Lewat Manajer Investasi?

Investasi di Pasar Modal: Pilih Langsung atau Lewat Manajer Investasi?

Investasi di pasar modal bisa dilakukan investor dengan dua cara, langsung atau tidak langsung. Kalau yang dipilih investasi langsung berarti investor menentukan dan mengelola sendiri produk yang menjadi sasaran investasinya. Sedangkan bila yang dipilih investasi tak langsung, berarti pengelolaan investasinya dilakukan oleh manajer investasi. Lalu mana yang lebih menguntungkan, mengelola sendiri atau menyerahkan kepada manajer investasi? Ilustrasi pertanyaan di atas merupakan pertanyaan yang kerap muncul pada calon investor yang akan berinvestasi di pasar modal. Terlebih lagi mereka umumnya tahu bahwa investasi di pasar modal merupakan bentuk investasi yang pada hakekatnya tidak langsung? Investasi dikatakan sebagai suatu upaya mengelola uang dengan cara menyisihkan sebagian dari uang tersebut untuk ditanam dalam bidang-bidang tertentu dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa datang. Sementara itu orang atau setiap pihak yang melakukan upaya tersebut dikatakan sebagai investor. Selanjutnya dalam aktivitas investasi pakar membagi dua bentuk investasi yakni� langsung (direct) dan tidak langsung (indirect).� Yang dimaksud dengan investasi langsung dalam teori investasi secara umum adalah upaya mengelola uang atau aset secara langsung pada jenis atau bidang usaha tertentu misalnya mendirikan pabrik, mendirikan toko atau membentuk perusahaan atau bisa pula berupa membeli tanah, rumah dan bangunan atau membeli emas dan sebagainya,� untuk kemudian dijual kembali. Investasi langsung disebut juga sebagai investasi nyata (real investment). Sementara itu penjelasan mengenai indirect investment atau investasi tidak langsung merupakan aktivitas menanam uang secara tidak langsung melalui suatu jenis usaha tertentu seperti membeli saham, obligasi, menanam uang pada deposito di bank dan sebagainya. Investasi tidak langsung disebut juga sebagai investasi keuangan (financial investment). Jadi pengertian investasi secara teori memperlihatkan bahwa investasi di pasar modal tergolong sebagai investasi tidak langsung alias indirect investment. Nah, kalau investasi di pasar modal sudah masuk kategori tidak langsung, kenapa pula banyak pelaku pasar yang mengatakan bahwa investasi di pasar modal bisa dilakukan secara langsung? Penjelasannya begini. Yang dimaksud berinvestasi di pasar modal masuk kategori langsung, apabila investor mengelola sendiri investasinya. Produk yang menjadi sasaran investasi (saham atau obligasi) dikelola sendiri, harga, jumlah saham yang dibeli serta berbagai risiko yang ada dianalisa sendiri oleh investor. Dalam investasi langsung ini setidaknya investor memahami dan mengetahui bahwa setiap bentuk dan jenis investasi memberikan tingkat keuntungan dan risiko yang berbeda-beda. Semakin besar kemungkinan tingkat keuntungan dari suatu investasi maka semakin besar pula tingkat risikonya. Mengelola risiko guna mendapatkan hasil yang optimal sangat dipahami oleh investor, sehingga ia dikatakan sebagai berinvestasi di pasar modal secara langsung. Selain paham dan mengerti tentang seluruh aspek (karakteristik produk, trend pasar dan sebagainya), konsekuensi logis dari investor yang memilih aktivitas investasi langsung di pasar modal adalah nilai modal yang diinvestasikan. Untuk membeli saham saja minimal volume pembelian adalah satu lot (setara dengan 500 lembar). Jadi kalau harga per lembar saham ada pada kisaran Rp1.000 dengan demikian dana yang harus disiapkan adalah Rp500 ribu. Itu baru pada produk saham. Kalau investasi dilakukan investor dalam membeli obligasi tentunya dana yang disiapkan jumlah lebih besar lagi, sebab denominasi (pecahan obligasi) umumnya cukup besar. Kalau obligasi yang diterbitkan pemerintah seperti ORI denominasinya ada yang Rp 1 juta, sedangkan kalau yang diterbitkan korporasi denominasinya lebih besar lagi ada yang minimal Rp 1 miliar. Walhasil dengan fakta tersebut dalam investasi langsung di pasar modal, setidaknya dibutuhkan dana yang cukup besar. Apalagi bila investor itu akan membentuk portofolio guna menekan risiko dan mengoptimalkan keuntungan. Dana dan biaya yang ditempatkan tentunya lebih besar lagi. Atas dasar itu, maka pelaku pasar modal menawarkan investasi di pasar modal yang aktivitasnya tidak langsung. Dikatakan tidak langsung karena investor gak perlu lagi berpikir, tentang kondisi pasar, karakteristik produk dan sasaran investasi produk yang akan dibeli (saham atau obligasi dan sebagainya). Di samping itu� investor yang memilih aktivitas investasi tidak langsung (indirect investment)� ini membawa dananya� untuk diinvestasikan di pasar modal. Pendeknya ongkos dan biayanya relatif kecil dan disesuaikan dengan kemampuan investor. Untuk berinvestasi secara tidak langsung ini, pilihan produknya hanya satu yakni reksa dana. Kendati produknya hanya satu yakni reksa dana, tapi jenis reksa dana variasinya cukup banyak. Ada reksa dana� saham, reksa dana obligasi, reksa dana campuran, reksa dana pasar uang, reksa dana tematik dan reksa dana khusus. Reksa dana khusus dan reksa dana tematik ini dibuat dengan tujuan tertentu. Tujuan tertentu biasanya terkait dengan produk yang menjadi pilihan. Proses manajemen investasi yaitu bagaimana seorang manajer investasi mengelola uang. Proses ini membutuhkan suatu pemahaman terhadap berbagai jenis investasi, cara penilaian investasi tersebut, dan berbagai strategi yang dapat digunakan untuk menyeleksi jenis investasi yang seharusnya dimasukkan dalam portofolio untuk dapat mencapai tujuan-tujuan investasi. Jadi ia tak perlu lagi direpotkan dengan ekspektasi, analisa dan peramalan yang terkait dengan pergerakan harga portofolio yang ada di reksa dana itu, karena telah dikelola dan diperhitungkan oleh manajer investasi. Jadi pada sisi inilah banyak investor pemula dengan modal terbatas disarankan untuk berinvestasi di reksa dana ini. Alasannya tidak lain karena proses pengelolan risiko dan return dilakukan oleh manajer investasi. Pengelola risiko dan return kepada manajer investasi ini dikatakan sebagai aktivitas investasi tak langsung di Pasar Modal. (tim bei) (//mbs) okezone

Read More......

CREATING A TEAM

Dibuat dan disadur oleh : MM53
Suatu tim dibentuk dengan menspesifikasi suatu tujuan dan juga dengan cara merancang suatu keanggotaan yang mempunyai atau berkeinginan untuk mengembangkan kapabilitas yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut. Kapabilitas yang relevan sangat dibutuhkan untuk melakukan tugas tim dan juga untuk membuat anggota dapat bekerja sama secara efektif.

Sebelum mulai bekerja, sebuah tim harus menetapkan beberapa pertanyaan. Pertama, kemana tujuan sebuah tim dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut where is the team headed and what must it do to get there? Hal ini berarti penetapan tujuan (goal) tim, memastikan bahwa seluruh anggota tim mempunyai tujuan yang sama, dan meidentifikasi tugas apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Kedua, siapa saja anggota sebuah tim (who are the team members) ? Ini berarti mengidentifikasi kemampuan dan pengalaman serta mendeterminasi apakah hal tersebut akan dapat membantu tim dalam mencapai tujuannya. Penyesuaian perlu dilakukan apabila kemampuan dan pengalaman anggota tim tidak mencukupi untuk mencapai tujuan tim. Ketiga, bagaimana tim akan melakukan pekerjaannya (how will the team do its work) ? Hal ini membutuhkan pengembangan dalam kebijakan-kebijakan mengenai bagaimana anggota tim bekerja sama untuk mencapai tujuan. Kebijakan ini berasal dari konsep saling ketergantungan dan kontras dengan saling ketergantungan antar anggota. Keempat, apa yang memperkuat prestasi/kinerja tim (what enhance the team’s performance) ? Hal ini memperlihatkan bagaimana faktor-faktor yang memfasilitasi tingginya kinerja ditetapkan dan di dukung, dan bagaimana factor yang mengurangi kinerja dihindari. WHERE IS THE TEAM HEADED? “Kemana tujuan sebuah tim” berarti “apakah yang menjadi tujuan (goal) tim”. Pertanyaan ini dimaksudkan untuk menetapkan visi dari tujuan yang ini diraih sebuah tim, hal ini pulalah yang mengikat sebuah tim dan membuat mereka tetap bersatu selama proses pencapaian tujuan. Namun hal ini kadang kala sering tidak dilakukan, artinya seringkali anggota tim merasa bahwa tujuan mereka sudah jelas dan sejalan sehingga mereka meneruskan tanpa berdiskusi. Walaupun tim telah diberikan definisi tujuan secara jelas, tetap terdapat kemungkinan ada anggota tim yang keliru. Tim yang diberikan tujuan yang tidak jelas, akan menyebabkan seluruh anggota keliru dan tidak menyadari tujuan tersebut. Hal ini akan menyebabkan ketidak efektifan dalam menjalankan tugas yang akan membuat tim menyimpang dari tujuan sebenarnya. Oleh karena itu setiap anggota tim harus mengerti dengan benar apa yang menjadi tujuan tim. Selain itu setiap anggota tim harus menyadari bahwa tujuan dapat diraih dalam tingkat kualitas yang berbeda-beda: rendah, rata-rata, atau tinggi. Tim harus menentukan tingkat mana yang harus mereka raih. Menentukan langkah yang terbaik untuk mencapai tujuan dapat menjadi suatu tantangan tersendiri, biarpun tim tersebut sudah diberikan tugas tertentu secara jelas. Kata “terbaik” pada konsep diatas dapat diartikan sebagai: paling efisien, paling memuaskan untuk seluruh anggota tim, keterampilan dan pengalaman anggota yang paling tepat, dan yang paling mungkin untuk meraih visi dari tim. WHO ARE THE TEAM’S MEMBERS? Membentuk suatu tim terdiri dari dua proses, yaitu pada saat anggota yang bersifat individu menjadi suatu unit pelaksana (yaitu tim), sedangkan proses kedua adalah pada saat tim tersebut mulai untuk mengejar suatu tujuan. Untuk dapat melaksanakan kedua proses tersebut, maka dibutuhkan dua tipe keterampilan/keahlian, yaitu: Keterampilan ini dibutuhkan untuk menjalankan tugas tertentu yang harus dilakukan dalam upaya mencapai tujuan. Contoh: keterampilan bermain musik yang harus dipunyai oleh pemusik. Keterampilan ini memungkinkan anggota untuk dapat saling berinteraksi dalam rangka memudahkan pengerjaan tugas dan kemajuan dalam meraih tujuan. Keterampilan sosial diharapkan dapat membuat anggota tim untuk berdiskusi untuk menentukan keterampilan apa yang harus mereka sumbangkan, bagaimana cara terbaik untuk mengkoordinasi kegiatan mereka, dan bagaimana cara terbaik untuk memecahkan masalah mengenai perbedaan pendapat.Bermacam-macam keterampilan sosial sangat dibutuhkan dalam menjalankan sebuah tim, termasuk didalamnya adalah keterampilan pengambilan keputusan, pemecahan masalah, negosiasi, tawar-menawar, perencanaan, dan komunikasi, serta keterampilan untuk menjalankan rapat yang produktif. Pengalaman bisa berguna maupun tidak berguna untuk tim baru tergantung dari apa yang telah dipelajari oleh anggota kelompok. Pengalaman positif yang dahulu pernah diperoleh dapat menjadikan individu mengerti seberapa efektif suatu tim bekerja. Akan tetapi pengalaman dapat pula memberikan akibat negative apabila pengalaman itu berisi ketidakpuasan atau bahkan mungkin kegagalan. Tidak semua pengalaman nersifat relevan, seberapa bergunanya pengalaman tergantung dari apa yang dipelajari orang tersebut dan seberapa baik pengalaman tersebut untuk digunakan dalam situasi yang baru atau berbeda. Langkah tim dalam mencapai tujuannya melibatkan pengerjaan tugas oleh setiap anggota yang menggerakkan tim menuju tujuannya. Kerjasama tim biasanya dapat dilihat dari tingkat saling ketergantungannya. Saling ketergantungan merupakan jantung dari kerjasama tim. Hal inilah yang menjadi tim dengan rasa ketergantungan menjadi lebih baik dibandingkan sekelompok orang dengan jumlah anggota yang sama namun bekerja secara individual. Akan tetapi rasa saling ketergantungan yang efisien bisa jadi sangat sulit untuk diperoleh dan dijaga. Terdapat tiga ilustrasi skenario mengenai dampak dari rasa saling ketergantungan: Sebuah tim dengan anggota lima orang diharapkan untuk menyelesaikan laporan tentang lima produk dari lima perusahaan yang sedang bersaing. Pada skenario ini, semua anggota tim berkumpul dan memutuskan bahwa setiap anggota masing-masing menganalisa satu perusahaan dan produknya. Dalam skenario ini ada dua anggota yang bekerja lebih lama dari anggota lainnya, sedangkan satu orang kesulitan dalam mencari informasi. Setelah semua selesai, laporan-laporan tersebut dijadikan satu. Hasilnya adalah (dengan skala 0 – 10, 0 berarti gagal dan 10 berarti sukses) nilai 10 untuk menyelesaikan laporan 5 untuk kualitas, dan 4 untuk lama waktu pengerjaan. Sama seperti pada skenario 1, masing-masing anggota diminta menganalisa satu perusahaan. Bedanya, dalam tim ini dipilih satu ketua yang kemudian merumuskan dua panduan dalam bekerja. Pertama, adalah kerjasama antar setiap anggota melalui berbagai cara yang memungkinkan, sehingga tercapai kualitas yang tinggi dalam waktu yang singkat. Kedua, bagi anggota yang mempunyai keterampilan dan pengalaman untuk menggunakan kemampuannya untuk membantu anggota yang lain. Hasil yang didapat adalah 10 untuk menyelesaikan laporan, 8 untuk kualitas, dan 9 untuk waktu pengerjaan. Hampir sama seperti skenario 2, yaitu masing-masing anggota membuat laporan tentang satu perusahaan dan juga dipilih satu ketua tim. Akan tetapi pada scenario ini, banyak hal-hal yang merugikan kerjasama tim. Pertama, adanya anggota yang kurang puas karena tidak terpilih menjadi ketua, padahal dia merasa lebih berpengalaman, hal ini menyebabkan dia enggan untuk berbagi dengan anggota lainnya. Selain itu salah satu anggota lebih condong membantu tim lain, karena dia merasa bahwa di tim tersebut lebih penting untuk peningkatan karirnya. Berdasarkan kondisi tersebut, maka terjadi penurunan kinerja dan meningkatkan frustasi di dalam tim. Hasil yang dicapai tim ini adalah 10 untuk menyelesaikan tugas, 3 untuk kualitas laporan, dan 2 untuk waktu penyelesaian. yaitu adalah tujuan tersembunyi yang dipunyai oleh anggota tim untuk dirinya sendiri, yang bukan merupakan tujuan utama dari tim tersebut. Hal ini dapat menimbulkan dampak negatif bagi performa tim. Terdapat dua cara untuk mengembangkan dan menjaga rasa saling keterkaitan: Hal ini mengacu kepada bagaimana tugas tim atau akitivas yang berhubungan dengan tugas diatur guna meningkatkan rasa saling ketergantungan. Ketergantungan secara struktural dapat dibagi dua: ketergantungan diantara anggota tim dapat dibangkitan melalui beberapa strategi yang melibatkan bagaimana tim menjalankan tugasnya: Perlengkapan dapat menciptakan saling ketergantungan. Sebagai contoh, dalam suatu permainan yang terdiri dari dua orang, satu orang bertugas untuk mengendalikan kemudi, sedangkan yang lainnya bertugas mengendalikan rem. Hal ini tentunya harus ada saling ketergantungan agar dapat berjalan dengan baik. Menetapkan tanggung jawab ke seluruh anggota tim untuk meraih tujuan tim. Hal ini merupakan tanggung jawab bersama. Sebagai contoh, pelatih atletik memberikan hukuman kepada seluruh anggota tim apabila ada sebagian dari mereka yang tidak mencapai standar latihan yang diberikan. Strategi ketiga melibatkan peraturan yang dapat meningkatkan rasa saling ketergantungan. Sebagai contoh, peraturan dapat menetapkan tentang perlunya untuk membagi sumber daya, saling membantu antar sesama, bergantian giliran, memilih jawaban terbaik yang dihasilkan tim. Aturan mengenai bagaimana sumber daya yang berbeda akan digunakan oleh anggota tim dalam rangka mengembangkan rasa saling ketergantungan. Apabila masing-masing anggota tim hanya mempunyai satu keterampilan untuk mengerjakan tugas, maka saling ketergantungan/kerjasama adalah esensi untuk menyelesaikan tugas tersebut. Anggota tim harus membantu satu sama lain. menyangkut masalah mengenai apakah hasil akhir merupakan kerja tim secara keseluruhan atau kerja tim secara individual. Hasil akhir dapat dijadikan sarana untuk meningkatkan saling ketergantungan. Apabila pengukuran hasil akhir mereflesikan performa tim sebagai satu kesatuan, dibandingkan performa secara individu, maka rasa saling ketergantungan menjadi meningkat. Selain itu penugasan disertai dengan imbalan untuk tim secara keseluruhan juga akan meningkatkan rasa saling ketergantungan. Contohnya adalah pemberian bonus untuk seluruh anggota tim, peningkatan gaji untuk seluruh anggota tim. Namun untuk dapat mencapai hal tersebut, maka saling ketergantungan harus dapat diciptakan terlebih dahulu. Karena itu sebaiknya tim menetapkan beberapa aturan berikut: Setiap anggota tim saling membantu dengan cara memberikan kritik, baik secara verbal maupun tertulis. Selain itu, tim harus mengenali perbedaan keterampilan dari setiap anggotanya, tim juga harus menetapkan bahwa keterampilan masing-masing anggota harus bisa membantu anggota lainnya yang membutuhkan. Masing-masing anggota tim harus pula berkonsultasi dengan karyawan lain di divisi mereka, lalu hasil konsultasi tersebut dibagikan pula ke seluruh anggota tim dalam diskusi tim. Desain dan laporan, yang merupakan karya dari tim, harus diakui dan dipresentasikan sebagai produk dari tim. Apabila bonus diberikan sebagai kompensasi dari hasil kerja, maka harus diberikan kepada tim sebagai satu kesatuan bukan hanya kepada anggota yang berprestasi saja, apabila hal ini dilakukan maka rasa saling ketergantungan akan semakin meningkat. Behavioral Interdependence Hal ini berfokus kepada seberapa banyak rasa saling ketergantungan secara aktual terjadi. Terdapat pula indikasi bahwa perilaku untuk saling ketergantungan (behavioral interdependence) bisa jadi tidak berhubungan dengan bagaimana tugas ataupun hasil performa yang telah disusun sebelumnya. Karena walaupun tugas dan hasil yang ingin dicapai disusun sedemikian rupa guna meningkatkan rasa saling ketergantungan, respon masing-masing individu bisa bermacam-macam dalam menerapkan hal tersebut. Sebagai contoh, meskipun rencana tugas telah dirancang untuk memperoleh rasa saling ketergantungan secara optimal, satu atau dua anggota mungkin saja menolak dan bertindak secara individu. Sebagai konsekuensinya, menaksir seberapa besar tingkat ketergantungan dan tingkat individualisme sangat penting dilakukan. Keterlibatan anggota adalah penting untuk setiap prestasi kelompok, terutama ketika para anggota kelompok bebas. Satu anggota dalam kelompok bila tidak dilibatkan dapat mengganggu segala proses orientasi tujuan kelompok. Tidak adanya keterlibatan anggota kelompok tidak hanya kehilangan untuk kelompok, yang melibatkan anggota kontribusi untuk meraih tujuan kelompok, itu juga menghasilkan kemarahan di dalam kelompok yang lain, sering kali menghasilkan sesuatu penurunan yang menyeluruh didalam usaha. Kepuasan atau ketidakpuasan dapat diperoleh dari satu atau kombinasi dari sumber: Adanya harapan dari masing-masing anggota kelompok untuk bergabung dalam satu kelompok. Anggota mendapat pengalaman yang puas dan / atau tidak puas . kepuasan dapat dating dari penggunaan suatu keahlian untuk memajukan kelompok kearah tujuan, dari pembelajaran keahlian baru, atau dari meningkatkan apa yang telah ada. pertimbangan adaah pengalaman anggota’ megetahui dan mengenalikontribusi lainnya untuk prestasi kelompok. sumber utama dari kepuasan, ketika tujuan kelompok adalah mencapai pada atau diatas tingkat keinginan dari kualitas. Perbedaan anggota karakteristik kelompok. Anggota akan memilih karena secara implicit atau eksplisit mereka berbeda. Mereka mempunyai keahlian yang berbeda, perbedaan pendapat, perbedaan kepribadian, dan perbedaan latar belakang. Dimana perbedaan adalah sumber dari kekuatan, itu juga menantang. Perbedaan dalam tafsiran dari tujuan kelompok harus menjadi identifikasi dan tunggal, membagi secara bersama perspective pengembangan. Perbedaan aktivitas relevan untuk mencapai tujuan kelompok harus diidentifikasi dan dikoordinasikan pada kebiasaan dimana fasilitas tujuan prestasi. ilustrasi, point kunci siapa yang sering memilih dan merancang yang memiliki asumsi aturan kepemimpinan, beberapa dari mereka pitfall untuk menghindari dalam menujukan masalah perilaku poses. Pertama adalah untuk kelompok untuk menujukan kesalahan. Kedua untuk anggota kelompok bertanya untuk berubah pada peningkatan performa kelompok dan mencapai tujuan lebih dari pada menyakiti personal. Ketiga adalah untuk kelompok lainnya untuk focus pada peningkatan performance dan mencapai tujuan lebih dari pada menyatakan setiap kegagalan orang lain. Akhirnya, yang sangat penting untuk memberi selamat kepada anggota kelompok siapa yan mengatakan untuk berubah, kapan berubah, yang mana dapat melambat dalam datang, dan benar-benar terjadi. Komunikasi anggota adalah pada hati dari prestari kelompok yang efektif. Komunikasi yang efektif memungkinkan kelompok untuk mengalamatkan masalah yang menjadi penghalang untuk koordinasi aktivitas anggota. Ini artinya dimana anggota perusahaan mendukung pada semua kekuatan lainnya. Ini bagaimana konflik dan keuntungan adalah dialamatkan pada kalkuan yang positif. Ini bagaimana memberikan pengakuan untuk kelompok lainnya.Hubungan anggota adalah karakteristik dengan komunikasi. Jika interaksi adalah task-orinted, discussion akan menjadi kira-kira memerlukan aktivitas untuk mencapai tujuan kelompok dan bagaimana anggota akan kelakuan aktivitas lainnya. Dengan kata lain, proses perencanaan tim. Jika angota kelompok tidak berorientasi pada tugasnya, mereka mungkin mendiskusikan dari setiap variasi topic. Pada kasus lainnya, pengamatan pada hubungan komunikasi. Struktur komunikasi diantara anggota kelompok sangat diharapkan. Variasi dalam frequensi pengiriman dan penerimaan pesan tidak merugikan pada performa kelompok sepanjang perbedaan dalam jumlah pembicaraan yang tidak begitu baik. Ketika perbedaan datang sangat baik, ini ketika beberapa anggota kelompok berbicara dan membicarakan pada seringnya dan berbicara lainnya dan dengan jarangnya pada pembicaraan yang ekstrim tidak semua, performa kelompok seperti menjadi negative dibuat-buat. Ukuran kelompok dapat mempunyai pengeruh pada performance kelompok salah satunya secara langsung atau tidak langsung kepada beberapa proses yang meliputi tingkat partisipasi anggota, kesulitan dari mencapai consensus, dan tantangan pada kepemimpinan. Dengan luas pembicaraan , sebagai ukuran kenaikan–kenaikan kelompok, sumber daya yang ada untuk kelompok. Meningkatnya sumber daya dapat bermaksud pada besarnya keahlian kelompok, ilmu pengetahuan, dan dari pengalaman untuk digambarkan. Lingkungan kelompok selalu berpengaruh. Satu kelompok melaksanakan dalam lingkungan, secara umum besarnya organisasi , kadang memiliki investasi yang baik pada kelompok menuju kebarhasilan tujuan. Lingkungan dapat mempengeruhi performance kelompok. Banyak factor dalam lingkungan kelompok dapat fasilitas atau menghalangi performance kelompok. Ini sering khusus untuk keterangan tertentu kelompok. Ada 4 cara dalam memilih lingkungan kelompok dapat mempengaruhi performance dalam kekhususan pada tujuan kelompok dan tingkat kualitas pengharapan; pada penyediaan sumber daya, meliputi personil untuk mengejar tuuan; pada tingkat dukungan untuk mengarahkan proses tujuan kelompok; dan pada evaluasi dan penghargaan untuk produk yang menghasilkan dari tujuan kelompok menuju keberhasilan. Pengaruh nya membutuhkan untuk menjadi pertimbangan sebagai kelompok menciptakan dan memproses tujuan, sejak masing-masing dapat secara signifikan mempunyai pengaruh yang kuat pada performance kelompok.

Read More......

PDB is Positioning, Differentiation and Brand

INTI dari marketing sebenarnya adalah Positioning, Differentiation, dan Brand (PDB). Ya, marketing itu bukan sekadar Marketing-Mix atau yang dikenal juga sebagai 4P (product-price-place-promotion). Sebab, marketing-mix tanpa PDB jadinya bersifat komoditas dan me-too saja, bisa dengan mudah ditiru oleh pesaing. Juga bukan Segmentation-Targeting-Positioning (STP) semata, walaupun ini juga penting. Sebab, Positioning yang tidak didukung Differentiation yang solid akan percuma.

Cuma sekadar janji kosong. Banyak orang yang juga masih salah paham, dikiranya marketing itu identik dengan Selling. Karena banyak orang yang kerjaannya jualan (selling), tapi di kartu namanya tertera posisi sebagai marketing. Lebih repot lagi ketika orang mulai menganggap bahwa marketing adalah A&P alias Advertising and Promotion. Orang jadi takut mendengar istilah marketing, karena kuatir akan menghabiskan banyak uang namun hasilnya belum jelas, spend money for nothing. Belum lagi kekacauan pengertian Marketing Public Relations (MPR), di mana public relations (PR) seolah-olah untuk membangun citra (image), sementara marketing untuk jualannya. Event-event MPR mesti ada sponsorship plus berjualan langsung di tempat. Bagi saya, itu semua salah kaprah. Saya sendiri dalam buku-buku yang saya tulis dengan Philip Kotler selalu mengatakan bahwa yang namanya Marketing itu sebenarnya ada 9 elemen—yang terdiri dari 3 elemen Strategi, 3 elemen Taktik, dan 3 elemen Value—dengan PDB sebagai intinya. Tiga elemen Strategi adalah Segmentation, Targeting, dan Positioning (STP), dengan Positioning sebagai intinya. Tiga elemen Taktik adalah Differentiation, Marketing-Mix, dan Selling (DMS), dengan Differentiation sebagai intinya. Sementara tiga elemen Value adalah Brand, Service, dan Process (BSP), dengan Brand sebagai intinya. Inti strategi marketing dari sebuah perusahaan mencakup PDB ini. Pertama adalah bagaimana kita mampu secara tepat memposisikan produk, merek, atau perusahaan kita di benak pelanggan. Kedua, bagaimana kita bisa menopang positioning yang tepat ini dengan diferensiasi yang kokoh. Dan ketiga, kalau kita sudah mampu memposisikan diri secara tepat dan mem-back-up-nya dengan diferensiasi yang kokoh, maka langkah selanjutnya adalah bagaimana kita membangun brand kita secara berkelanjutan. Walaupun intinya memang PDB, namun kesembilan elemen marketing tadi tetap memiliki peran masing-masing yang tidak kalah pentingnya. Sebuah program marketing haruslah tetap mempraktikkan kesembilan elemen itu secara komprehensif, tanpa kecuali. Artinya, suatu pernyataan positioning harus sesuai dengan segmen yang ditetapkan dan sesuai dengan target yang dituju. Juga, differentiation harus tetap diterjemahkan secara kreatif ke dalam marketing-mix dan dipahami oleh para salesman. Begitu pula brand value harus terus ditingkatkan oleh servis yang memuaskan dan process yang efisien. Jadi, PDB memang harus kuat, namun tetap tidak boleh terpisah dari elemen lainnya. Sekarang ini sudah banyak orang dari berbagai kalangan non-bisnis seperti artis, politisi, akademisi, dan sebagainya yang menggunakan PDB. Model ini memang sederhana tapi solid sehingga bisa diterapkan oleh banyak orang yang awam marketing sekali pun. Saya sendiri selalu menggunakan PDB ini pada berbagai kesempatan, bukan cuma di Indonesia tapi juga di luar negeri. Misalnya ketika saya mengajar di Nanyang Business School Singapura, Universiti Putra Malaysia tempat saya kebetulan juga jadi Adjunct Professor, dan juga di University of St. Gallen Swiss. Atau seperti ketika saya mengajar di Sekolah Staf Perwira Tinggi (Sespati) Polri dan Sekolah Staf Dinas Luar Negeri (Sesdilu) untuk diplomat-diplomat di Departemen Luar Negeri. Semua kasus sukses kalau dianalisis pasti ada PDB yang solid, baik pelakunya melakukannya secara sengaja atau tanpa sengaja, baik ia mengerti atau tidak mengerti teorinya. Itu tidak terlalu penting. Yang lebih penting ia sudah menerapkan PDB ini, baik diakui maupun tidak. Di Indonesia, kasus-kasus marketing yang sukses seperti Lux, Lifebuoy, Toyota Kijang terlihat memiliki PDB yang solid. Sementara, kasus Timor menunjukkan bahwa perusahaan ini gagal karena PDB-nya tidak jelas. Perumusan positioning sebagai mobil nasional ternyata tidak didukung oleh diferensiasi yang kuat. Selain itu, kondisi politik waktu itu juga cukup berpengaruh. Jadi, sengaja atau tidak, sadar atau tidak, bahkan tahu atau tidak, tapi di balik semua kisah sukses di era Legacy Marketing saja pasti ada PDB yang solid. Apalagi di era New Wave Marketing saat ini. --- Ringkasan tulisan ini bisa dibaca di Harian Kompas -- Hermawan Kartajaya

Read More......

Krisis Keuangan, Belajar dari Sejarah

Nurfajri Budi Nugroho - Okezone Krisis keuangan kembali menghantam dunia. Krisis kali ini diawali oleh kekacauan pada pasar kredit, yang meluas hingga mengacaukan stabilitas di pasas modal. Kini, tak kurang beratus-ratus dana talangan dikucurkan pemerintah sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, dan Jepang. Krisis keuangan pernah beberapa kali menghantam perekonomian dunia. Seharusnya, krisis yang pernah terjadi sebelumnya bisa dijadikan pelajaran untuk mengatasi krisis yang terjadi saat ini. Dikutip dari BBC, beberapa pelajaran yang bisa diambil antara lain: pertama, globalisasi telah meningkatkan frekuensi dan penyebaran krisis keuangan; kedua, intervensi sejak awal oleh bank sentral cukup efektif membatasi perluasan krisis, dibandingkan intervensi yang datang terlambat; ketiga, untuk saat ini sulit diprediksi apakah krisis akan memperluas konsekuensi dari perekonomian. Berikut catatan krisis yang pernah terjadi, dalam hitungan mundur:

Kehancuran Bisnis Dot.Com, 2000 Selama akhir 1990-an, bursa saham dibohongi oleh pertumbuhan perusahaan internet seperti Amazon dan AOL, yang seakan-akan menjadi mengantarkan dunia kepada era baru perekonomian. Steve Case, bos AOL, saat mengumumkan pembelian Time WarnerSaham-saham perusahaan dot com melambung tinggi saat listing di bursa Nasdaq, meski kenyataannya hanya sedikit perusahaan yang menghasilkan laba. Guncangan mencapai puncaknya ketika AOL membeli perusahaan media tradisional Time Warner seharga USD200 miliar pada Januari 2000. Namun pada Maret 2000, gelembung bisnis dot com pecah, dan membuat indeks Nasdaq jatuh hingga 78 persen pada Oktober 2002. Krisis perekonomian terus memburuk, yang diikuti kejatuhan investasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. Krisis itu semakin diperburuk oleh serangan 11 September, yang juga membuat pasar keuangan ditutup untuk beberapa waktu. Long-Term Capital Management, 1998 Kolapsnya perusahaan dana lindung nilai (hedge fund) Long-Term Capital Market *LTCM) terjadi selama tahap akhir krisis keuangan dunia, yang dimulai di Asia pada 1997 dan meluas ke Rusia dan Brasil pada 1998. LTCM merupakan perusahaan hedge fund yang didirikan pemenang Nobel Myron Scholes dan Robert Merton untuk menjual-belikan oblikasi. Kedua profesor itu yakin dalam jangka panjang, suku bunga obligasi pemerintahan yang berbeda akan saling konvergen (menyatu), dan perusahaan dana lindung nilai hanya memperjualbelikan perbedaan tingkat suku bunga ini saja. John Meriwether, bos LTCMNamun ketika Rusia gagal membayar obligasinya pada Agustus 1998, investor melarikan modalnya ke obligasi Departemen Keuangan AS. Akibatnya, perbedaan suku bunga di antara obligasi yang ada meningkat tajam. LTCM yang telah meminjam banyak uang dari perusahaan lain, akhirnya mengalami rugi miliaran dolar. Dan dalam rangka untuk melikuidasi posisinya, perusahaan itu menjual obligasi Departemen Keuangan AS, dan membuat pasar kredit AS terperosok dan memaksa kenaikan tingkat suku bunga. Upaya penyelamatan kemudian dilakukan Bank Sentral AS (The Fed) dengan mendorong bank-bank terkemuka di AS, yang kebanyakan memiliki investasi di LTCM, untuk menaruh dana senilai USD3,6 miliar guna menyelamatkan persahaan itu dari kolaps. The Fed pun kemudian memangkas suku bunganya pada Oktober 1998, dan pasar kemudian kembali stabil. LTCM sendiri kemudian dilikuidasi pada 2000. Krisis 1987 Pasar saham AS menderita kejatuhan terbesar dalam sehari pada 19 Oktober 1987, saat indeks Dow Jones terpuruk 22 persen, yang diikuti pasar Eropa dan Jepang. Kerugian dipicu meluasnya keyakinan bahwa para pelaku insider trading dan pengambilalihan perusahaan menggunakan dana hasil utang telah mendominasi pasar, di saat perekonomian AS memasuki perlambatan ekonomi. Saat itu muncul pula kekhawatiran nilai dolar yang terus menurun di pasar internasional. Ketakutan terus tumbuh saat jerman menaikkan suku bunganya, dan mendorong nilai mata uangnya naik. Sistem perdagangan terkomputerisasi yang baru diperkenalkan turut memperparah kejatuhan pasar saham, lantaran perintah penjualan dilakukan secara automatis. Krisis ini menunjukkan bahwa pasar saham global saat ini saling terhubung, dan perubahan ekonomi di satu negara dapat mempengaruhi pasar di seluruh dunia. Aturan mengenai insider trading juga diperketat di AS dan Inggris. Skandal Tabungan dan Pinjaman AS, 1985 Lembaga simpanan dan pinjaman AS merupakan bank lokal yang memberikan pinjaman rumah tangga dan mengambil simpanan dari investor ritel, mirip dengan institusi pengembangan masyarakat di Inggris. Di bawah deregulasi keuangan pada 1980-an, bank-bank lokal ini diperbolehkan terlibat lebih jauh, dan terkadang tidak bijak, untuk melakukan transaksi keuangan dan bersaing dengan bank komersial besar. Pada 1985, banyak dari lembaga itu bankrut. Penarikan dana besar-besaran terjadi pada lembaga simpan-pinjam di Ohio dan Maryland. Pemerintah AS pun akhirnya menjamin sipanan dan terdapat kewajiban keuangan yang besar ketika mereka kolaps. Pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan Resolution Trust Company untuk mengambil alih dan menjual aset institusi simpan-pinjam. Krisis 1929 Krisis yang terjadi pada 1929 -dikenal dengan Black Thursday- merupakan kejadian yang membuat perekonomian AS dan global berada dalam kekacauan, dan menimbulkan Great Depression pada 1930-an. Setelah meningkatnya aksi spekulatif pada akhir 1920-an, terutama oleh kenaikan industri seperti penyiaran radioa dan pembuat mobil, harga saham jatuh hingga 13 persen pada Kamis 24 Oktober. Franklin D RooseveltMeskipun telah ada upaya dari otoritas pasar modal untuk menstabilkan pasar, harga saham jatuh 11 persen pada Selasa 29 Oktober. Saat itu, pasar mencapai titik terendahnya pada 1932, di mana 90 persen nilai saham telah hilang. Butuh waktu 25 tahun sampai akhirnya Dow Jones pulih ke level sebelum 1929. Dampak kehancuran itu terhadap sektor riil sangat beragam, di mana kehilangan kepemilihan saham yang meluas berarti kerugian yang dialami konsumen kelas menengah. Konsumen mengurangi belanjanya seperti mobil dan rumah, sementara sektor bisnis menunda investasi dan menutup pabrik mereka. Pada 1932, perekonomian AS turun hingga separuhnya, dan sepertiga angkatan kerja menjadi pengangguran. Seluruh sistem keuangan AS juga hancur, dengan ditutupnya seluruh sistem perbankan pada 1933 oleh presiden yang baru naik, Franklin Roosevelt. Saat itu Roosevelt mengeluarkan kebijakan New Deal. Overend & Gurney, 1866; dan Barings, 1890 Kegagalan bank utama di London pada 1866 membawa perubahan penting dalam peran bank sentral dalam menangani krisis keuangan. Overend and Gurney merupakan bank diskon yang menyediakan uang bagi bank komersil dan ritel di London, pusat keuangan dunia saat itu. Saat bank itu menyatakan bankrut pada 1866, banyak bank yang lebih kecil tidak bisa memperoleh dana dan turut bangkrut, meski mereka memiliki solvabilitas. Bank of EnglandAkibatnya, reformis seperti Walter Bagehot menyerukan peran baru bagi Bank of England sebagai "lender of last resort" untuk menyediakan likuiditas (cash) ke sistem kuangan selama krisis, guna mencegah kejatuhan satu bank yang akan berefek pada yang lainnya (kegagalan sistemik). Doktrin baru itu diterapkan pada Krisis Barings pada 1890, ketika kerugian yang dialami bank ternama Inggris, Barings, mengalami kerugian investasi di Argentina, dan ditalangi oleh Bank of England untuk mencegah kebangkrutan sistemik pada perbankan Inggris. Negosiasi rahasia oleh Bank of England dan para pelaku keuangan di London memunculkan kesepakatan dana penyelamatan pada November 1890, sebelum jumlah kerugian Barings diketahui publik. (jri) okezone

Read More......

A Tale of Three Communities: Harley-Davidson, Facebook and HTML

“So screw it, let’s ride.” Maaf sebelumnya kalau kata-katanya sedikit ofensif. Tapi, tahukah Anda, siapakah yang mengatakan kalimat tadi? Itulah slogan terbaru dari Harley-Davidson (Harley) yang diluncurkan pada awal Mei 2008 lalu. Kalimatnya memang sedikit ofensif, namun hal ini justru cocok dengan citra pemberontak yang melekat pada perusahaan motor besar asal Milwaukee tersebut.

Slogan tersebut memang mengacu kepada situasi ekonomi Amerika yang kurang baik. Dengan slogan ini, Harley seolah ingin menyatakan, tak usah terlalu mempedulikan situasi saat ini. Nikmatilah hidup dengan mengendarai Harley. Padahal, Harley sendiri juga sedang mengalami masalah. Penjualannya di Amerika menurun hampir 13% selama Q1 2008 lalu.
Harley memang sangat memperhatikan para pelanggannya. Dengan berbagai program pemasarannya, termasuk salah satunya dengan membuat slogan baru tadi, Harley mampu menjalin ikatan emosional dengan para pelanggannya. Harley mampu berempati terhadap apa yang dirasakan oleh pelanggannya. Seperti kata salah seorang pengendara Harley, Ben Berlin, yang sudah berusia 82 tahun dan telah mengendarai Harley selama 60 tahun. Ia bilang, kalau sudah mengendarai Harley, berbagai masalah seakan bisa dilupakan untuk sejenak.
Karena berhasil meraih hati pelanggan ini, tak heran jika Harley bisa memiliki komunitas fanatik yang tergabung dalam Harley Owners Group (HOG). Semula, komunitas ini dibentuk pada tahun 1983 oleh pabrikan Harley di Amerika. Seiring dengan waktu, para anggotanya sendiri yang terdorong untuk membesarkan HOG ini. Karena itu, tidak heran jika saat ini anggota HOG sudah mencapai lebih dari sejuta orang pada lebih dari 1400 chapters di seluruh dunia. HOG memang merupakan contoh klasik dari pembentukan komunitas offline yang sukses.
Sekarang, bagaimana dengan komunitas online? Salah satu contoh sukses tentu saja adalah Facebook. Situs social media yang belum genap berusia 5 tahun ini—Mark Zuckerberg meluncurkan Facebook dari kamar asramanya di Harvard University pada 4 Februari 2004—perkembangannya sangat luar biasa. Saat ini saja jumlah anggota aktifnya sudah mencapai 110 juta orang! Padahal, pada Desember 2004, jumlah anggota aktifnya baru mencapai 1 juta orang.
Perkembangan ini didorong oleh kemudahan menggunakan berbagai aplikasi dan fitur yang ada di Facebook. Selain itu, informasi pribadi dari tiap anggotanya tetap terlindungi dengan baik. Tiap anggota bisa menentukan informasi apa yang ingin di-share, dan kepada siapa saja informasi tersebut ingin di-share. Karena itu, tiap anggota bisa merasa nyaman dan aman mempublikasikan informasi pribadinya tanpa terlalu takut disalahgunakan.
Facebook memang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari para anggotanya. Setiap saat mereka mengakses situs ini untuk mengetahui kabar terbaru dari rekan-rekannya. Facebook bukan lagi sekadar situs web, namun sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Perkembangan Facebook juga tidak terlepas dari jasa komunitas developer yang membangun berbagai aplikasi dengan menggunakan Facebook Platfom. Dengan demikian, perusahaan yang berpusat di Palo Alto, California, ini tidak perlu membuat sendiri berbagai aplikasi untuk para anggotanya.
Komunitas Harley-Davidson dan Facebook ini adalah contoh Social Connector. Social Connector berbasis komunitas inilah yang menjadi jenis Connector ketiga setelah Mobile Connector dan Experiential Connector yang sudah dijelaskan pada tulisan-tulisan sebelumnya.
Nah, selain Harley-Davidson yang bersifat pure offline dan Facebook yang pure online, masih ada satu lagi jenis Social Connector ini, yaitu yang merupakan hibrida antara online dan offline. Salah satu contohnya adalah Komunitas Honda Tiger Indonesia, atau yang online community-nya lebih dikenal sebagai Honda Tiger Mailing List (HTML).
Komunitas ini dibentuk pertama kalinya pada 18 Oktober 2000, yaitu saat milis HTML tersebut dibuat. Berbeda dengan HOG tadi, komunitas ini dibentuk dari bawah, dari para pemilik dan penggemar motor Honda Tiger sendiri. Berawal dari online community inilah, HTML kemudian juga masuk ke offline community, dengan secara rutin mengadakan pertemuan; atau istilahnya kopi darat (kopdar). Karena aktif baik secara online maupun offline inilah, komunitas Honda Tiger bisa berkembang menjadi salah satu komunitas terbesar di Indonesia dengan jumlah anggota milisnya mencapai lebih dari 8000 orang.
Bisa kita lihat, berbagai komunitas di atas—HOG, Facebook, HTML—mampu memberikan pengaruh yang tidak kecil terhadap lanskap bisnis. Inilah yang menunjukkan peranan Connector—dalam hal ini Social Connector—dalam lanskap New Wave Marketing.
--- Ringkasan tulisan ini bisa dibaca di Harian Kompas --
Hermawan Kartajaya

Read More......

Jluntrungan Krisis Subprime di Amerika Serikat

Kalau Langit Masih Kurang Tinggi Oleh: Dahlan Iskan Meski saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta saya ''menceritakan' ' secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan di AS saat ini. Seperti juga, banyak pembaca tetap bertanya tentang sakit liver, meski mereka tahu saya bukan dokter. Saya coba: Semua perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terus berkembang di semua sektor. Terutama labanya. Kalau bisa, laba sebuah perusahaan publik terus meningkat sampai 20 persen setiap tahun. Soal caranya bagaimana, itu urusan kiat para CEO dan direkturnya.

Pemilik perusahaan itu (para pemilik saham) biasanya sudah tidak mau tahu lagi apa dan bagaimana perusahaan tersebut dijalankan. Yang mereka mau tahu adalah dua hal yang terpenting saja: harga sahamnya harus terus naik dan labanya harus terus meningkat. Perusahaan publik di AS biasanya dimiliki ribuan atau ratusan ribu orang, sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tetek-bengek perusahaan mereka. Mengapa mereka menginginkan harga saham harus terus naik? Agar kalau para pemilik saham itu ingin menjual saham, bisa dapat harga lebih tinggi dibanding waktu mereka beli dulu: untung. Mengapa laba juga harus terus naik? Agar, kalau mereka tidak ingin jual saham, setiap tahun mereka bisa dapat pembagian laba (dividen) yang kian banyak. Soal cara bagaimana agar keinginan dua hal itu bisa terlaksana dengan baik, terserah pada CEO-nya. Mau pakai cara kucing hitam atau cara kucing putih, terserah saja. Sudah ada hukum yang mengawasi cara kerja para CEO tersebut: hukum perusahaan, hukum pasar modal, hukum pajak, hukum perburuhan, dan seterusnya. Apakah para CEO yang harus selalu memikirkan dua hal itu merasa tertekan dan stres setiap hari? Bukankah sebuah perusahaan kadang bisa untung, tapi kadang bisa rugi? Anehnya, para CEO belum tentu merasa terus-menerus diuber target. Tanpa disuruh pun para CEO sendiri memang juga menginginkannya. Mengapa? Pertama, agar dia tidak terancam kehilangan jabatan CEO. Kedua, agar dia mendapat bonus superbesar yang biasanya dihitung sekian persen dari laba dan pertumbuhan yang dicapai. Gaji dan bonus yang diterima para CEO perusahaan besar di AS bisa 100 kali lebih besar dari gaji Presiden George Bush. Mana bisa dengan gaji sebesar itu masih stres? Keinginan pemegang saham dan keinginan para CEO dengan demikian seperti tumbu ketemu tutup: klop. Maka, semua perusahaan dipaksa untuk terus-menerus berkembang dan membesar. Kalau tidak ada jalan, harus dicarikan jalan lain. Kalau jalan lain tidak ditemukan, bikin jalan baru. Kalau bikin jalan baru ternyata sulit, ambil saja jalannya orang lain. Kalau tidak boleh diambil? Beli! Kalau tidak dijual? Beli dengan cara yang licik -dan kasar! Istilah populernya hostile take over. Kalau masih tidak bisa juga, masih ada jalan aneh: minta politisi untuk bikinkan berbagai peraturan yang memungkinkan perusahaan bisa mendapat jalan. Kalau perusahaan terus berkembang, semua orang happy. CEO dan para direkturnya happy karena dapat bonus yang mencapai Rp 500 miliar setahun. Para pemilik saham juga happy karena kekayaannya terus naik. Pemerintah happy karena penerimaan pajak yang terus membesar. Politisi happy karena dapat dukungan atau sumber dana. Dengan gambaran seperti itulah ekonomi AS berkembang pesat dan kesejahteraan rakyatnya meningkat. Semua orang lantas mampu membeli kebutuhan hidupnya. Kulkas, TV, mobil, dan rumah laku dengan kerasnya. Semakin banyak yang bisa membeli barang, ekonomi semakin maju lagi. Karena itu, AS perlu banyak sekali barang. Barang apa saja. Kalau tidak bisa bikin sendiri, datangkan saja dari Tiongkok atau Indonesia atau negara lainnya. Itulah yang membuat Tiongkok bisa menjual barang apa saja ke AS yang bisa membuat Tiongkok punya cadangan devisa terbesar di dunia: USD 2 triliun! Sudah lebih dari 60 tahun cara ''membesarkan' ' perusahaan seperti itu dilakukan di AS dengan suksesnya. Itulah bagian dari ekonomi kapitalis. AS dengan kemakmuran dan kekuatan ekonominya lalu menjadi penguasa dunia. Tapi, itu belum cukup. Yang makmur harus terus lebih makmur. Punya toilet otomatis dianggap tidak cukup lagi: harus computerized! Bonus yang sudah amat besar masih kurang besar. Laba yang terus meningkat harus terus mengejar langit. Ukuran perusahaan yang sudah sebesar gajah harus dibikin lebih jumbo. Langit, gajah, jumbo juga belum cukup. Ketika semua orang sudah mampu beli rumah, mestinya tidak ada lagi perusahaan yang jual rumah. Tapi, karena perusahaan harus terus meningkat, dicarilah jalan agar penjualan rumah tetap bisa dilakukan dalam jumlah yang kian banyak. Kalau orangnya sudah punya rumah, harus diciptakan agar kucing atau anjingnya juga punya rumah. Demikian juga mobilnya. Tapi, ketika anjingnya pun sudah punya rumah, siapa pula yang akan beli rumah? Kalau tidak ada lagi yang beli rumah, bagaimana perusahaan bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan penjamin bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan alat-alat bangunan bisa lebih besar? Bagaimana bank bisa lebih besar? Bagaimana notaris bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan penjual kloset bisa lebih besar? Padahal, doktrinnya, semua perusahaan harus semakin besar? Ada jalan baru. Pemerintah AS-lah yang membuat jalan baru itu. Pada 1980, pemerintah bikin keputusan yang disebut ''Deregulasi Kontrol Moneter''. Intinya, dalam hal kredit rumah, perusahaan realestat diperbolehkan menggunakan variabel bunga. Maksudnya: boleh mengenakan bunga tambahan dari bunga yang sudah ditetapkan secara pasti. Peraturan baru itu berlaku dua tahun kemudian. Inilah peluang besar bagi banyak sektor usaha: realestat, perbankan, asuransi, broker, underwriter, dan seterusnya. Peluang itulah yang dimanfaatkan perbankan secara nyata. Begini ceritanya: Sejak sebelum 1925, di AS sudah ada UU Mortgage. Yakni, semacam undang-undang kredit pemilikan rumah (KPR). Semua warga AS, asalkan memenuhi syarat tertentu, bisa mendapat mortgage (anggap saja seperti KPR, meski tidak sama). Misalnya, kalau gaji seseorang sudah Rp 100 juta setahun, boleh ambil mortgage untuk beli rumah seharga Rp 250 juta. Cicilan bulanannya ringan karena mortgage itu berjangka 30 tahun dengan bunga 6 persen setahun. Negara-negara maju, termasuk Singapura, umumnya punya UU Mortgage. Yang terbaru adalah UU Mortgage di Dubai. Sejak itu, penjualan properti di Dubai naik 55 persen. UU Mortgage tersebut sangat ketat dalam menetapkan syarat orang yang bisa mendapat mortgage. Dengan keluarnya ''jalan baru'' pada 1980 itu, terbuka peluang untuk menaikkan bunga. Bisnis yang terkait dengan perumahan kembali hidup. Bank bisa dapat peluang bunga tambahan. Bank menjadi lebih agresif. Juga para broker dan bisnis lain yang terkait. Tapi, karena semua orang sudah punya rumah, tetap saja ada hambatan. Maka, ada lagi ''jalan baru'' yang dibuat pemerintah enam tahun kemudian. Yakni, tahun 1986. Pada 1986 itu, pemerintah menetapkan reformasi pajak. Salah satu isinya: pembeli rumah diberi keringanan pajak. Keringanan itu juga berlaku bagi pembelian rumah satu lagi. Artinya, meski sudah punya rumah, kalau mau beli rumah satu lagi, masih bisa dimasukkan dalam fasilitas itu. Di negara-negara maju, sebuah keringanan pajak mendapat sambutan yang luar biasa. Di sana pajak memang sangat tinggi. Bahkan, seperti di Swedia atau Denmark, gaji seseorang dipajaki sampai 50 persen. Imbalannya, semua keperluan hidup seperti sekolah dan pengobatan gratis. Hari tua juga terjamin. Dengan adanya fasilitas pajak itu, gairah bisnis rumah meningkat drastis menjelang 1990. Dan terus melejit selama 12 tahun berikutnya. Kredit yang disebut mortgage yang biasanya hanya USD 150 miliar setahun langsung menjadi dua kali lipat pada tahun berikutnya. Tahun-tahun berikutnya terus meningkat lagi. Pada 2004 mencapai hampir USD 700 miliar setahun. Kata ''mortgage'' berasal dari istilah hukum dalam bahasa Prancis. Artinya: matinya sebuah ikrar. Itu agak berbeda dari kredit rumah. Dalam mortgage, Anda mendapat kredit. Lalu, Anda memiliki rumah. Rumah itu Anda serahkan kepada pihak yang memberi kredit. Anda boleh menempatinya selama cicilan Anda belum lunas. Karena rumah itu bukan milik Anda, begitu pembayaran mortgage macet, rumah itu otomatis tidak bisa Anda tempati. Sejak awal ada ikrar bahwa itu bukan rumah Anda. Atau belum. Maka, ketika Anda tidak membayar cicilan, ikrar itu dianggap mati. Dengan demikian, Anda harus langsung pergi dari rumah tersebut. Lalu, apa hubungannya dengan bangkrutnya investment banking seperti Lehman Brothers? Gairah bisnis rumah yang luar biasa pada 1990-2004 itu bukan hanya karena fasilitas pajak tersebut. Fasilitas itu telah dilihat oleh ''para pelaku bisnis keuangan'' sebagai peluang untuk membesarkan perusahaan dan meningkatkan laba. Warga terus dirangsang dengan berbagai iklan dan berbagai fasilitas mortgage. Jor-joran memberi kredit bertemu dengan jor-joran membeli rumah. Harga rumah dan tanah naik terus melebihi bunga bank. Akibatnya, yang pintar bukan hanya orang-orang bank, tapi juga para pemilik rumah. Yang rumahnya sudah lunas, di-mortgage- kan lagi untuk membeli rumah berikutnya. Yang belum memenuhi syarat beli rumah pun bisa mendapatkan kredit dengan harapan toh harga rumahnya terus naik. Kalau toh suatu saat ada yang tidak bisa bayar, bank masih untung. Jadi, tidak ada kata takut dalam memberi kredit rumah. Tapi, bank tentu punya batasan yang ketat sebagaimana diatur dalam undang-undang perbankan yang keras. Sekali lagi, bagi orang bisnis, selalu ada jalan. Jalan baru itu adalah ini: bank bisa bekerja sama dengan ''bank jenis lain'' yang disebut investment banking. Apakah investment banking itu bank? Bukan. Ia perusahaan keuangan yang ''hanya mirip'' bank. Ia lebih bebas daripada bank. Ia tidak terikat peraturan bank. Bisa berbuat banyak hal: menerima macam-macam ''deposito'' dari para pemilik uang, meminjamkan uang, meminjam uang, membeli perusahaan, membeli saham, menjadi penjamin, membeli rumah, menjual rumah, private placeman, dan apa pun yang orang bisa lakukan. Bahkan, bisa melakukan apa yang orang tidak pernah memikirkan! Lehman Brothers, Bear Stern, dan banyak lagi adalah jenis investment banking itu. Dengan kebebasannya tersebut, ia bisa lebih agresif. Bisa memberi pinjaman tanpa ketentuan pembatasan apa pun. Bisa membeli perusahaan dan menjualnya kapan saja. Kalau uangnya tidak cukup, ia bisa pinjam kepada siapa saja: kepada bank lain atau kepada sesama investment banking. Atau, juga kepada orang-orang kaya yang punya banyak uang dengan istilah ''personal banking''. Saya sering kedatangan orang dari investment banking seperti itu yang menawarkan banyak fasilitas. Kalau saya mau menempatkan dana di sana, saya dapat bunga lebih baik dengan hitungan yang rumit. Biasanya saya tidak sanggup mengikuti hitung-hitungan yang canggih itu. Saya orang yang berpikiran sederhana. Biasanya tamu-tamu seperti itu saya serahkan ke Dirut Jawa Pos Wenny Ratna Dewi. Yang kalau menghitung angka lebih cepat dari kalkulator. Kini saya tahu, pada dasarnya dia tidak menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk memutar cash-flow. Begitu agresifnya para investment banking itu, sehingga kalau dulu hanya orang yang memenuhi syarat (prime) yang bisa dapat mortgage, yang kurang memenuhi syarat pun (sub-prime) dirangsang untuk minta mortgage. Di AS, setiap orang punya rating. Tinggi rendahnya rating ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan dan boros-tidaknya gaya hidup seseorang. Orang yang disebut prime adalah yang ratingnya 600 ke atas. Setiap tahun orang bisa memperkirakan sendiri, ratingnya naik atau turun. Kalau sudah mencapai 600, dia sudah boleh bercita-cita punya rumah lewat mortgage. Kalau belum 600, dia harus berusaha mencapai 600. Bisa dengan terus bekerja keras agar gajinya naik atau terus melakukan penghematan pengeluaran. Tapi, karena perusahaan harus semakin besar dan laba harus kian tinggi, pasar pun digelembungkan. Orang yang ratingnya baru 500 sudah ditawari mortgage. Toh kalau gagal bayar, rumah itu bisa disita. Setelah disita, bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi dari nilai pinjaman. Tidak pernah dipikirkan jangka panjangnya. Jangka panjang itu ternyata tidak terlalu panjang. Dalam waktu kurang dari 10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejit. Rumah yang disita sangat banyak. Rumah yang dijual kian bertambah. Kian banyak orang yang jual rumah, kian turun harganya. Kian turun harga, berarti nilai jaminan rumah itu kian tidak cocok dengan nilai pinjaman. Itu berarti kian banyak yang gagal bayar. Bank atau investment banking yang memberi pinjaman telah pula menjaminkan rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking yang lain. Yang lain itu menjaminkan ke yang lain lagi. Yang lain lagi itu menjaminkan ke yang beriktunya lagi. Satu ambruk, membuat yang lain ambruk. Seperti kartu domino yang didirikan berjajar. Satu roboh menimpa kartu lain. Roboh semua. Berapa ratus ribu atau juta rumah yang termasuk dalam mortgage itu? Belum ada data. Yang ada baru nilai uangnya. Kira-kira mencapai 5 triliun dolar. Jadi, kalau Presiden Bush merencanakan menyuntik dana APBN USD 700 miliar, memang perlu dipertanyakan: kalau ternyata dana itu tidak menyelesaikan masalah, apa harus menambah USD 700 miliar lagi? Lalu, USD 700 miliar lagi? Itulah yang ditanyakan anggota DPR AS sekarang, sehingga belum mau menyetujui rencana pemerintah tersebut. Padahal, jumlah suntikan sebanyak USD 700 miliar itu sudah sama dengan pendapatan seluruh bangsa dan negara Indonesia dijadikan satu. Jadi, kita masih harus menunggu apa yang akan dilakukan pemerintah dan rakyat AS. Kita juga masih menunggu data berapa banyak perusahaan dan orang Indonesia yang ''menabung'' -kan uangnya di lembaga-lembaga investment banking yang kini lagi pada kesulitan itu. Sebesar tabungan itulah Indonesia akan terseret ke dalamnya. Rasanya tidak banyak, sehingga pengaruhnya tidak akan sebesar pengaruhnya pada Singapura, Hongkong, atau Tiongkok. Singapura dan Hongkong terpengaruh besar karena dua negara itu menjadi salah satu pusat beroperasinya raksasa-raksasa keuangan dunia. Sedangkan Tiongkok akan terpengaruh karena daya beli rakyat AS akan sangat menurun, yang berarti banyak barang buatan Tiongkok yang tidak bisa dikirim secara besar-besaran ke sana. Kita, setidaknya, masih bisa menanam jagung.(*) Sumber: Jawa Pos - Minggu, 28 September 2008 Hidup adalah perjuangan, lupakan kemarin, songsonglah esok yang lebih baik...

Read More......

The Matrix: Always Connected, or Die!

KALAU bicara soal dunia Internet, mustahil untuk melewatkan trilogi film The Matrix. Inilah film yang membedah masalah teknis dan filosofi dalam dunia cyber. Film garapan dua bersaudara Larry dan Andy Wachowski ini sudah menjadi cult film bagi para geeks seperti para hacker dan cyberpunk.

Film fiksi-ilmiah ini ceritanya memang agak-agak rumit; secara garis besar berpusat tokoh jagoan utamanya, Neo alias “The One”, yang diperankan oleh Keanu Reeves. Ia mati-matian melawan para musuhnya, baik itu berupa mesin, manusia, dan terutama “manusia” virtual. Untuk menghadapi para musuh ini, Neo harus keluar-masuk dunia nyata dan dunia virtual.
Memang, dunia nyata dan dunia virtual dalam film ini keduanya digambarkan berdampingan secara paralel. Jika ingin masuk ke dunia virtual, Neo dan rekan-rekannya harus dipasangi sebuah mesin yang disambungkan ke otak mereka. Sementara jika mereka sedang di dunia virtual dan ingin kembali ke dunia nyata, mereka harus mengangkat panggilan telepon yang berasal dari rekan mereka di dunia nyata.
Ketika para tokoh ini ada di dunia virtual, tubuh fisiknya tetap ada di dunia nyata (yang tersambung ke mesin tadi), namun “roh”-nya ada di dunia virtual. Walaupun dunianya sudah terpisah, antara tubuh fisik dan “roh” ini sebenarnya masih menyatu. Jika “roh”-nya yang sedang bertarung melawan para musuh di dunia virtual terluka atau mati, tubuh fisiknya juga bisa terluka dan mati. Sebaliknya, jika tubuh fisiknya terputus sambungannya dengan mesin, “roh”-nya bisa mati.
Nah, The Matrix ini bisa memberikan inspirasi bahwa di era New Wave Marketing ini koneksi (connection) antara dunia virtual (online) dan dunia nyata (offline) harus selalu tersambung tanpa jeda dan putus, always-on connection. Koneksi ini juga harus berupa mobile connection, bukan lagi fixed connection. Karena itu pula dibutuhkan mobile connector agar kita bisa semakin mudah mengakses perubahan-perubahan yang terjadi di lanskap bisnis.
Mobile connector ini bentuknya bisa berupa telepon seluler, laptop, smartphone ataupun perangkat lainnya yang bisa membuat orang melakukan koneksi online secara wireless, misalnya saja perangkat Kindle dari Amazon.com.
Saat ini memang semakin banyak orang yang menjadi road warrior. Lokasi kerja tidak lagi terbatas di kantor, tapi bisa di rumah, di kafe-kafe, di tempat klien, atau bahkan ketika sedang di jalan mengendarai mobil.
Hal ini juga didorong oleh kemajuan teknologi yang membuat perangkat mobile connector semakin nyaman digunakan. Laptop semakin lama beratnya semakin ringan dan daya hidup baterainya juga semakin lama. Smartphone juga semakin mudah digunakan dan fitur-fiturnya semakin mendukung akses Internet. Pendeknya, dari sisi penawaran dan permintaan terhadap mobile connector ini sudah saling mendukung.
Berdasarkan offering-nya, mobile connector ini bisa dibagi menjadi tiga tipe, yaitu Ad-based, Content-based, dan Reward-based. Ad-based adalah berbagai bentuk iklan yang ditawarkan melalui mobile connector kita. Bentuknya bisa berupa teks seperti SMS, gambar, foto, atau bisa juga berupa video.
Namun, mengutip istilah Seth Godin, tentu saja sudah harus berupa permission marketing, bukan lagi interruption marketing. Iklan-iklan yang masuk ke telepon seluler atau ke laptop saat sedang online sedapat mungkin tidak mengganggu dan malah menguntungkan si pemakai.
Hal ini sudah dipraktikkan Virgin Mobile di Amerika tahun 2007 lalu. Operator seluler ini menawarkan pengguna untuk memilih antara menerima iklan SMS atau melihat iklan video 45 detik ketika browsing Internet di ponsel mereka. Sebagai imbalan, mereka mendapatkan talk-time gratis selama 1 menit. Dan bagi mereka yang mau mengisi kuesioner online akan mendapatkan tambahan talk-time gratis selama 5 menit.
Content-based merupakan layanan yang menawarkan konten kepada si pemakai. Misalnya saja yang paling populer adalah ring back tone. Atau kalau di iPhone adalah aplikasi-aplikasi seperti iLightr yang bisa menampilkan nyala api seperti dari korek api untuk dilambai-lambaikan saat konser musik atau Koi Pond yang menampilkan ikan koi yang sedang berenang di kolam.
Sementara reward-based adalah layanan-layanan yang memberikan reward, bukan hanya kepada pelanggan namun juga kepada merchant dalam bentuk diskon atau akumulasi poin. Program MORE (mobile rewards exchange) dari inTouch-nya Pak Kendro Hendra merupakan contoh yang paling nyata dari reward-based ini.
Memang, mobile connector ini telah menjadi salah satu elemen penting dalam lanskap New Wave. Mobile connector sebagai bagian dari Connector membuat perusahaan (Company) semakin mampu mengakses ketiga elemen lainnya: Change, Competitor, dan Customer.
--- Ringkasan tulisan ini bisa dibaca di Harian Kompas --
Hermawan Kartajaya

Read More......

Potensi Resesi Makin Besar

WASHINGTON, RABU - Potensi menuju resesi semakin dimungkinkan. Hal ini terjadi karena efek domino krisis keuangan AS turut memukul secara keras sistem perbankan Eropa. Kawasan ini didera krisis kepercayaan nasabah yang membuat bank diserbu dan kekurangan likuiditas.

Demikian isi laporan IMF dua tahunan, yang diluncurkan di Washington, Rabu (8/10). Krisis keuangan dimulai di AS, dengan kebangkrutan Lehman Brothers adalah pemicu terakhir.
Sebelumnya, krisis keuangan di AS ini diperkirakan tidak akan mengimbas keras kawasan Eropa. Akan tetapi, kepanikan nasabah bank di Eropa telah memicu penarikan dana besar-besaran dan menyebabkan nasionalisasi atas sejumlah bank di Eropa.
Hal ini telah mengakibatkan bank-bank kekurangan likuiditas dan membuat sistem perbankan di Eropa enggan saling meminjamkan dana. Keengganan ini membuat bank tak berjalan normal. Pembiayaan transaksi bisnis, transaksi uang, dan transaksi saham pun terganggu.
Kepanikan nasabah di Eropa telah menjelma menjadi kekhawatiran para investor di bursa, yang membuat mereka memperkirakan kinerja perusahaan akan anjlok. Hal ini membuat bursa saham berjumpalitan.
Penurunan serius
Oleh karena itu, menurut IMF, dunia kini sedang memasuki sebuah penurunan aktivitas ekonomi yang serius dan di ambang kejutan ekonomi paling berbahaya sejak Depresi Besar dekade 1930-an. Ini artinya kegiatan ekonomi trans-Atlantik (Eropa-AS), kekuatan ekonomi terbesar di dunia, telah terganggu.
Hal ini dipicu kebangkrutan sejumlah perbankan Eropa, yang turut membiayai sektor perumahan AS, yang mengalami kelesuan. Akibatnya, sejumlah perbankan diserbu nasabah. Kepanikan nasabah, yang dimulai di Irlandia, menghasilkan efek domino berupa rentetan kebangkrutan bank di seantero Eropa.
IMF meramalkan, pertumbuhan zona euro—15 negara pengguna mata uang tunggal euro— akan menurun menjadi 1,3 persen pada 2008, atau turun dari 2,6 persen yang diperkirakan sebelumnya.
Pertumbuhan ekonomi zona euro juga akan turun lagi menjadi hanya 0,2 persen pada 2009. Sebelum krisis keuangan terbaru melanda zona euro, IMF meramalkan pertumbuhan di kawasan itu masih antara 1,7 dan 1,8 persen pada 2009.
Dampak dari penurunan aktivitas ekonomi trans-Atlantik jelas akan menurunkan daya serap ekonomi negara itu terhadap impor asal Asia. Penurunan ekonomi itu juga akan berdampak pada berkurangnya kemampuan membantu negara lain. Setidaknya, permintaan PBB agar negara-negara kaya menyalurkan bantuan sebesar 0,7 persen dari total nilai produk domestik bruto (PDB) tak bisa dipenuhi. Setidaknya, jumlah absolut bantuan, yang disebut sebagai official development assistance (ODA), bantuan resmi, akan berkurang.
Setidaknya, penurunan ini juga akan menurunkan kemampuan pembiayaan untuk mewujudkan program Millennium Development Goals (MDGs), pemberantasan kemiskinan dengan salah satu targetnya adalah penurunan jumlah penduduk miskin menjadi setengah pada 2015 dari sekitar 1,2 miliar orang sekarang ini.
sumber kompas cetak

Read More......

Krisis AS dan Ekonomi Indonesia

Ketika likuiditas berlimpah di pasar, sebagian besar masyarakat terbuai mimpi memiliki tempat tinggal idaman dengan kredit perumahan yang tidak hanya menarik tingkat bunganya, melainkan juga relatif mudah mendapatkannya.

Gelombang peningkatan permintaan kredit perumahan menjadi semakin besar dan para pelaku bisnis keuangan dengan segala akalnya menciptakan derivasi dari kredit perumahan tersebut dalam bentuk instrumen keuangan yang memikat dan menjanjikan. Investor dan lembaga keuangan dari segenap penjuru dunia berlombalomba membeli produk derivatif tersebut, yang akhirnya mendorong kenaikan harga produk. Ketika produk itu laku terjual,bonus berlimpah datang kepada agen penjual dan tentu saja para pencipta produk derivatif. Di tengah keasyikan jual dan beli produk yang sebenarnya layak dikategorikan junk bond, pemimpin negaranya bermimpi menjadi polisi dunia satu-satunya serta berusaha mendorong perekonomiannya dari sisi penawaran dengan menciptakan medan perang baru nun jauh di benua seberang. Si pemimpin mempunyai hipotesis bahwa perang tidak akan berkepanjangan dan kegiatan ekonomi akibat perang akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi negaranya serta menjaga keamanan pasokan sumber energi. Ketika perang tidak juga berkesudahan, pemerintah dipaksa menambah utang publik dengan terus menjual surat berharga yang lama kelamaan harus menawarkan bunga lebih tinggi untuk tetap bisa menarik investor. Ketika tingkat bunga negara tersebut mulai bergerak naik, terjadi kepanikan di sebagian peminjam kredit perumahan yang sebenarnya tidak terlalu layak mendapat pinjaman,namun mendapat kemudahan dari lembaga peminjam. Kepanikan tersebut berujung pada kesulitan, bahkan gagal bayar dari para peminjam kredit perumahan yang akhirnya menciptakan kredit macet yang cukup signifikan. Karena produk utamanya, yaitu kredit perumahan macet, produk derivatifnya segera mengikuti. Satu per satu lembaga keuangan bank dan bukan bank mengumumkan kerugian yang tidak bisa dibilang kecil dan beberapa di antaranya harus mendapat suntikan dari investor baru atau terpaksa angkat bendera putih dan dinyatakan bangkrut. Cerita di atas jelas bukan sekadar cerita, melainkan kenyataan yang untungnya tidak terjadi di Tanah Air tercinta. Amerika Serikat sebagai perekonomian yang mengagungkan kapitalisme dan liberalisme akhirnya tidak mampu mengendalikan perilaku tamak dan serakah dari para spekulan keuangan dan akhirnya harus mengalami penderitaan ekonomi yang mungkin tidak hanya berlangsung sebentar. Ini tentu menggetarkan masyarakat dunia lantaran kelesuan ekonomi AS berdampak terhadap perekonomian dunia. Dengan produk domestik bruto (PDB) mendekati USD13.900 miliar, kelesuan perekonomian AS akan segera berpengaruh terhadap laju pertumbuhan ekonomi dunia. Yang kemudian menjadi kekhawatiran, seberapa dalam kelesuan perekonomian AS tersebut dan bagaimana penyebaran pengaruhnya ke berbagai penjuru dunia? Dugaan awal, Uni Eropa dan Jepang merupakan unit perekonomian yang harus segera menyelamatkan diri. Mereka mungkin harus punya paket khusus penyelamatan ekonomi seperti yang akhirnya disetujui Kongres AS pekan lalu dengan paket USD700 miliar. China juga diperkirakan terkena dampak negatif lantaran banyak membelanjakan uangnya untuk surat utang Pemerintah AS. Dengan globalisasi dan keterbukaan ekonomi yang membuat setiap unit perekonomian di dunia terkait satu sama lain, sangat sulit mengusir kekhawatiran bahwa Indonesia tidak akan terlalu terpengaruh oleh krisis tersebut. Ketika krisis kredit perumahan pertama kali terkuak, beberapa lembaga internasional melihat bahwa Indonesia adalah salah satu dari beberapa negara Asia yang relatif terbebas dari dampak negatif krisis kredit tersebut. Bahkan negara tetangga di ASEAN seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand mengalami dampak krisis lebih besar dibandingkan Indonesia. Tetapi kesimpulan tersebut mungkin tidak sama sepenuhnya ketika krisis menjadi lebih besar di AS dengan dampak pada kebangkrutan dan runtuhnya kredibilitas sektor finansial di sana. Apabila perekonomian AS terpuruk sampai pertumbuhan negatif, akan sangat sulit mencari suatu perekonomian di dunia yang terbebas dari pengaruh negatif krisis. Dampak langsung terhadap sektor finansial Indonesia akan terlihat dari berkurangnya investor portofolio asing di pasar modal, seperti tercermin dari ambruknya indeks harga saham gabungan (IHSG) serta prospek yang suram pemegang obligasi. Kecilnya peran investor lokal serta perilaku investor lokal yang lebih menjadi pengikut investor asing membuat upaya pemulihan pasar modal Indonesia menjadi agak berat. BUMN maupun perusahaan swasta yang terdaftar di pasar modal akan sangat berhati-hati mengeluarkan kebijakan buyback di tengah ketidakpastian kondisi finansial dunia. Dengan fundamental ekonomi makro yang tergolong stabil serta kondisi sebagian besar perusahaan terbuka yang solid,sulit rasanya mempercayai tren turunnya IHSG yang seolah tanpa dasar. Selain menggalakkan sumber dana investor lokal, menjaga kredibilitas pasar modal Indonesia mungkin bisa menahan sebagian penarikan investor asing atau bahkan bisa menarik arus dana dari pasar modal di AS dan Eropa yang sedang mengalami krisis. Dampak langsung lainnya adalah pada sumber pembiayaan defisit APBN yang saat ini lebih banyak bertumpu pada pinjaman dalam negeri melalui penerbitan surat utang negara (SUN). Dengan mengeringnya likuiditas dunia serta kejatuhan pasar modal dunia, agak riskan rasanya mengandalkan pembiayaan defisit APBN 2009 dengan SUN. Suka atau tidak suka, sumber dana murah seperti pinjaman multilateral atau bilateral harus dipertimbangkan lagi. Mengingat pada 2009 bagi Indonesia adalah tahun politik, pemerintah perlu menjaga asas kedaulatan (sovereignty) dalam pinjaman seperti ini agar Indonesia tidak lagi terbawa dalam arus ketergantungan pinjaman luar negeri. Dampak tidak langsung, dalam jangka waktu enam bulan sampai satu tahun,adalah potensi penurunan permintaan ekspor Indonesia yang masih bergantung pada ekspor komoditas. Sebelum krisis keuangan AS meledak, laju pertumbuhan ekspor Indonesia sudah mulai melambat seiring turunnya harga minyak bumi yang ikut menyeret penurunan harga minyak sawit mentah (CPO) dan batu bara. Apabila perekonomian AS dan dunia melemah, ekspor Indonesia juga berpotensi makin pelan pertumbuhannya sehingga neraca perdagangan tidak lagi bisa mencatat surplus signifikan seperti periode sebelumnya. Selain meningkatkan daya saing serta diversifikasi produk ekspor Indonesia, diversifikasi negara tujuan juga perlu diupayakan. Kalau neraca perdagangan sulit diperbaiki, alternatifnya adalah memperbaiki neraca jasa dengan penekanan pada peningkatan pariwisata dan ekspor tenaga kerja. Upaya di atas harus ditambah dengan penguatan neraca modal melalui peningkatan arus modal asing atau investasi asing yang berdimensi jangka menengah dan panjang. Investasi portofolio jangka pendek mungkin akan berkurang, sehingga upaya perbaikan iklim investasi tetap relevan agar investasi jangka menengah dan panjang dari luar negeri mau singgah ke Indonesia. Munculnya antusiasme dari investor asing secara tidak langsung akan mendorong kebangkitan investasi domestik, terutama lewat repatriasi dana-dana orang Indonesia yang masih diparkir di luar negeri.Pemberian insentif perpajakan serta penuntasan status kawasan khusus akan dapat membantu peningkatan arus modal asing. Segala macam upaya yang sudah disebut harus ditunjang oleh stabilitas makro yang ketat dalam bentuk nilai tukar rupiah yang stabil serta inflasi yang terkendali. Bank Indonesia dan pemerintah harus fokus pada dua hal tersebut. Hal itu agar nilai tukar kompetitif dan dapat mendorong ekspor, serta inflasi tidak terlalu tinggi sehingga tidak menggerus daya beli masyarakat umum. Pertumbuhan ekonomi 2009 diperkirakan akan berkisar 5-6persen mengingat dalam kondisi yang sangat berat, tahun 2008 ini, perekonomian masih bisa tumbuh sekitar 6,2 persen. Sangat sulit melampaui 6,2 persen, tetapi tidak ada alasan untuk tidak berusaha agar pertumbuhan 2009 masih dapat dipertahankan pada tingkat 6 persen. (*) *)Guru Besar dan Dekan Fakultas Ekonomi UI Prof Bambang PS Brodjonegoro (//rhs)

Read More......

The Future is Now: Lehman Brothers is Gone!

COBA, siapa yang percaya? Semua orang di seluruh dunia terkejut! Bagaimana tidak. Lehman Brothers, bank investasi terbesar keempat di AS, akhirnya jatuh bangkrut pada 15 September 2008 lalu dengan meninggalkan hutang sebesar 613 milyar dollar AS! Sebagian aset perusahaan ini di Amerika Utara—termasuk gedung kantor pusatnya di New York—akhirnya dibeli oleh Barclays. Sementara divisi bank investasinya yang ada di Eropa dibeli oleh Nomura.


Lehman Brothers tidak sendirian. Bank investasi terkemuka lainnya, Merrill Lynch, mengalami kerugian sebesar 51,8 milyar dollar AS. Merrill Lynch akhirnya diakuisisi oleh Bank of Amerika sebesar 50 milyar dollar AS. Dua bank investasi besar lainnya, Goldman Sachs dan Morgan Stanley, juga akhirnya berubah status menjadi bank komersial.

Sementara itu, American International Group (AIG), perusahaan asuransi terkemuka dunia dan perusahaan terbesar ke-18 di dunia dalam daftar Forbes Global 2000 tahun 2008, juga mengalami krisis likuiditas. AIG pada 16 September lalu akhirnya ditolong oleh The Fed yang memberikan talangan (bail-out) sebesar 85 milyar dollar AS, dengan imbalan 79,9% saham AIG. Ini merupakan talangan terbesar dari pemerintah kepada perusahaan swasta dalam sejarah AS.

Krisis ini juga melanda sejumlah perusahaan jasa keuangan yang walaupun namanya mungkin agak asing bagi kita di Indonesia, namun merupakan perusahaan besar di AS. Fannie Mae dan Freddie Mac, dua perusahaan pembiayaan perumahan terbesar di AS, juga diambil alih pemerintah karena mengalami kesulitan keuangan. Perusahaan lainnya, Washington Mutual (WaMu), bank simpan pinjam terbesar di AS, juga kolaps dan pada 25 September lalu dibeli oleh JPMorgan Chase dengan harga murah, ‘hanya’ sebesar 1,9 milyar dollar AS.

Bisa kita lihat, tsunami keuangan ini membuat sejumlah perusahaan raksasa tadi akhirnya tidak mampu lagi bertahan. Padahal, perusahaan-perusahaan ini punya sejarah yang sangat panjang. Lehman Brothers berdiri sejak tahun 1850, sementara Merrill Lynch sudah ada sejak tahun 1914, AIG sejak tahun 1919, dan WaMu sejak 1889.

Reputasi mereka juga sangat baik. Lehman Brothers dan Merrill Lynch merupakan perusahaan-perusahaan yang menjadi idaman para lulusan ivy league di AS. Dan siapa yang tidak kenal AIG, yang logonya terpampang besar di kaos klub Setan Merah, Manchester United?

Ya, inilah krisis keuangan terbesar dalam sejarah sejak peristiwa depresi besar era 1930-an. Untuk mengatasi krisis keuangan ini, Pemerintah AS sampai-sampai meluncurkan paket penyelamatan bernilai fantastis, 700 milyar dollar AS! Bisa kita lihat, lanskap New Wave makin lama makin gampang berubah.

Perusahaan-perusahaan besar yang sudah punya sejarah panjang dan penuh dengan track record jadi tidak berarti apa-apa kalau tidak cepat mengantisipasi perubahan dan langsung melakukan tindakan. Ini menunjukkan bahwa yang diperlukan perusahaan saat ini adalah Sense-Interpret-Decide-Act (SIDA), bukan lagi Plan-Do-Check-Act (PDCA).

Dalam bukunya Adaptive Enterprise, Stephan Haeckel menjelaskan bahwa perusahaan harus mampu merasakan dan menanggapi (sense-and-respond) apa-apa yang sedang dan akan terjadi di pasar. Perusahaan tidak bisa lagi sekadar membuat dan menjual (make-and-sell) produknya sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Paradigma “sense-and-respond” ini membuat sebuah perusahaan bisa menjadi adaptive enterprise di tengah perubahan lanskap bisnis yang semakin tidak bisa diprediksi.

Sementara, paradigma “make-and-sell” hanya membuat sebuah perusahaan menjadi efficient enterprise karena perubahannya masih bisa diprediksi. Di sini PDCA mungkin masih bisa berjalan karena PDCA yang dipopulerkan oleh Dr. W. Edwards Deming ini sebenarnya bertujuan untuk meningkatkan kinerja sebuah proses yang telah direncanakan, bukan melakukan perubahan secara mendasar.

Kepemimpinan dalam adaptive enterprise berupaya secara aktif mencari sinyal-sinyal perubahan dari luar. Karena itulah, sistem yang ada merupakan sistem terbuka (open system). Sementara kepemimpinan pada efficient enterprise cenderung mengabaikan sinyal-sinyal perubahan dari luar, karena itulah sistem yang ada merupakan sistem tertutup (closed system). Maka, dengan semakin tingginya ketidakpastian, maka strategi yang paling tepat adalah strategi yang membuat sebuah perusahaan bisa menjadi adaptif, yang bisa sense early and respond quickly.

Karena itulah, sebuah perusahaan memerlukan C kelima selain Change, Competitor, Customer, dan Company dalam menganalisis lanskap bisnis di era New Wave. C kelima ini adalah Connector. Dengan demikian, perusahaan akan mampu dengan cepat melakukan adaptasi terhadap perubahan yang terjadi.

Hermawan Kartajaya

--- Ringkasan tulisan ini bisa dibaca di Harian Kompas --

Read More......